
SEBELUM LUPA, INGETIN DI AWAL AJA DEH. MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DI NOVELTOON/MANGATOON YAA
JUDULNYA I MARRIED MY DAUGHTER DAN WANT TO MARRY YOU SERTA BETWEEN QATAR AND JOGJA .
SELAMAT MEBACA
“Boleh saja Pak. Semakin cepat semakin baik. Ibu makan dulu yang ada ya. Jangan ditunda. Kasihan bayi anda,” lanjut dokter sambil memberi perintah suster segera memesan makanan buat Wulan.
“Sweety, mau martabak telur atau roti keju?” tanya August sambil menyodorkan sebotol susuu coklat kesukaan Wulan
Wulan tak menjawab dan malah buang muka.
“Marahnya nanti ya? Mas enggak apa-apa kamu marahin. Tapi jangan siksa dirimu dan anak kita. Minum dulu susunya dan ini mau martabak telur atau roti keju?” dengan sabar August menghadapi marahnya Wulan.
Wulan sadar, dia tak boleh egois. Dia mengambil kotak martabak telur dan mulai memakannya. August meletakkan tissue basah ditempat tidur juga dia letakkan botol suusu coklat dingin agar Wulan mudah meminumnya.
Tadi saat mengantar paklek keluar, August memang langsung belanja makan malam untuknya juga tissue basah, tissue kering serta susuu juga roti untuk Wulan. Bahkan August telah membelikan sandal jepit untuk Wulan bila istrinya hendak ke toilet ketika sudah sadar.
‘Alhamdulillah, Wulan baru saja sadar. Besok pagi akan periksa kondisi bayi,’ August memberitahu paklek dan Prabu lewat chat kalau Wulan sudah sadar. Tadi sebelum tidur dia juga mengabari Kemuning kalau Wulan sudah dia temukan di rumah sakit. Ada yang mengantarnya karena Wulan pingsan. Dia tak ingin Kemuning berpikir buruk tentang rumah tangga mereka.
“Sudah?” tanya August saat melihat Wulan menutup kotak berisi martabak telur kesukaannya itu. Dia mengambil kotak martabak dan meletakkan kembali ke meja. Dia ambil juga tissue basah bekas pakai istrinya dan dia buang ke kotak sampah.
“Pak, ini makanan untuk Ibu,” seorang petugas dapur masuk setelah dipersilakan saat dia mengetuk pintu.
“Terima kasih Bu. Nanti saya berikan. Ini baru makan martabak,” sahut August. Dia tahu tak mungkin Wulan mau memakan makanan yang baru diantar.
“Mau makan atau ke kamar mandi?” tanya August pelan. Dia takut salah bicara dan membuat istrinya tersulut emosi kembali. August hanya memperkirakan saja mengenai ke kamar mandi. Karena namanya ibu hamil pasti sering ingin buang air.
“Ke kamar mandi,” jawab Wulan singkat.
“Sebentar,” August membuka plastik sandal jepit dan meletakkannya didekat tempat tidur agar pas Wulan turun kakinya langsung ke sandal. Dia membantu membawa botol infus dan memegang lengan istrinya yang dia yakin masih pusing.
“Pelan ya, kalau pusing Mas gendong aja mau?” tanya August dengan lembut.
“Enggak usah,” jawab Wulan ketus.
“Pintunya enggak Mas tutup agar Mas bisa dengar kalau kamu panggil ya. Bener bisa sendiri?” tanya August lagi masih dengan ekstra sabar.
August menunggu tak jauh dari pintu. Dia tak ingin terlambat masuk bila Wulan butuh bantuannya atau Wulan terjatuh. Dia benar-benar khawatir melihat kondisi istrinya yang terlihat lemah.
Dilihatnya Wulan menguak pintu kamar mandi dengan posisi masih duduk di toilet. “Sudah?” tanya August memastikan. Dia langsung memapah istrinya dan kembali dia bawa botol infus.
“Pelan ya,” dengan telaten August membantu Wulan berbaring. Dia selimuti istrinya. Sesudahnya dia kecup kening istrinya lembut.
“Jangan pernah berpikir Mas akan berpaling. Cukup sudah masa kelam Mas dulu. Ke depannya Mas ingin hidup benar digaris lurus denganmu dan anak-anak kita. Tak akan ada lagi perempuan yang akan mendampingi Mas kecuali kamu,” bisik August. Dia usap pelan kening Wulan hingga kerambutnya. Terus dia lakukan itu berulang-ulang hingga Wulan kembali tertidur.
Dan August pun naik ke kasur penunggu, dia tidur disana. Tadi dia tidur memeluk Wulan karena dia lihat istrinya gelisah. Wulan memang langsung tenang begitu tidur dalam pelukan August.
***
“Selamat ya sayankku, cintaku, suamiku tercinta,” tanpa malu Namira memeluk Ilyas yang menghampirinya dan memberi kecupan dikedua pipi suaminya.
“Dampingi aku dengan sabar ya Honey,” bisik Ilyas. Mereka berharap kisah cinta mereka bisa bertahan selamanya. Bisa bertahan dari gelombang yang menghadang.
Namira dengan gaun mahalnya tak membuat dia percaya diri dihadapan banyak teman Ilyas yang memandang ‘rendah’ dirinya dari tatapan mata mereka setiap Ilyas menyebut dirinya adalah istri dokter muda itu.
“Serius kamu sudah menikah?” begitu beberapa rekan pria Ilyas. Mereka hanya tak percaya kalau Ilyas memang sudah menikah. Tapi tak ada pandangan mencemoh.
Beda dengan tatapan para rekan wanita yang masih seumuran dengan Ilyas. Kalau rekan yang sudah senior tanggapannya selalu baik dan mengucapkan menunggu undangan resepsinya.
“Pasti akan aku undang. Kami memang sengaja menunda resepsi. Biar urusan wisudaku tak terganggu,” demikian Ilyas menjawab rekan seniornya.
***
Jam tujuh pagi Wulan belum bangun saat dokter visite. August sejak subuh sudah ke mushola lalu pulangnya dia membeli kopi dan sarapan untuknya. Dia juga membeli bubur ayam ekstra cakwe untuk Wulan. August takut Wulan tak selera dengan menu dari rumah sakit.
“Rupanya pengaruh obat sangat kuat ya Dok,” August mengomentari istrinya yang tetap tertidur saat diukur tensi dan suhu tubuhnya.
“Dia terguncang, sehingga harus banyak rehat. Nanti jam sembilan akan diperiksa kondisi baby ya Pak, kemungkinan akan dibawa ke ruang dokter kandungan karena alatnya ada disana,” dokter yang datang pagi ini menjelaskan pada August.
“Mas, mau pipis,” Wulan bangun jam delapan pagi dan minta diantar pipis ke kamar mandi.
“Ayok mas antar,” sahut August dan seperti semalam, dia siapkan sandal jepit untuk istrinya ke kamar mandi.
“Nanti jam sembilan, Dede akan diperiksa. Sekarang Ibu sarapan dulu ya. Mau bubur ayam atau nasi dari rumah sakit? Atau roti bakar semalam tapi sudah dingin,” August menawarkan Wulan sarapan.
“Buburnya Mas beli? Cakwenya banyak?” tanya Wulan. Dia belum memaafkan kelakuan August. Tapi urusan makan dia taak mau menunda demi sang bayi.
“Iya. Mas beli ekstra cakwe untukmu. Tapi sambalnya sedikit aja ya?” August hafal istrinya makan bubur tanpa sambal lebih baik tidak makan. Tapi kalau dibilang hanya boleh sedikit, Wulan tak akan marah.
“Ya sudah sarapannya bubur aja,” jawab Wulan. Dia malas makan nasi dari rumah sakit.
August menyiapkan sarapan istrinya. Dia tahu tak mungkin Wulan mau disuapi karena tangan kanannya bisa bebas bergerak.
“Mas kerupuknya,” Wulan tak bisa membuka plastik kerupuk dari tukang bubur ayam. August menyodorkan kerupuk miliknya. Dia makan ketoprak sehingga juga ada kerupuk.
“Nyobain ketoprak boleh?” tanya Wulan ragu.
=============================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta