
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\============================================================
“Suhu dan tensi pak Bastian, masih tinggi ya Bu,” suster memperlihatkan hasil pemeriksaannya pada Julia. Dia juga mengganti cairan infus.
“Apa dia akan lama sadarnya?” tanya Julia sedikit khawatir.
“Sebenarnya bila pasien berkeinginan kuat untuk sembuh, dia sejak siang tadi sudah sadar. Tapi sepertinya pak Bastian memang tak punya keinginan untuk bangun lagi sehingga sejak tadi dokter juga terus memantau kondisinya yang makin drop sejak masuk semalam,” jawab sang suster.
‘Kenapa A? Kamu enggak mau cepat bangun? Kamu nyaman tidur di sini?’ Julia memperhatikan Bastian dan menunggu suster yang mengatur kecepatan jumlah tetes darah.
“Hallo A’, apa kamu betah tidur di sini? Kamu enggak sayang apa’ dan mamah mu? Enggak mau bangun untuk menemani Guntur dan Topan bermain bola?” Julia berbisik di telinga Bastian. Dilihatnya respon dari Bastian. Ada pergerakan pupil mata di balik kelopak mata Bastian yang terpejam.
“Bangun A’, kalau kamu enggak bangun sekarang, aku pulang aja ya,” bisik Julia sambil menggenggam jemari tangan kanan Bastian dan mengecupnya. Luruh sudah amarahnya. Dia akan memaafkan Bastian bila lelaki ini sadar. “Kalau kamu malas melanjutkan hidup, siapa yang akan menguatkan apa’ dan mamahmu? A’a bangun dong.” Julia merengek meminta Bastian segera sadar.
***
Bastian mengerjapkan matanya. Dia merasakan ada tangan yang menggenggam jemarinya dengan hangat. Diputar bola matanya, dia melihat kepala Julia berbaring di bed yang dia tiduri dengan wajah mengarah pada dirinya. ‘Kamu menjagaku honey?’
Julia merasakan tangan Bastian menarik tangannya untuk dikecup. Dia segera bangun dan dilihatnya lelaki handsome itu sedang mengecupi jemarinya. “A!”
“Yes honey, aku ganggu tidurmu ya?” jawab Batian lemah.
“A’a sudah sadar?” Julia langsung bangkit dan memencet bel untuk kembali memanggil petugas medis.
“Iya ada apa Bu?,” seorang suster masuk ruang rawat dan menanyakan tujuan keluarga pasien memanggil petugas jaga.
“Ini pasien sudah sadar dan darah sudah hampir habis,” Julia menjawab suster.
“Baik Bu, saya lapor dokter jaga sekalian mengambil stock darah kembali.
***
“Jadi kemarin Pak August datang lagi?” tanya Laura melihat daftar kunjungan tamu ke panti.
“Iya Mom,” jawab Nengsih sambil menyerahkan data bantuan yang mereka terima.
“Perhatikan tanggal kadaluarsa su5u yang kita terima ya? Kalau beli sendiri ‘kan kita pasti sudah memperhatikan. Trus biasakan menyimpannya berurut sesuai tanggal kadaluarsa, sehingga yang kita konsumsi adalah yang tanggalnya lebih dulu akan expired,” pesan Laura.
“Mom, kemarin ada perkumpulan yang hendak menghibahkan box dan baby walker bekas pakai. Rencananya mereka akan datang untuk minta bertemu besok hari Rabu,” lapor Nengsih kembali.
“Jam salapan,” balas Nengsih.( Jam salapan = jam sembilan )
“Ya hubungi saja lagi katakan saya bisa terima tamu saat itu,” Laura segera masuk ke ruangan baby untuk menyapa para anak asuhnya.
“Hai Wulan, bagaimana kesehatanmu, apa kamu sudah kontrol ke bidan?” Laura melihat Wulan sedang memberi su5u pada seorang bayi.
“Kemarin malam saya sudah periksa diantar teh Sukma, Mom,” jawab Wulan. Memang Laura mengharuskan Wulan memeriksakan kehamilannya. Dan Wulan memilih periksa pada bidan yang praktiknya dekat dengan panti asuhan.
“Good job.” Laura tak mau memaksakan Wulan harus periksa di RSIA ( rumah sakit ibu dan anak ) atau ke dokter specialis kandungan. Karena Laura tahu, Wulan ingin menghemat. Perempuan tangguh itu tak mau dibantu dana periksa karena dia bilang itu tanggung jawab pribadinya. Wulan tak ingin disebut aji mumpung dan dianak emaskan.
Wulan sangat bersyukur bayinya sehat dan tidak rewel. Dia tidak morning sickness apa lagi ngidam. Andai dia mengalami morning sickness tentu hari-hari akhir belajarnya akan terganggu. Dia kemarin hanya takut saat ujian praktik olah raga saat harus melakukan lompat jauh. Di uji ini dia sengaja tidak melakukan dengan baik sehingga akhirnya sang guru membolehkan dia mengganti dengan lempar lembing atau tolak peluru. ‘Terus anteng ya Nang, tinggal 2 minggu kita sekolah. Habis itu ibu akan konsen dengan pertumbuhanmu. Baru setelah itu ibu akan kuliah agar nanti masa depanmu cerah. Ibu akan mengupayakan kamu bisa hidup layak walau kita hanya hidup berdua,’ Wulan mengusap perutnya yang mulai sedikit membuncit. Saat ini dia sedang libur menjelang UAN. Di panti dia hanya boleh mengerjakan yang ringan-ringan saja. Pagi ini dia sedang membuat bubur saring serta bubur biasa bagi para balita. Selain itu nanti dia akan memasak lauk bagi seluruh pegawai panti. Memasak tentu bukan pekerjaan berat. Nanti bagian mencuci semua bekas masak pun kadang tak boleh dikerjakan oleh Wulan. Para seniornya sangat memanjakan Wulan. Untuk itu dia membalas dengan selalu bersikap patuh dan mengerjakan semua yang dia bisa.
***
‘A’a sudah sadar, darah sudah masuk kantung ke dua,’ Julia melaporkan kondisi Bastian pada bu Achdiyat.
‘Alhamdulillaaaah,’ jawaban istri mantan bossnya seperti itu. ‘Topan masih belum buka infus, sehingga bila tak ada Bapak, saya belum bisa ke situ.’
‘Baik Bu, nanti kalau Bapak datang saya pamit pulang,’ Julia langsung memberitahu dia akan pulang malam ini.
“Ini, buburnya dimakan ya, sejak kemarin tak ada asupan ke dalam lambungmu ‘kan?” Julia mulai membuka plastik wrap penutup makanan jatah pasien. Dia duduk di brankar dan mulai menyorongkan sendok berisi bubur ke mulut Bastian.
‘Bodohnya aku. Kemarin aku membatin ingin disuapi seperti Guntur dan Topan. Sekarang Allah langsung memenuhi permintaanku!’ keluh Bastia dalam hatinya. Dia memandang mata Julia dengan penuh damba.
“Perutmu enggak akan kenyang bila hanya memandangiku. Ayo sekarang makan atau aku tinggal pulang!” ancam Julia.
‘Dia sudah ber AKU - KAMU, bukan saya dan anda lagi. Alhamdulillaaaah,’ Bastian masih sibuk berkata dalam hatinya. “Iya A’a akan makan asal kamu yang suapi honey,” jawab Bastian lembut.
“Cukup, buburnya pahit,” keluh Bastian manja.
“Kasihan ususmu bila tak ada isi untuk digiling. Namanya sakit ya terasa pahit. Masa kalah sama Guntur dan Topan. Aku ke ruang sebelah jaga anak-anak aja. Kamu sama mamah ya?” kembali Julia mengancam Bastian. Dengan cepat Bastian mencekal tangan Julia agar tidak meninggalkan dirinya.
“Iyaa, A’a akan makan. Tapi enggak harus habis ya?” dengan manja Bastian menawar porsi yang akan dia makan.
“Kalau makannya hanya habis sepertiga, besok aku tak akan datang lagi. Kalau habis setengah, aku akan datang tapi tidak akan menyuapi. Dan kalau habis semua aku akan datang dan menyuapimu. Sekarang tak perlu banyak protes kita lanjutkan makannya,” tak ada kompromi yang Julia berikan.
\============================================================
Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa
judul cerita PUTRI CANTIK MILIK TUAN REYMOND penulis ZAFA pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya