
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\=============================================================================
Hari ini Laura harus berangkat ke Kopo. Dia memiliki sebuah butik di sana. Hanya dua kali seminggu dia menyambangi butiknya. Selebihnya dia full di yayasan karena uwak Ganis sekarang sering sakit setelah dua tahun lalu ditinggal oleh suami tercintanya.
Yayasan ini dibangun oleh uwak Ganis setelah dia dan suaminya uwah Galih kehilangan calon bayi mereka akibat kecelakaan. Saat itu usia kandungan uwak Ganis baru tiga bulan. Sayang kecelakaan itu membuat Uwak Ganis harus diangkat rahimnya karena luka di perutnya.
Sedang uwak Galih sang suami harus duduk di kursi roda akibat tulang kering kaki kirinya hancur. Berawal dari kehilangan buah hati, mereka bertekad memberi payung bagi bayi-bayi terlantar.
Saat ini yayasan sudah resmi ditangani Laura. Satu bulan lalu uwak Ganis sudah memberi mandat ditanda tangani notaris. Dia tak mau yayasannya jatuh ke tangan keponakan lain dari dirinya atau almarhum suaminya. Dia tak rela bila yayasan ditangani oleh orang yang tak menyayangi anak-anak seperti dirinya dan Laura. Dan hanya ingin mencari keuntungan pribadi.
Laura menyerahkan sketsa yang dia buat pada penjahit yang biasa merealisasi semua hasil karyanya. Dia juga memeriksa pembukuan serta semua urusan butik. Hari ini dia sudah mempunyai janji dengan klien yang meminta jasanya untuk merancang gaun pengantin bernuansa daerah asal si klien. Seminggu penuh Laura mempelajari baju-baju adat daerah itu untuk dia modifikasi menjadi kebaya modern bernuansa baju adat.
“Lala … kamu beneran Lala ‘kan?” sapa Ruben sang calon mempelai yang akan meminta jasanya.
“Iya Kak,” jawab Laura lirih. Tak dia sangka akan bertemu dengan sahabat akrab Tommy.
Ruben memeluk Laura erat yang terisak didada lelaki itu. Bagi Ruben, Laura seperti adiknya sendiri. Dia menyayangi Laura sebelum gadis itu resmi menjadi kekasih sahabatnya. Rasa sayangnya murni sayang terhadap adiknya.
Ruben mengenal Laura sejak Laura kelas tiga SD dan pindah ke sebelah rumahnya. Ruben yang anak bungsu dari tiga bersaudara lelaki semua senang punya adik perempuan yang bisa dia lindungi. Ruben selalu siap membela bila Laura dinakalin temannya.
Sedang Laura yang tak pernah merasakan punya kakak, senang memiliki Ruben sebagai kakak. Kakak Laura meninggal tiga bulan sebelum Laura lahir. Perkenalan Tommy dan Laura juga karena seringnya Tommy bermain di rumah Ruben.
Witri calon istri Ruben bingung melihat calon suaminya mengenal designer baju pernikahannya. Dan sekarang designer itu berada dalam pelukan Ruben. Dia menunggu hingga keduanya puas dan menjelaskan.
Witri perempuan yang sangat sabar. Dia juga pengertian terhadap sikap egois dan keras kepala Ruben. Itu sebabnya sang casanova bertekuk lutut pada Witri.
“Sayank, kenalkan, ini adikku. Kamu bisa tanya mami di rumah bagaimana hubungan kami. Aku lost kontak dengannya saat calon suaminya meninggal dan dia menghilang.” Ruben mengenalkan Laura pada Witri.
“Aku beberapa kali telponan dengan dia, tapi baru kali ini bertemu,” Witri mengulurkan tangannya yang disambut pelukan oleh Laura.
“Kalau kamu adik Ruben, kamu juga adikku,” bisik Witri. Sementara Ruben langsung menghubungi maminya via video call.
“Kenapa By?” tanya sang mami. Di dalam keluarga panggilan sayang Ruben adalah Ubby.
“Mami, aku ada kejutan buat Mami.” Ruben senang dan makin membuat maminya penasaran.
“Ada apa, cepat beritahu. Jangan bikin Mami mati penasaran!” dengan antusias sang mami bertanya apa kejutan dari anak bungsunya itu.
“Lalaaaaaaaaaaaa,” pekik tante Clara memanggil anak perempuan yang dianggap bungsu dikeluarganya.
“Iya Mi, ini Lala,” isak Laura kembali pecah. Witri mengerti dan memeluk perempuan itu. Dia semakin yakin Laura memang punya tempat special di keluarga calon suaminya.
Akhirnya pertemuan pagi ini seperti reuni keluarga bagi Laura dan Ruben. Setelah selesai diskusi tentang baju yang mereka inginkan, Ruben dan Witri pamit.
“Janji ya, kalau ke Bandung hubungi Kakak, kita hang out bareng,” Witri berpesan pada adik kecilnya itu. Dia yang baru kenal juga langsung jatuh hati terhadap kepribadian gadis itu.
Witri dan Ruben juga sudah sepakat akan main ke panti asuhan milik Laura di Cimahi. Dan yang patut di syukuri, Witri berjanji menjadi donatur tetap. “Kakak akan menjadi donatur tetap panti asuhanmu. Walau nominalnya tidak banyak,” janji Witri.
“Terima kasih Kak. Semoga semua dapat balasan setimpal dari Allah,” balas Laura. Tadi Ruben sudah mentransfer donasi ke rekening yayasan. Bukan rekening pribadi Laura, atau rekening butik.
***
Sore Laura kembali ke rumah yang dia tempati. Dia tinggal dengan uwak Ganis. Rumah mereka terletak di belakang panti asuhan. Ada pintu besi penghubung rumah dengan panti asuhan. Sehingga siapa pun dari rumah uwak Ganis tak perlu keluar pagar dan berputar ke pagar depan panti. Cukup melalui pintu penghubung itu saja.
Mobil Laura langsung dimasukkan garasi di rumah uwaknya itu. Tentu saja pagar penghubung rumah uwak dan panti tidak bisa di lewati mobil. Karena terletak di belakang panti dan hanya ada jalan setapak saja.
“Nengsih, kamu ke rumah ya,” perintah Laura terhadap seorang staff di panti. Tadi dia berbelanja beberapa kebutuhan panti yang sudah menipis bahkan habis. Setiap akan ke Bandung atau pergi keluar Laura memang mencatat apa kebutuhan yang harus dia beli. Juga termasuk kebutuhan rumah tangga.
Di rumah wak Ganis tinggal empat orang. Uwak Ganis, Laura, bik Sanah dan mang Asep suami bik Sanah. Kedua asisten ini mengerjakan semua. Dan mereka juga kadang membantu di panti tanpa diminta. Yang penting pekerjaan di rumah tidak terganggu. Mang Asep juga bertugas sebagai sopir uwak bila beliau ingin bepergian.
“Teh, tadi ada telepon, yang minta data berapa jumlah anak yang saat ini ditanggung panti juga jenis kela_minnya. Berapa jumlah pegawai dan nomor rekening untuk donasi. Katanya dalam tiga hari lagi akan datang perwakilan mereka agar mereka bisa mengadakan santunan,” Nengsih melaporkan kegiatan hari ini termasuk telepon masuk.
“Besok pagi telepon lagi, minta mereka ubah jadwal kedatangan jangan tiga hari lagi. Karena saya tidak bisa menemui mereka. Saya harus ke Bandung. Dan mereka harus bertemu saya atau Uwak, karena kami tidak terima bantuan bila hanya untuk pencitraan!” Laura memberi Nengsih perintah dengan lembut, dia memimpin panti dengan welas asih, sehingga para pekerja betah kerja di panti.
“Iya Teh, saya mengerti perintah Teteh. Besok akan saya hubungi nomor yang tadi ditinggalkan.” Nengsih dan mang Asep bersiap membawa belanjaan yang Laura alokasikan untuk kebutuhan panti.
***
Di ruang kerja panti, selain mengamati anak-anak asuhan serta semua kebutuhannya, Laura juga mengerjakan tugasnya sebagai designer di sini. Di meja kerjanya banyak sketsa karyanya.
“Jadwal dokter periksa hari ini dokter siapa?” tanya Laura pada Karni yang kebetulan menemani Laura memeriksa bayi disetiap ruang. Saat ini ada 3 bayi di bawah 5 bulan, 7 bayi di bawah satu tahun, 12 batita dan 7 balita.
Yayasan juga sudah bekerja sama dengan kantor hukum untuk menangani adopsi. Penelitian calon orang tua asuh sangat teliti karena sejak uwak mendirikan yayasan ini, uwak tak ingin bayi yang mereka serahkan akan bernasib buruk.
Yayasan juga bekerja sama dengan dokter yang berjiwa sosial, karena para dokter bekerja suka rela tanpa bayaran memeriksa semua anak asuh di yayasan ini. Malah ada beberapa dokter yang rutin memberi donasi berupa vitamin atau obat selain susu dan uang. Uwak dan Laura merasa sangat beruntung hidup di lingkungan yang hangat kasih sayang ini.
“Dokter Ilyas,” balas Karni.
Mendengar nama itu, Laura bergegas keluar ruangan dan kembali ke ruang kerjanya. Dia agak sungkan dengan sosok itu. Dokter itu satu bulan lalu menyatakan cinta, tapi Laura tak bisa menerimanya. Dia masih tak bisa mengganti sosok Tommy di hatinya.