TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
SARAPAN NASI BAKAR



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta  ***


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Mom aku mau yang pedas,” pinta Fahri pada Laura.


“Yang pedas yang dikotak merah De. Yang itu tiga bungkus yang enggak pedas,” sahut Laura. Dia tahu keluarga Syahrul penyuka pedas. Apa karena keturunan dari Sumatera Barat yang terkenal dengan masakan pedas? Entahlah, tapi Farhri dan Nazwa memang penyuka pedas seperti ayah mereka.


“Mau pakai sendok Dadd?” tanya Laura pada Syahrul. Memang kadang didepan Nazwa dan Fahri dia menyebut Syahrul dengan daddy. Malah tak pernah dia menyebut Abang sebagai panggilan untuk duda anak dua itu.


“Enaknya pakai tangan aja,” Syahrul dan anak-anak tadi sudah mencuci tangan dengan sabun dikran air yang terletak disudut saung.


“Yang ini ayam. Yang ini udang,” Laura memberitahu isi nasi bakar mereka kali ini.


“Minggu lalu aku makan nasi bakar isi teri, enak lho,” Syahrul memberitahu Laura.


“Pada dasarnya bisa isi apa aja sih. Dua minggu lalu kami bikin yang isi ikan tongkol pedas,” jawab Laura.


“Mom aku mau ikut metik pare,” Fahri melihat para pekerja sudah mulai panen pare dan sawi putih.


“Habiskan dulu satu bungkus baru ikut panen. Dan nanti makan lagi sehabis panen ya,” Laura tak melarang anak lelaki itu ingin ikut panen. Dan kali ini Fahri juga sudah siap dengan sepatu boot sehingga akan aman dikebun.


“Iya Mom,” Fahri pun kembali memakan nasi bakar pedasnya.


“Abang enggak bikin foto dan video?” tanya Laura saat mereka tinggal berdua di saung.


“Foto dan video kita berdua aja ya?” pinta Syahrul.


“Ih … kemaren komplain enggak diajak foto dan bikin video. Sekarang malah cuma duduk di saung. Ayok ah kita gabung ama anak-anak,” Laura bangkit dan bersiap menuju tempat Fahri dan Nazwa yang sedang memetik pare.


Syahrul memegang telapak tangan Laura dan mereka bergandengan tangan mendekati Nazwa. Dan dengan cepat Nazwa mengabadikan moment langka itu. Beberapa kali Nzwa mengabadikan kedua orang itu tanpa mereka sadari.


‘Daddy lihat Kak. Makasih,’ batin Syahrul, ternyata dia sadar putrinya mengabadikan dia dan Laura.


“Ade bisa?” tanya Laura melihat Fahri ikut panen sawi putih.


“Bisa Mom. Gampang koq,” sahut Fahri dengan pede-nya.


“Hati-hati itu pisaunya tajam ya,” Laura memperingatkan lelaki kecil yang sangat bersemangat ikut panen kali ini. Syahrul segera membuat video saat Fahri panen sawi putih dan sayuran lainnya. Dia juga membuat video Nazwa dan Laura yang memetik kacang panjang.


“Daddy ikut panen. Biar Kakak yang bikin video dan fotonya,” Nazwa kembali ingin membuat kenangan manis ini terekam dalam kamera miliknya.


Syahrul pun segera dekat dengan Laura dan banyak foto yang Nazwa buat. Ada yang candid ada yang memang pasangan itu berpose bersama, dengan pengarahan gaya oleh Nazwa. Laura dan Syahrul bukan tak pandai bergaya. Mereka hanya sungkan bergaya mesra berdua.


***


Julia memilih banyak barang yang sudah dia catat. Selain itu dia juga membeli barang yang belum ada dalam catatannya sebagai item baru untuk model dagangannya. Dan Bastian tak banyak protes saat tak boleh membayar belanjaan kekasihnya itu. “Honey ini bagus enggak buat Amah?” tanya Julia.


“Bagus, tapi kayaknya warnanya terlalu mencolok,” sahut Bastian.


“Iya ya, kalau buat bubu dan amah harus warna yang calm,” Julia pun setuju pada pendapat Bastian. Kalau yang bukan dagangan seperti itu, Julia mau dibayari. Begitu pun oleh-oleh untuk Yogi dan Topan serta Guntur.


“Apa’ mau enggak ya kalau aku belikan ini?” tanya Julia ditoko lainnya.


“Dia enggak suka yang seperti itu. Kalau kamu mau belikan, dia suka yang seperti ini,” sahut Bastian lagi. Walau kata-katanya Julia yang membelikan. Tetap saja dia yang ngotot membayarkan.


“Pesanan oleh-oleh genks dan Harun sudah Babe?” tanya Bastian.


“Belum. Kita belum ke toko yang jual pesanan mereka,” sahut Julia. “Aku fokus di barang dagangaanku dulu. Oleh-oleh belakangan kecuali yang terlihat.”


Bastian butuh dua kali balik dari mobil ke kamar  agar bisa membawa semua belanjaan Julia untuk masuk ke kamar Dade. “Kamu belanja sebanyak ini saat pergi pertama kali dulu?” tanya Bastian setelah dia sampai di ruang tamu. Dia sedikit terengah-engah.


“Hahaha, itu baru hari pertama lho. Cape ya?” Julia menyodorkan segelas juice untuk Bastian.


“Belum packingnya nanti,” Dade pun menambah info perjuangan Julia melakukan kegiatannya itu.


“Mau makan lagi?” tanya Julia. Dia kasihan melihat Bastian kecapean.


“Enggak ah. Masih kenyang,” sahut Bastian sambil melihat televisi yang Dade setel. Kakak sepupu Julia itu sedang menonton siaran musik.


“Aku tadi bikin lasagna. Kalau kalian mau makan tinggal panaskan saja di micro wave,” Dade memberitahu menu makan malamnya tadi.


“Baiklah. Aku panaskan saja buatku,” sahut Julia. Dia tahu bila sudah terhidang Bastian pasti ikut makan dengan dirinya.


***


“Hati-hati ya Yas,” Novia menasihati adiknya ketika Ilyas pamit padanya siang ini sehabis dia pulang mengajar.


“Iya Teh, salam buat kan Kusdi,” Ilyas mbalas pesan sang kakak. Tadi pagi dia sudah pamit pada kakak iparnya itu.


“Saya pamit Bu,” Namira pun salim pada Novia.


“Kamu itu adik ipar saya. Jangan manggil Bu lagi. Panggil Teteh seperti Ilyas,” sahut Novia pada tunangan adiknya itu.


‘Tunangan?’


Ya! Semalam Ilyas dan Namira resmi tunangan hanya didepan Novia, Kusdi dan dua bibik saja. Itu hanya simbolis agar Namira tak berpaling lagi. Sengaja Ilyas melakukan pertunangan paksaan.


Flash back on


Sehabis makan malam, dan anak-anak sudah tidur Ilyas minta waktu pada Novia dan Kusdi.


“Kang, saya mau bicara,” pinta Ilyas pada Kusdi.


“Mangga wae,” sahut Kusdi santai ( mangga wae \= silakan saja ).


“Diruang depan wae Kang. Sekalian saya panggil teteh,” Ilyas dan Kusdi saat itu sedang duduk diteras karena Kusdi sedang merokok. Novia melarang suaminya merokok didalam rumah.


“Sok atuh,” Kusdi pun bersiap untuk masuk ke rumah. ( sok atuh \= agak sulit mencari padanan kata ini, tapi kira-kira : silakan saja ).


Ilyas lalu meminta kedua bibik membuatkan minuman dan menggoreng risol buatan Namira. “Nanti ikut duduk didepan ya Bik,” pinta Ilyas.


“Teh, saya mau bicara. Kang Kusdi sudah menunggu diruang depan,” Ilyas minta Novia untuk ke ruang depan.


“Honey, ditunggu didepan. Aku mau pamit karena besok siang kita pulang. Takutnya teteh dan akang belum pada pulang kerja,” Ilyas meminta Namira juga kedepan dengan dirinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.


Napennya : AVEEIIII


Judul cerita : AMBIL SAJA DIA UNTUKMU


Cerita singkatnya seperti ini :


Salma seorang wanita karir di bidang entertainment, harus rela meninggalkan dunia karirnya untuk mejadi ibu rumah tangga yang sepenuhnya.


Menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak kembar sangat tidak mudah bagi ia yang belum terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga. Salma juga harus menghadapi tuntutan suami yang menginginkan figur istri sempurna seperti sang Ibunda.


Di saat ia masih berjuang menopang ekonomi keluarga karena suami sempat mengalami PHK, ia harus menerima kenyataan jika suaminya ingin menikahi sahabatnya.