TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
SEMUT PUN AKAN MARAH BILA DIINJAK



“Itu serius Neng?” tanya wak Ganis saat ini sore ini Laura masuk ke rumah. Tadi pagi-pagi sekali Laura memasang CCTV di butiknya. Di ruang tamu, di ruang kerjanya, di ruang produksi dan ruang administrasi. Tentu juga di depan pintu masuk. Siang dia langsung pulang ke panti dan mengobrol dengan para pegawai dan memperhatikan pembangunan renovasi yang hampir selesai.


“Apa Wak?” tanya Laura bingung.


“Tadi selintas Uwak lihat berita kriminal, koq ada Eneng di telepisi ( aksen Sunda memang huruf F atau V menjadi P). Serius kamu teh’ kemalingan di butik?” desak wak Ganis.


“Oh itu. Iyaaah. Sudah hampir seminggu lalu. Dan malingnya baru ditangkap dua hari lalu. Dalangnya ditangkap kemaren pagi,” jawab Laura. Dia yakin sebentar lagi teman-temannya akan menghubungi karena beritanya sudah ditayangkan di televisi lokal dan sudah ditulis ditabloid.


Sekarang para wartawan mengejar Sapto Enggano, bisnisnya, juga bisnis keluarga besar Laras dan suaminya. Semua bergulir seperti bola salju. Makin kebawah makin besar. Bisnis keluarga besar Laras dan Sapto terseret karena kasus ini. Dan Laura tentu tidak seratus persen salah. Dia hanya ‘sengaja’ membuka agar media tahu. Kalau media tidak tahu, tentu Laras dan keluarganya aman.


‘Semut pun akan marah bila diinjak!’ itu prinsip Laura. Dia tak akan terus diam.


“Naha teu ngawartosan ka uwak?” tanya wak Ganis. ( naha teu ngawartosan ka uwak = kenapa kamu enggak cerita ke uwak ).


“Lupa Wak,” jawab Laura. Dia tidak cerita karena tak ingin uwaknya jadi kepikiran.


Laura segera masuk ke kamarnya. Dia ingin segera mandi sebelum salat maghrib. Baru sampai kamar ponsel butiknya berbunyi, banyak notifikasi chat masuk. Rupanya berita ditelevisi sudah menyebar. Dia tidak membuka chat. Hanya melihat dari pop up saja. Banyak pertanyaan teman-teman sesama pemilik butik dan designer. Banyak juga pujian yang dia terima karena berani memproses dalang pencurian sketsanya.


Banyak yang tahu, mamanya Laras mempunyai firma hukum. Sehingga banyak orang takut melawan bila Laras berulah. Karena takut tak kuat melawan mamanya di persidangan. Tapi apa yang ditakutkan Laura bila memang bukti sudah mengarah telak pada Laras?


Dan itu sebabnya Laura membawa media. Karena jaman sekarang, bila sudah dibuka di media, maka julidnya netizen lebih tajam dari silet.


‘Mommy, aku pengen cerita,’ chat masuk di ponsel panti asuhan. Laura juga hanya membaca di pop up saja. Dia akan balas selesai salat isya dan makan malam saja.


***


“Papa dan opa mu tanya kenapa enggak cerita tentang pencurian di butik,” Wak Ganis kembali membahas kasus pencurian saat mereka berdua di meja makan untuk makan malam. Uwak Ganis rupanya langsung menghubungi adiknya dan bercerita tentang kasus yang dihadapi Laura dan dia juga heboh cerita melihat Laura ada di televisi lokal.


‘Oh my God, rempong nih kalau papa dan opa rewel tanya-tanya,’ batin Laura.


“Kenapa Uwak cerita ke papa?” Laura tentu bertanya. Karena tak ingin membuat keluarganya ikut bingung dengan kasus ini. Toh dia juga sudah menyerahkan kasus ini langsung ke polisi saja.


“Ya papamu harus tahu. Papamu juga tadi berpesan kamu untuk menghubunginya. Dia juga bertanya apa kamu  butuh didampingi pengacara atau tidak,” sahut wak Ganis dengan rasa tidak bersalah.


“Aku enggak butuh pengacara Wak. ‘Kan aku cuma saksi sebagai pemilik barang yang dicuri. Buat apa pengacara?” bantah Laura. Dia mengambil tambahan lauk dan sambal.


***


“Malam ini biar Ilham bobo sama Ayah,” Ilyas meminta agar Ilham tidur dengannya. Dia besok libur.


“Tapi Den …,” belum selesai protes dari mulut Namira, Ilyas sudah memutus kalimatnya.


“Tak ada DEN atau TUAN, Honey. Sebut namaku atau Ayah!” perintah Ilyas dengan tegas. Tentu saja Namira tak berani menyebut Ilyas langsung dengan namanya. Tapi menyebutnya dengan panggilan ayah juga Namira enggan. Dia jadi bingung sendiri.


Akhirnya Namira mengalah. Dia menaruh dua diapers, minyak telon, tissue basah dan bedak bayi dalam satu kotak kecil disiapkan disebelah Ilham untuk dibawa Ilyas ke kamarnya. Ilyas hanya mengambil Ilham tanpa membawa kotak kecil itu.


“Bik, tolong berikan pada tuan di kamarnya,” Namira membawa kotak tersebut ke kamar bik Iyah dan meminta perempuan tua itu menolongnya.


“Kasihkan sendiri aja Neng. Enggak apah-apah,” bik Iyah dengan logat Sundanya memnyuruh Namira langsung memberikan perlengkapan Ilham pada Ilyas.


“Enggak baik Bik, seorang perempuan masuk ke kamar orang lelaki,” jawab Namira. Dia tak ingin ada pandangan buruk padanya.


Sementara dikamarnya Namira sedang berpikir keras, dia harus memanggil Ilyas dengan sebutan apa?


“Bundaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,” rengek Nindi. Sejak tadi dia bicara tapi Namira tak mendengarnya.


“Kenapa teriak seperti itu Teh?” tanya Namira bingung.


“Dari tadi Teteh tanya ke Bunda, Bundanya enggak dengar,” protes Nindi kesal.


“Ya, sekarang sudah dengar. Kamu mau bilang apa?” tanya Namira.


“Kenapa dedek bobo sama Ayah?” tanya Nindi.


“Ayah kangen ama dedek,” jawab Namira tanpa pikir panjang.


“Kenapa Ayah enggak bobo sini aja sama Bunda dan dedek?” Nindi masih penasaran.


“Karena mereka sama-sama lelaki, jadi sesekali pengen berduaan tanpa kita,” jawab Namira.


“Berarti, kapan-kapan tetap bobo bareng bunda ‘kan?” cecar Nindi.


“Sudah, sekaranag sudah malam. Teteh bobo biar enggak kesiangan. Katanya besok mau sepedaan ama Ayah?” Namira mengalihkan pembicaraan agar tidak dicecar Nindi.


“Iya, tadi Ayah janji mau sepedaan,” Nindi ingat Ilyas berjanji main sepeda esok hari.


“Andai dedek sudah bisa naik sepeda, Ayah bilang mau beliin sepeda buat dedek,” Nindi memberitahu Namira kalau Ilyas ingin membelikan Ilham sepeda.


‘Ya ampun, baby walker aja belum bisa pakai, udah mau dibelikan sepeda,’ batin Namira. Dia tak mau bicara lagi agar Nindi segera terlelap.


‘Kak? Kang? A’a? Bang? Atau apa ya?’ Namira masih bingung menyebut Ilyas dengan sebutan apa. Tak terasa Namira tertidur karena lelah memikirkan panggilan apa yang cocok untuk Ilyas.


***


Ilyas salat subuh, lalu tidur lagi. Semalam Ilyas tidak rewel. Dia hanya bangun satu kali ketika minta diapersnya diganti. Saat itu Ilyas langsung memberinya sussu dalam botol. Dan tadi sebelum dia salat subuh, Ilyas juga memberi Ilham sussu lagi walau bayi itu tidak bangun. Sehingga sehabis salat Ilyas bisa kembali tidur tanpa gangguan Ilham.


Smart Daddy!


Namira yang udah keluar kamar selesai salat, bertemu dengan bik Iyah yang juga baru keluar kamar. “Den Ilham enggak rewel ya Neng,” sapa bik Iyah.


“Bik, jangan sebut Ilham dengan sebutan Den. Panggil seperti biasa aja,” pinta Namira.


“Atuh enggak apah-apah. ‘Kan Ilham teh anaknya den Ilyas,” sahut bik Iyah santai.


\===========================================================================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.  Jangan lupa tinggalin komen manisnya  


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta