
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\===================================================================
“Assalamu’alaykum,” sapa Nazwa dan Gerry bersamaan.
“Wa’alaykum salam. Macet Kak?” tanya Laura sambil mengulurkan tangannya karena putrinya ingin salim padanya.
“Ada pohon rubuh akibat angin Mom, jadi macet panjang banget,” sahut Nazwa. Perempuan kecil itu segera menuju kulkas diruangan. Dia sangat haus.
“Oma mana?” Laura tak melihat Claudia datang bersama Nazwa dan Gerry.
“Oma kesininya nanti sore katanya. Siang ini ada teman Oma mau datang kerumah Enin,” balas Nazwa sambil minum air dingin. Dia kehabisan air mineral dimobil tadi.
Sementara Gerry menaruh makan siang dimeja serta baju bersih untuk Laura dan Syahrul di lemari.
“Kakak langsung makan dulu Kak,” Gerry menyuruh sang kakak makan siang.
“Kalian sudah makan? Kakak sini temani Mommy makan,” ajak Laura. Dia lihat Syahrul sedang memperhatikan dirinya sambil terkantuk-kantuk.
***
“Jadi jelas ya, ini kejadiannya saat Bastian tidur dan Wilson membukakan pintu untuk Gladys, dan kapan Gladys keluar apartemen itu,” Marco memberitahu rekaman CCTV koridor diluar kamar Wilson.
“Dan ini rekaman CCTV di Lobby tempat Gladys menunggu telepon dari Wilson. Dan saat dia menerima telepon lalu langsung masuk lift.
“Dan ini rekaman terakhir yang dari CCTV didalam ruang apartemen. Yang ini seharusnya tak boleh diberikan pada siapa pun kecuali kepentingan polisi. Tapi karena ini juga menyangkut tindak pidana kejahatan maka saya berani memberikan rekaman ini,” lanjut Marco. Semua itu dia buka di laptop yang memang dia bawa.
Pada rekaman ketiga terlihat bagaimana Wilson dan Gladys melucuti pakaian Bastian dan membuat foto yang mereka kirim ke ponsel dan email Julia serta Bastian.
“Baik, data ini akan saya gunakan untuk pelaporan ke polisi besok dan kami akan bekerja sama untuk meringkus Gladys saat pertemuan yang akan saya buat dengan alasan momen ‘lamaran’ saya pada Gladys lusa,” Achdiyat memberitahu rencana kerjanya pada semua yang hadir. Tadi Marco sudah mengirim semua rekaman ke email pak Achdiyat.
“Dan anda miss Risma, silakan diproses tentang tindak kejahatan karyawan anda ini. Besok akan saya kirim copy pelaporan saya pada polisi,” Achdiyat tak main-main. Dia akan membuat Wilson tak akan pernah bisa ‘hidup’ lagi.
“Bastian, janjian dengan Gladys sudah fix kan?” Achdiyat terpaksa menyebut nama anaknya karena didepan orang lain. Biasanya dia pasti akan memanggil ‘ade’ pada Bastian.
“Sudah Pak, kemarin saya sudah chat dia dengan manis. Saya bilang Bapak sudah di Singapore sejak tiga hari lalu. Dan Bapak ingin bertemu dengan calon menantunya lusa. Oleh karena itu besok saya akan tiba di Singapore, agar lusa bisa janjian dengan dia menemui Bapak,” Bastian memberitahu seakan-akan dia baru esok berangkat ke Singapore.
Jangan salah. Yang kirim chat pada Gladys adalah Julia. Bastian tak mau bila Julia salah paham. Dan konyolnya Julia menebar kata-kata manis yang membuat Gladys sanagt senang karena mengira perangkapnya berhasil.
“Miss Risma, bisa kita bertukar nomor telepon. Mungkin nanti saya dan kakak saya ingin kita bertemu lagi?” Julia tahu sejak tadi Dade memperhatikan Risma dengan tak berkedip.
“Mun hayang pedekate tong isin atuh Kang,” goda Julia. Sengaja dia menggunakan bahasa Sunda agar Risma dan Marco tak mengerti. Karena Julia takut mereka mengerti bahasa Melayu sehingga bila menggunakan bahasa Indonesia tentu mudah dikira-kira. [ Mun hayang pedekate tong isin atuh Kang = kalau mau pedekate jangan malu-malu Kak ].
Dade hanya garuk-garuk kepala digoda adik sepupunya. Dia pun pasrah saat Julia menggunakan ponselnya misscall pada nomor perempuan India itu.
Sementara Bastian dan pak Achdiyat hanya senyum-senyum mendengar keusilan Julia.
***
“Yah, kita tadi enggak kasih kesempatan Teteh ngobrol ama mamahnya,” Namira bicara saat mereka telah sampai rumah.
“Maafin Ayah. Ayah terlalu emosi karena Bunda dibilang pelakor. Ayah enggak rela dia menghina Bunda makan hartanya,” sahut Ilyas sambil menaruh kepalanya disetir. Nindi sudah turun dan masuk kerumah.
“Kita enggak bakal serahin teteh ke dia ‘kan?” tanya Namira. Namira sangat tak rela bila Nindi ikut Almira lalu diterlantarkan. Dia akan sangat ikhlas menyerahkan Nindi bila memang bocah itu dirawat dan dididik dengan baik.
“Ayah enggak akan serahkan Nindi. Semua dikampung juga tahu Almi enggak pernah urus anak sejak dia masih tinggal di Indonesia. Dia enggak peduli terhadap tumbuh kembang anak sama sekali,” balas Ilyas.
“Trus, kapan kita bicara berdua dengan teteh. Biar bagaimana pun dia pasti tahu tadi itu ibu kandungnya,” Namira jelas bingung untuk memberitahu bagaimana kejadian sebenarnya pada anak yang belum genap sepuluh tahun itu.
“Nanti sore aja pas jam ngemil sore,” jawab Ilyas lalu bersiap turun. Dia bawa tas Ilham juga kabel dan perlengkapan toko yang tadi sempat dibeli sebelum berhenti untuk makan siang.
“Bobo dulu Teh, nanti nonton lagi ya,” Namira memerintah Nindi yang sedang asyik menonton film kartun kesukaannya.
“Tanggung Bun, ini lucu banget,” sahut Nindi sambil tertawa-tawa.
“Teh, teteh tahu enggak yang ketemu di mall tadi siapa?” tanya Ilyas. Dia pikir saat ini Nindi sedang bisa diajak bicara.
“Yang berantem sama Ayah?” tanya Nindi dengan wajah polosnya.
“Sebenernya Ayah enggak berantem. Ayah hanya menegur dia aja,” Ilyas tak ingin memberi contoh buruk pada putrinya.
“Nindi enggak tahu. Tapi dia seperti orang yang dulu pernah Nindi panggil mamah. Tapi enggak tahu sih,” balas Nindi tanpa merasa ingin tahu sosok itu siapa. Dia merasa tak perlu kenal dengan tokoh yang tidak disukai ayahnya.
“Kalau dia mamahnya Nindi. Apa Nindi mau ikut dia?” tanya Namira hati-hati. Padahal niat Ilyas dia ingin menyudahi pembahasan ini. Toh Nindi tak peduli dan tak mengenali Almira sama sekali.
“Nindi enggak mau ikut siapa pun. Nindi mau sama Ayah dan Bunda aja,” sahut Nindi sambil menggeleng kuat. Dia tak ingin berpisah dengaan bibinya. Selama ini dia diasuh oleh papanya yang kasar dan neneknya yang tak bisa membelanya bila sang papa memukul atau mencubitnya.
Nindi merasa nyaman hidup dengan Namira walau saat mereka susah dulu. Bibinya tak pernah marah apalagi mencubit dan memukulnya. Terlebih sekarang mereka sudah tak kekurangan dan ada ayah yang selalu mengasihinya.
“Enough Bund,” Ilyas meminta Namira tak melanjut pembahasan mengenai Almira pada Nindi. Wajar gadis kecil itu tak ‘kenal’ sosok ibunya. Almira mulai bekerja di Taiwan ketika Nindi berusia dua tahun. Lalu pulang pertama ketika putrinya berusia lima tahun karena kontrak pertama adalah tiga tahun.
Kepulangannya hanya dia gunakan untuk mengurus surat-surat perpanjangaan kontrak dan keliling kampung untuk pamer keberhasilannya di negeri orang. Dia tak menggubris Nindi sama sekali.