TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
PASANGAN SELINGKUH



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


===================================================


 “Hehe, ada yang urus Mah,” Bastian mengarahkan kamera ke wajah Julia. Memang Julia sengaja membersihkan wajah Bastian, memotong cambangnya sehingga sekarang lelaki itu terlihat fresh seperti biasanya.


“Hallo Bu,” sapa Julia dengan manis.


“Pantes atuh Adek udah seger,” kembali bu Tuti bukan menjawab sapaan Julia, tapi dia mengemukakan pendapatnya sendiri. Bastian dan Julia sudah hapal karakter bu Achdiyat itu.


“YAYA semalam menginap Mah, dia nemani Adek disini,” pamer Bastian. Julia kembali menyuapi Bastian disela pembicaraan itu. “Apa’ atau Mamah enggak perlu cepet-cepet kesini ya? Urus Topan dan Guntur lebih dulu aja.”


“Dari tadi teh Mamah lagi bingung, Apa’ harus meeting, dan Mamah belum bisa ninggalin twins. Untung kamu telepon. Nanti Mamah kasih tau Apa’ biar dia juga tenang. YAYA makasih ya geulis,” sahut bu Tuti dengan senang. Suaminya sejak pagi sudah pergi ke kantor.


“Paling suruh bibik atau mamang buat ambil baju kotor dan antar baju bersih aja Mah, biar enggak numpuk nih baju kotor sejak kemarin,” pinta Bastian. “Nanti sekalian Adek kirim chat apa yang mesti di bawa deh. Karena sepertinya bahan buat bikin minuman coklat juga enggak ada.” Bastian tahu sebelum tidur Julia suka minum hot milk choco, begitu pun pagi hari.


“Minum obatnya ya,” Julia memberikan beberapa butir obat dan menyodorkan air putih pada Bastian.  Lelaki itu sudah sejak tadi selesai dia suapi. Dan telepon juga sejak tadi sudah ditutup.


“Nanti akan ada yang datang ke sini bawain baju bersih?” tanya Julia. Sampai saat ini dia belum mau menyebut A’a pada Bastian. Kalau ke orang lain tentu dia akan menggunakan kata itu. Dia memanggil Bastian dengan panggilan A’a saat Bastian sadar dari pingsannya saja. Tadi pagi saat melaporkan pada bubu dia juga menyatakan A’ Bastian di rawat dan dia menemani di rumah sakit. Itu sebabnya Julia agak sulit dihubungi.


“Iya, kenapa? Mau titip sesuatu?” tanya Bastian sambil mengusap puncak kepala Julia.


“Ambilkan baju bersihku sekalian bisa? Nanti aku minta teteh di rumah untuk menyiapkan, jadi tinggal ambil saja di rumahku,” jawab Julia. Tentu saja Bastian sangat senang. Artinya Julia akan tetap di sini menemaninya.


“Apa sih yang enggak bisa buatmu?” jawab Bastian dengan manisnya.


“Sama belikan Pizza ya? Malam ini roti habis,” lapor Julia.


“Itu aja?” tanya Bastian.


“Iya, cukup itu aja,” balas Julia. Dia lalu mulai membuka ponsel usahanya.


“Kalau A’a sudah sembuh, kita bisa ke Singapore berdua enggak?” tanya Bastian. Ide itu muncul saat melihat Julia membuka ponsel usaha miliknya.


“Mau apa?” Julia malah bingung akan pertanyaan Bastian.


“Refreshing aja, sekalian kamu bisa belanja barang daganganmu ‘kan?” Bastian melempar wacana itu.


“Boleh aja. Satu kamu harus beneran udah fit. Kedua kamu harus kerjain semua pekerjaan yang tertunda selama kamu sakit. Dan yang terpenting nomor tiga, aku enggak mau belanjaan barang daganganku dibayarin!” jawab Julia.


“Emang kenapa?” tanya Bastian. Perempuan lain tentu akan sengaja nambah quota belanjaannya mumpung dibayarin. Ini koq malah nolak.


“Aku enggak mau modal usahaku tercampur dengan uang orang lain. Aku ingin semua pakai uangku sendiri!” jawab Julia tegas.


“Please jangan mulai ngambeg! Maksudku ini untuk urusan usahaku. Aku ingin tahu kekuatanku sendiri. Kalau untuk tiket dan makan tentu semua ditanggung yang ngajak,” jelas Julia sambil mengusap lembut lengan Bastian.


“Kenapa cuma tiket dan makan? Lalu kita nginap di mana?” tanya Bastian.


“Nginap hanya kamu yang butuh kamar. Aku tidur di rumah kakakku di sana. Apartemennya ada 2 kamar. Selama di Singapore kemarin aku nginap di rumah dia,” jelas Julia lagi.


“Apa dia pria yang posting wajahmu di media social?” selidik Bastian.


“Iya, kang Dade itu anak uwak. Dia kerja di Singapore,” balas Julia.


“Apa aku enggak bisa numpang di apartemen dia? Aku malas kalau kita berjauhan. Lebih baik kita sewa suit room hotel yang ada dua kamar daripada terpisah,” tolak Bastian.


“Di Jakarta kita jauhan aja enggak apa-apa. Kenapa di sana harus satu lokasi?” tanya Julia. Dia bingung atas pemikiran Bastian. “Akan jadi persoalan bila aku enggak tidur di rumah kang Dade. Dia tentu akan marah atau tersinggung. Aku enggak mau bikin dia marah. Karena untuk selanjutnya kan bisnis ini butuh kang Dade. Karena yang kirim belanjaanku ke Indonesia adalah dia,” Julia menerangkan apa dan siapa serta peran kang Dade bagi usahanya.


“Oke, kalau begitu, kamu tanya dia dulu, boleh enggak aku ikut nginap di apartemennya. Enggak apa-apa aku tidur di sofa atau di kasur gelaran,” desak Bastian.


“Ya, nanti akan aku tanya bila kita bersiap berangkat ya. Percuma ditanya sekarang kalau kamu masih terbaring disini. Sekarang kamu tidur dulu. Aku kerja sebentar,” Julia mulai search barang-barang baru yang bisa dia jual kembali.


***


“Jadi pulang kapan Kak?” tanya Gerald pada kakaknya.


“Opa belum kasih izin buat besok, mungkin lusa pagi,” jawab Laura sambil menyuap bakso kemulutnya. Gerald dan Laura keluar rumah untuk makan bakso berdua setelah opa mereka tidur malam ini.


“Untung enggak lagi dead line pesanan di butik. Kalau lagi ada pesanan juga Kakak enggak bisa seenaknya lari ke sini. Opa berpikir Kakak hanya mengelola Panti asuhan. Dia enggak tahu, untuk menjalankan panti dengan keadaan layak tiap bulan dibutuhkan banyak dana. Sekarang Kakak sedang memulai bercocok tanam. Nanti hasilnya akan digunakan untuk uang operasional panti. Sehingga bila usaha butik Kakak hentikan, usaha berkebun bisa menunjang,” jelas Laura.


“Kenapa usaha butik akan dihentikan? Bukankah incomenya gede banget?” tanya Gerald.


“Kakak enggak punya niat menghentikan. Tapi kita berpikir jika ada halangan lalu usaha butik harus terhenti, tentu enggak akan ada yang bisa ngejalanin segera. Beda dengan berkebun. Sangat banyak yang bisa menanganinya,” jelas Laura pada adik satu-satunya itu.


“Owh, begitu maksudnya,” Gerald menyudahi makannya. Dua mangkok bakso sudah pindah ke perutnya.


‘Ayok kita balik ke rumah. Kakak takut opa nyariin,” Laura menyiapkan uang untuk membayar apa yang mereka makan.


“Kita kayak pasangan selingkuh Kak, makan aja takut ketahuan keluar dari rumah,” ejek Gerald sambil mengenakan helm nya. Mereka memang menggunakan motor saat keluar rumah tadi.


“Kamu kayak tahu aja pasangan selingkuh,” Laura terkekeh mendengar perumpamaan yang adiknya berikan.


“Aku hafal Kak, tontonan mama dan para maid ‘kan sinetron perselingkuhan. Walau aku enggak pernah ngikutin, sambil lewat ‘kan jadi tahu. Apalagi saat jam masak sudah selesai. Pas para maid istirahat, atau sambil menyetrika, Tv di dapur tu pasti sinetron perselingkuhan,” jelas Gerald.


“Hahaha … itulah hiburan termurah dan paling digemari. Bahkan novel perselingkuhan juga banyak dicari,” jelas Laura. Mereka meluncur pelan menuju rumah orang tua mereka.


“Apa opa mencariku?” tanya Laura pada papanya saat memasuki ruang tengah.


“Opa tidur nyenyak,” balas sang papa sambil terpaku dengan berita dalam bahasa inggris.