
HOOLLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
SEHAT SELALU YA SAMPAI DIMALAM INI
SELAMAT MEMBACA
Laura mundur agar Nazwa lebih dekat dengan Syahrul. Tapi kembali Syahrul marah karena mengira Laura akan meninggalkannya.
“Uuuh …,” tolak Syahrul sambil menggeleng. Dia tak ingin jauh dari Laura.
“Mommy enggak kemana-mana. Mommy cuma mundur biar Kakak bisa peluk Daddy dengan enak, enggak keganggu,” bisik Laura.
“Kan sudah dibilang jangan banyak marah dan jangan menggeleng,” bisik Laura. Dia kembali mendekap Syahrul.
“Dadd, Mommy belum sarapan. Apa Daddy mau Mommy sakit?” tanya Nazwa pelan. Dia melihat sang ayah sangat bergantung pada Laura.
“Jawab dengan suara ya, jangan dengan menggeleng atau mengangguk. Daddy harus jaga kondisi tubuh Daddy,” bisik Laura.
“Ga …,” jawab Syahrul pelan.
“Enggaknya buat apa? Enggak boleh keluar sarapan atau enggak mau Mommy sakit?” pancing Nazwa.
“Ga bo … leh sa … sa …kit,” jawab Syahrul dengan sulitnya.
“Kalau begitu Mommy keluar sarapan dulu ya, biar Mommy enggak sakit. Kakak sama Oma nanti yang temani Daddy disini,” bujuk Nazwa lembut.
“Se … ben … tar aja,” Syahrul memberi izin Laura meninggalkannya sebentar.
“Iya Mommy keluar sebentar ya. Habis sarapan Mommy akan masuk lagi,” akhirnya Laura bisa mendapat tiket untuk keluar ruang ICU itu.
“Kak, daddy jangan boleh banyak gerak kepalanya dan jangan diajak ngobrol. Dia hanya boleh mendengar cerita kita aja ya. Ajak cerita yang gembira dan bahagia agar dia tidak terpancing emosinya,” bisik Laura sebelum dia keluar ruangan.
***
“Kamu sudah sarapan De?” tanya Laura pada Fahri.
“Sudah Mom,” Fahri sedang minum susuu coklat panas yang dia beli di mini market depan ruang tunggu ICU. Tadi sekalian Claudia membeli untuk Nazwa dan Laura. Sedang Claudia membeli teh panas untuk dirinya dan kopi untuk Gerry.
“Mommy makan dulu ya. Daddy rewel kalau ditinggal kelamaan,” Laura mengambil nasi uduk yang Claudia bawa. Ada tempe dan tahu goreng serta ayam bakar kecap sebagai lauk. Claudia membawa yang ada di dapur karena dia tak berencana datang sepagi ini. Sambal untuk nasi uduk, kerupuk serta dadar telur belum siap. Sedang ayam bakar adalah menu makan malam yang dipanaskan di micro wave. Claudia membawakan sambal terasi ulek sachet untuk rasa pedasnya.
“Kak, ini obatnya,” Gerry yang baru kembali dari apotek menyerahkan obat pada Laura.
“Kamu makan dulu De. Itu tadi mama membelikanmu kopi,” ada dua lelaki yang sama-sama dipanggil ‘ade’ didepan Laura saat ini.
‘Mom. Daddy mulai rewel,’ chat dari Nazwa masuk.
“Jalu, jawab chat kakak, tangan Mommy kotor. Bilang sebentar lagi Mommy selesai makan,” Laura meminta Fahri dan dia memanggilnya dengan panggilan sayang jalu agar tak tertukar dengan Gerry.
“Tenang aja Mom. Mommy bahkan belum minum susunya,” jawab Fahri.
“Kita bisa tenang, tapi Daddy mu tidak sayang. Sekarang kita enggak boleh bikin dia emosi,” sahut Laura. Dia bergegas menghabiskan makannya.
“Nanti kalau daddy sudah dipindah ke ruang perawatan. Dia akan lebih tenang. Karena kita semua bisa berada didalam,” lanjut Laura lagi. Dia mengelap tangannya dengan tissue basah berkali-kali dan menyeruput susuu coklat yang mulai hangat.
Laura masuk ruang rawat ICU, Nazwa dan Claudia keluar. Saat ini dia akan memandikan Syahrul sebelum lelaki itu kembali tidur.
“Da … mau,” Syahrul menolak.
“Mommy tiap hari membasuh badan Daddy. Enggak perlu malu. Nanti bagian terlarang bukan Mommy yang basuh,” Laura menjelaskan pada Syahrul. Baru wajah lelaki itu terlihat santai.
“Nah, sekarang segar kan? Kita lanjut sarapan ya,” ajak Laura setelah petugas laki-laki selesai membantunya mengelap bagian terlarang dan memakaikan diapers pada Syahrul. Llau dilanjut menggunakan pakaian rumah sakit.
“Bismillah,” Laura memulai menyuapi bubur sumsum pada Syahrul. Tiga minggu tak sadar, tentu perut tak bisa langsung diisi makannya yang harus keras dicerna. Walau bubur nasi sekali pun.
Laura tak bisa memaksa ketika Syahrul meminta berhenti makan.
‘Lumayan, habis separo porsi,’ batin Laura sambil menyiapkan obat untuk Syahrul minum pagi ini.
Tak lama sehabis makan Syahrul kembali terlelap. Mungkin karena memang masih dibawah pengaruh obat. Laura segera keluar ruangan. Dia harus memastikan untuk pindah ke ruang rawat.
“Ade dan Kakak, bantu om Gerry beberes barang ya. Kita akan pindah ke ruang rawat. Nanti disana kalian bisa masuk kapan aja. Ma, aku urus surat pemindahan ya. Barusan sudah dapat kepastian Abang bisa pindah keruang rawat,” Laura berkata pada Nazwa, Fahri, mama dan Gerry.
“Apa Kakak mau temani Mommy kedepan?” tanya Laura pada gadis kecilnya.
“Boleh Mom,” sahut Nazwa. Mereka jalan beriringan mengurus administrasi pindah ruangan dari ICU ke ruang rawat inap.
***
“Ini Bu, bisa langsung berikan ini ke perawat di ICU. Ruang Mawar kamar 215 ya,” petugas administrasi memberikan beberapa lembar kertas yang dimasukkan dalam map plastik pada Laura sambil kembali mengingatkan ruang yang akan ditempati oleh dokter Syahrul.
“Kalian langsung bawa barang ke ruang Mawar kamar 215 saja. Sebentar lagi Abang akan dibawa kesana. Kakak beli makan malam dulu,” Laura memberitahu Gerry lewat telepon saat mendapat kepastian nomor ruang yang akan Syahrul tempati.
“Kita sekalian beli makan malam aja yok Kak. Biar Om Gerry enggak bolak balik,” ajak Laura.
‘Tiga minggu Daddy sakit. Dan selama ini semua dibayar pakai uang Mommy. Enggak kebayang kalau kemarin Daddy jadian sama Faiza orang yang dijodohin nenek. Mau jadi apa aku dan ade?’ Nazwa bersyukur Laura yang akan menjadi ibunya kelak.
“Ayam geprek Mom?” tanya Nazwa.
“Kakak ada usulan lain? Bosen ya makan ayam geprek lagi?” Laura mengira putrinya ingin menu lain.
“Disekitar sini itu yang paling te o pe Mom. Kecuali mau jalan sedikit ada warung makan Padang. Tapi juga menunya kurang lengkap. Mending ayam geprek aja,” jawab Nazwa.
“Kita pesan nasi dan ayam dipisah aja Kak. 5 nasi dan 10 ayam. Lima geprek biasa dan sisanya yang lada hitam,” Laura memberi tahu apa yaang akan dipesan.
“Oma enggak apa-apa makan ayam geprek? Bukannya Oma enggak suka?” tanya Nazwa.
“Iya, buat oma kita pesankan tempe dan tahu goreng aja. Tadi nasi kita pesan 5 kan buat nanti om Gerry dan ade nambah.” jawab Laura. Sang mama kalau malam memang tidak makan nasi dan dia juga tak suka dengan lauk ayam.
“Dirumah, kemeja tangan pendek dan celana training Daddy ada yang diluar enggak? Yang belum Daddy masukin ke lemari dikamarnya?” tanya Laura. Kalau sudah tidak di ICU pasien tidak akan menggunakan baju rumah sakit lagi.
======================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta