
DARI SEDAYU YANKTIE UCAPKAN SELAMAT MEMBACA
August baru saja selesai tugas. Dia menyerahkan laporan terbangnya dan bergegas untuk makan siang. Dia sudah bertekad malam nanti akan mendatangi Julia di rumah gadis itu. Dia merindu sosok lembut tunangannya. Ups, lebih tepatnya mantan tunangannya.
Sehabis salat Maghrib, August bersiap berangkat menuju rumah Julia. Dia membawa perhiasan yang dia beli di Singapore sebagai hadiah ulang tahun Julia minggu lalu. Selain itu dia membawa pizza kesukaan Julia.
“Teh, ada tamu,” teh Imah asisten Julia melapor. Saat itu Julia baru saja selesai mandi sehabis pulang kerja.
“Saha?” tanya Julia santai. Rasanya dia tak ada janji dengan siap pun.
“Den August,” jawaban teh Imah tentu langsung membuat Julia kaget. Karena sudah tiga bulan mereka putus.
‘Mau apa lagi dia datang?’ Julia hanya bisa bertanya dalam hatinya.
“Suruh tunggu aja Teh, sekalian bikinkan teh panas,” pinta Julia. Dia sekedar mengeringkan rambutnya dan menyisir saja.
Julia keluar tanpa polesan make up. Di rumah Julia memerdekakan wajahnya dari apa pun. Sejak dulu saat masih tunangan dengan August, atau sekarang sedang penjajakkan dengan Bastian, kalau di rumah Julia memang menerima tamu tanpa polesan.
Kalau mereka ( salah satunya pasti, bukan keduanya ) nanti menjadi suaminya, mereka sudah tahu bagaimana wajah asli dirinya. Itu prinsip Julia. Dia tak merasa perlu berpura-pura dan sembunyi dibalik gemerlap make up.
“Silakan diminum,” Julia mempersilakan August meminum teh yang sudah dihidangkan oleh teteh Imah. Di meja juga ada roti unyil yang kemarin Julia beli di Bogor.
August memandang kagum wajah polos perempuan yang sangat dia cintai. Dia sangat menyesal pernah melukai perempuan itu dua kali. Koq dua kali? Yang pertama Julia kecewa ketika mengetahui masa lalu August yang kotor.
FLASH BACK ON
Siang itu Julia main ke rumah calon mertuanya mengantar pisang tanduk yang dibawa teteh Imah dari Bogor. Kebetulan saat itu August tak ada di rumah karena pagi tadi baru saja terbang ke Hongkong.
Karena memang sudah dekat dengan bu Nenden, maminya August, maka Julia datang saja walau August tidak ada. Ke rumah calon mertua tidak harus ketika ada calon suami dirumah aja kan? Dia juga butuh berinteraksi dengan calon mertuanya itu.
“Punya rencana apa Mi?” Julia bertanya pada calon mertuanya. Dia menanyakan mau di masak apa pisang itu. Sang mertua tak pernah bosan dengan pisang tanduk.
“Hari ini Mami lagi malas, pengen dikukus ajalah. Enggak ribet,” jawab bu Nenden. Dia sedang memotong pisang tanduk menjadi empat buah dan siap dia letakkan di dandang yang bawahnya sudah dia isi air.
“Wuiiiiiiiiiih, ada tamu jauh nih,” Bagas yang baru datang main futsal menggoda teman saat kuliah dulu. Bagas masih kuliah karena dia tak sepintar Julia yang semester lalu sudah di wisuda.
“Jauh di mata dekat di hati ‘kan?” Julia menjawab godaan calon adik iparnya sambil mengangkat pisang kukus yang sudah masak. Memang mengukus pisang tak perlu waktu teramat lama.
“Kamu ‘tu beda bangeeet ya ama mantannya Mas August dulu,” celetuk Bagas tanpa dipikir.
“Emang kenapa mantannya?” selidik Julia. Dia tak pernah membahas masa lalu August.
“Mantannya baru dua kali sih ke rumah ini. Karena oma dan bude enggak suka saat pandangan pertama. Padahal dia datang ke sini pakai baju sopan dan ramah. Dia juga bawa oleh-oleh. Tapi entah kenapa oma dan bude enggak suka. Mungkin feeling aja. Tapi biar ditentang oma, mereka tetap tinggal satu rumah sih. Trus entah kenapa mereka pisahan karena mas August enggak cerita penyebab mereka putus setelah hidup bersama hampir dua tahunan. Yang pasti lebih satu tahunlah mereka itu bersama,” dengan santai dan tanpa sadar Bagas menceritakan hal yang selama ini ditutupi oleh August dari Julia. Sedang di keluarga semua tahu kelakuan buruk August kala itu.
Bagas pikir August dan Julia sudah saling terbuka dalam segala hal.
“Namanya June, dia pramugari di maskapai yang sama dengan mas August. Aku yakin mereka sekarang masih sering bertemu di kantor. Atau bisa jadi mereka masih sering terbang bersama kalau masih satu team. Awal mereka dekat ‘kan karena mereka satu team,” jelas Bagas lebih lanjut.
Julia berupaya kuat. Lalu dia sengaja menyetel alarm 4 menit dari saat akan sekarang. “Maaf Mi, aku angkat telepon dulu,” Julia minta izin pada bu Nenden saat mereka sedang mengatur meja makan dan ponselnya berdering. Dia sedikit menjauh dan berpura-pura bicara di teleponnya.
“Oma, Mami, maaf. Julia enggak jadi makan siang di sini, ini teh Imah telepon katanya bibi dari Cianjur telepon sedang menuju ke rumah dan sudah keluar tol Jagorawi.” Julia segera pamit.
Julia sudah tak bisa lagi bertahan dirumah August. Dia tak tahan ingin menangis. Dadanya sesak mendengar fakta tentang masa lalu calon suaminya.
‘Hidup bersama tanpa pernikahan adalah hal kotor dalam agama manapun. Itu zina namanya!’
‘Kalau mereka masih sering bersama saat penerbangan keluar negeri, artinya mereka menginap di hotel yang sama ‘kan? Siapa yang bisa melarang bila mereka pindah kamar dan kembali berbagi peluh?’
Sejak saat itu Julia tidak membalas chat August, bahkan membacanya pun tidak. Panggilan telepon dari August pun tak dia terima. Dia sangat sakit hati atas ketidak jujuran yang dilakukan August. Andai August jujur tentu Julia akan menerima, karena tak ada seorang pun yang bisa menghapus masa lalu.
Merasa Julia selalu menghindarinya, August pun berupaya mendatangi Julia di hari kerja, karena saat week end Julia selalu pulang ke Bogor.
“Kamu kenapa Babe, koq sepertinya selalu menghindari Kakak?” tanya August yang sengaja datang ke kantor Julia menjelang gadis itu pulang kerja. Dia menunggu di lobby sehingga Julia tak bisa menghindar.
“Kakak ingat saat Kakak menyatakan cinta padaku dan Kakak meminta aku jadi pendamping hidup Kakak. Apa syarat yang aku minta dulu?” tanya Julia menatap lekat bola mata August.
August berupaya menarik ingatannya saat dua tahun lalu menyatakan cinta pada Julia. ‘Apa Kakak serius? Apa Kakak sanggup selalu berkata jujur, karena aku paling tidak mau ada kebohongan,’ demikian dulu pertanyaan balik dari Julia.
“Apa aku berbohong sehingga kamu marah?” sekarang August yang balik bertanya.
“Aku pernah tanya, berapa mantanmu, dan kakak hanya cerita semua mantan semasa SMA dan kuliah saja. Kakak beritahu nama dan berapa lama pacaran secara jujur dan rinci padaku. Tapi … Kakak tidak cerita mantan yang malah sudah hidup bersama selama lebih dari satu tahun !” cecar Julia dengan sinis.
DHUAAAAAAAR … August langsung terdiam.
FLASH BACK OFF
\===========================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UP, BACA NOVEL YANKTI YANG LAIN DENGAAN JUDUL I MARRIED MY DAUGHTER YAAAA
=========================================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta