TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
RINTIK HUJAN, NYATA TAPI TAK BISA DIGENGGAM



“Sssttttt …, udah siapa yang ke kasir,” Julia memberi uang pas untuk makanannya.


Julia, Fanny, Yuni dan Vita menunggu di depan rumah makan sambil mengobrol sementara Nia giliran ke kasir. “Udah dibayarin pak Harun,” Nia berkata saat tiba di depan teman-temannya.


Mereka segera masuk ke mobil Vita, dan nanti di mobil Vita baru Nia akan mengembalikan uang temannya masing-masing. ‘Apa sih maksudnya? Aku harus bilang apa?’ Fanny jadi serba salah.


“Nia, kamu yang ucapin terima kasih ama pak Harun ya. Atas nama kita. Aku rasanya enggak enak kalau ucapin sendiri. Nanti ada yang salah sangka dikira aku dekat ama dia,” Vita langsung meminta Nia yang menyampaikan ucapan terima kasih dari mereka pada Harun.


“Ih, siapa yang salah sangka,” Fanny langsung menjawab Vita tanpa berpikir lebih dulu.


“Cie … cie … cie, ngerasa nih ya?” goda Julia pada Fanny.


‘Baik, kita ketemu di MELODY CAFE, pukul 18.00 hari ini,’ akhirnya Fanny menjawab chat Harun setelah dia sampai di ruangannya. Entah apa yang akan Harun ceritakan nanti. Tapi Fanny tak akan pernah lupa kejadian pahit ketika itu.


Fanny POV 


Saat itu hari bahagia bagi Fanny, dia yang baru lulus kuliah mendapat berita diterima kerja setelah lulus test tertulis dan wawancara. Dia menempati jabatan wakil III deputy HRD di perusahaan yang ditujunya di Padang. Dengan hati berbunga dia menuju rumah tunangannya untuk memberitahu berita bahagia. Fanny sudah tunangan delapan bulan lalu dengan Harun. Pintu pagar tak dikait sehingga tanpa perlu membuka Fanny masuk rumah calon mertuanya. Dia membawa bingkisan buah.


“Ayah enggak mau tahu. Harun harus tunangan dengan Cellia agar semua masalah Ayah selesai!” Fanny mendengar calon ayah mertuanya membentak istrinya.


“Indak biso Da. Harun sudah tunangan dengan Fanny. Mereka saling sayang sudah tujuh tahun sejak Harun SMA kelas tiga,” calon ibu mertuanya tak mau kalau Harun harus berpisah dengan Fanny. ( Indak biso Da = tidak bisa Kak).


“Harus! Kalau bukan dia, lalu siapa? Sedang kita tak bisa membayar semua hutang-hutang itu!” terdengar pintu dibanting dan isak tangis perempuan. Fanny langsung meninggalkan rumah itu. Dia hanya meletakkan bingkisan buah yang dibawanya di teras rumah.


Sejak hari itu Fanny menghindar dari Harun. Selain itu dia mulai bersiap menyesuaikan ritme hidupnya dengan jam kerja kantoran yang baru dia alami. Hari ketiga pulang kerja Fanny terpana! Dengan jelas Harun dan Cellia ada di depannya. Senyum manis Cellia tersungging lebar. Mereka satu payung dan Cellia memeluk pinggang Harun mesra.


“Fanny!” suara teriakan Harun tak digubris Fanny, dia berlari cepat dan segera naik angkot yang lewat didepannya tanpa tahu tujuan angkot tersebut. Setelah agak jauh baru dia turun dan naik taxi ke rumah pamannya. Sengaja malam itu Fanny tak pulang ke rumahnya.


“Kamu serius Nak?” tanya sang paman saat Fanny menceritakan dia mau memutuskan pertunangan dengan Harun. Dia juga cerita dia mendengar semua pembicaraan kedua orang tua Harun. Serta yang barusan dia lihat, Harun dan Celia berjalan berdekapan.


“Serius Paman,” jawab Fanny yakin.


“Baik, Paman akan urus semuanya,” sang paman langsung menghubungi adik perempuannya. Mama Fanny. Dalam kekerabatan mereka paman dari pihak ibu lebih kuat daripada suara ayahnya.


Esoknya keluarga Fanny mendatangi rumah Harun dan membatalkan pertunangan anaknya. Harun yang mendengar kalau Fanny mengetahui perjodohan dirinya dengan Cellia kaget. Karena dia sendiri belum tahu. Memang kemarin sepulang kerja dia melihat ada bingkisan buah di teras. Dan saat dia tanya pada kedua orang tuanya tak ada yang tahu milik siapa. “Jadi benar Ayah akan mengumpan aku untuk melunasi hutang-hutang usaha Ayah?” geram Harun bertanya pada ayah tirinya di depan keluarga Fanny. Dia tak ingin keluarga Fanny mengira dirinya setuju dengan perjodohan itu.


“Tak perlu mengelak nak Harun. Jelas-jelas kemarin Fanny melihat kamu berdekapan erat dengan Cellia dan wajah kalian bahagia tertawa bersama. Kalau kamu tak suka dengan Cellia tentu kamu keberatan berdekapan dimuka umum dan tertawa bahagia seperti itu,” ketus bibi Fanny mencela Harun yang kepergok Fanny.


Empat hari kemudian, Fanny berangkat ke Jakarta diantar istri pamannya. Sejak pertemuan di jalan itu Harun tak pernah bisa menemui Fanny dimana pun. Fanny seperti hilang ditelan bumi.


Fanny end POV 


Laura baru mendengar kalau Ilyas dirawat karena demam berdarah. Dia mengajak Nazwa untuk menemaninya menengok Ilyas. Mereka berangkat sesudah Nazwa les musik. “Assalamu’alaykum,” Laura masuk ruang rawat Ilyas. Saat itu ada 2 orang kerabat Ilyas berada di ruangan itu.


“Wa’alaykum salam,” jawab 3 orang lelaki disana. Rupanya yang datang adalah kakak ipar Ilyas dan sepupunya. Ilyas memperkenalkan Laura pada kedua tamunya.


“Hallo Nazwa,” sapa Ilyas saat melihat siapa yang datang bersama Laura.


“Hello Om, cepet sembuh ya,” balas Nazwa sambil tersenyum manis.


“Tadi pagi daddymu ke sini,” Ilyas memberitahu Laura dan Nazwa.


“Iya, aku baru tahu dari dokter Syahrul kalau kamu enggak bisa ke panti hari ini karena sakit dan dia sedang berada di rumah sakit ini karena ada keperluan. Kamu sakit sudah 3 hari bukannya ngabari,” Laura memberitahu kalau dia tahu dokter Ilyas sakit dari dokter Syahrul.


“Aku juga enggak ngasih tahu dokter Syahrul. Dia sedang disini lalu ngobrol-ngobrol dengan temannya. Lalu dia tanya apa aku dinas hari ini. Ketahuan deh kalau aku sedang sakit,” jelas Ilyas. “Tapi lusa kemungkinan bisa pulang koq. Dan minggu depan sudah bisa aktivitas lagi.”


“Aku enggak bisa lama ya, Nazwa baru pulang les, dia cape dan besok harus sekolah,” Laura segera pamit.


“Terima kasih ya udah nengokin,” balas Ilyas senang. ‘Kita memang lebih enak seperti ini, saling sapa tanpa punya rasa bersalah seperti saat aku mengejarmu. Kita lebih enak ngobrol bahkan bercanda.’ Ilyas merasa mencintai Laura seperti rintik hujan. NYATA TAPI TAK BISA DIGENGGAM.


Laura akan mengantar Nazwa langsung ke rumah. Tadi saat membeli buah untuk Ilyas, dia juga sekalian membelikan buah untuk bi Ganis dan Syahrul. “Mommy enggak bisa lama ya, say hello sama Fahri lalu langsung pulang. Enin sedang kurang sehat jadi Mommy harus langsung pulang.” Laura memberitahu Nazwa terlebih dahulu agar gadis itu tak berharap lebih. Bu Ganis sedang kurang sehat.


======================================================================== 


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta