TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
MUNGKIN DIA UNDER PRESSURE



Ilyas dan Novia sengaja tidak memutus cerita Namira. Mereka sudah mendapat sedikit info dari bu hajah Miradz tadi.


“Kami di usir dari rumah dengan diberi kelonggaran waktu 2 hari. Tapi keesokkan harinya kakak ipar sudah pergi meninggalkan Nindi dan saya tanpa berkata apa pun. Kalau tak ingat Nindi adalah anak kak Almi, saya lebih baik mati, karena saat itu saya sedang hamil 5 minggu akibat diperkosa 2 kali oleh kakak ipar saya.” Namira mulai terisak.


“Saat kami diusir, saya masih bisa hubungi kak Almi dan menceritakan kalau rumah sudah disita orang akibat kelakuan kakak ipar dan saya juga menceritakan kakak ipar meninggalkan Nindi pada saya. Tapi saya belum berani menceritakan kehamilan saya pada kak Almi. Kak Almi mengirim uang agar saya dan Nindi bisa mengontrak sepetak kamar untuk berteduh. Saya segera membereskan semua barang yang tak seberapa, yang terpenting adalah surat-surat Nindi. Saat itu Nindi baru naik ke kelas 2. Saya bayarkan kontrakan untuk 1 tahun. Bulan berikutnya kak Almi masih mengirim uang, kali ini agak banyak, sebesar yang biasa dia kirim untuk kakak ipar. Beda saat bulan lalu karena saat itu dia hanya mengirim uang darurat. Tapi bulan berikutnya dia tak mengirim uang dan nomornya juga tak bisa lagi saya hubungi. Seorang temannya ada yang memberitahu saya, kakak saya marah karena menduga saya hamil karena selingkuh dengan suaminya. Padahal ilham ada karena saya diperkosa, bukan karena saya suka pada kakak ipar saya. Sejak itu semua biaya hidup saya tanggung sendiri. Dan sejak kenaikan kelas 3 terpaksa Nindi belum sekolah lagi karena semua simpanan saya habis untuk biaya melahirkan ilham. Dan sekarang untuk bertahan hidup saya keliling bertanya siapa yang butuh bantuan tenaga saya,” akhirnya Namira berhasil menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi.


“Jadi, ilham dan Nindi satu ayah?” tanya ilyas dengan bodohnya.


“Muhun Pak,” jawab Namira sambil mengangguk membenarkan pertanyaan Ilyas.


“Kamu kuliah di mana dan semester berapa?” tanya Novia.


“Di PGRI Buk, semester 5 saat saya berhenti setahun lalu.” jawab Namira tertunduk. Ada nada sesal dalam kalimatnya. Sesal akan nasib yang membuatnya terjebak dengan Nindi dan ilham serta meninggalkan cita-citanya menjadi guru.


“Tadi saya bertanya usia ilham dan kamu belum menjawabnya,” Novia kembali bertanya.


“38 hari Buk,” balas Namira pelan.


‘Sebegitu berat nasibnya, bahkan saat usia bayi belum 40 hari dia harus banting tulang untuk sesuap nasi,” ilyas makin kasihan terhadap perempuan cantik itu. Namun dia tak ingin Namira tinggal di rumah ini. Bisa bahaya untuk rumah tangga kakaknya. Walau bagaaimana pun, kehadiran orang asing bisa jadi pemicu rumah tangga. Jangankan orang lain, adik ipar saja bisa jadi perusak. Mungkin bukana karena perselingkuhan, bisa saja karena tak suka ada pengeluaran tambahan atau terganggu privasinya.


“Namira, mulai besok kamu tidak boleh bekerja lagi. Besok kamu urus surat pindah sekolah Nindi. Lalu kamu bereskan semua barangmu. Apa rumah masih ada tunggakan sewa?” tanya Ilyas.


“Tapi Pak, kalau tidak bekerja, bagaimana kami bisa makan?” dengan bingung Namira bertanya. Dia malah belum menjawab soal sewa kamarnya.


“Nanti kamu bekerja dengan adik saya di Bandung ya,” jelas Novia lembut. Dia sangat tersentuh dengan jalan hidup gadis … ups perempuan muda di depannya ini.


“Bagaimana soal sewa kamar?” tanya Ilyas lagi.


“Saya sudah membayar sampai bulan ini Pak, jadi masih ada waktu 8 hari lagi,” jawab Namira.


“Baik, ini saya berikan kamu uang sekedar untuk transport urus-urus surat pindah sekolah Nindi. Mulai besok sejak jam 8 pagi hingga jam 5 sore kamu bekerja di sini. Jadi kamu tak perlu meningglkan Nindi menjaga ilham. Minggu depan saya jemput kamu kembali karena malam ini saya akan kembali ke Bandung,” ilyas langsung memutuskan semuanya dan dia memberikan beberapa lembar uang merah kepada Namira yang diterima perempuan itu dengan tangan bergetar.


“Bik, tolong antar Namira pulang,” Novia meminta asistennya mengantar Namira dan Nindi pulang. Tadi perempuan lembut itu sudah meminta sang bibik membungkuskan nasi serta lauk untuk makan malam Namira dan Nindi.


“Tidak apa-apa, ini sudah mau maghrib. Kamu akan kesulitan menggendong ilham dan menggandeng Nindi. Biar bibik yang menggandengnya,” balas Novia ramah sambil mengusap lembut kepala Nindi. Andai boleh, mau rasanya Nindi dia angkat anak.


***


Hari kedua sejak Julia tak ada disisinya. Bastian masih kesulitan menghubungi gadis itu. Berkali-kali dia hanya bisa melihat postingan sosial media  perempuan yang dikasihinya itu. Dia melihat destinasi kunjungan Julia. ‘Dia benar, sudah sampai di Singapore.’ walau dilihatnya ada senyum di foto itu, tapi dia tahu, senyum itu adalah luka yang disembunyikan. Julia hanya tersenyum agar kedua orang tuanya melihat dia bahagia selama liburannya.


Banyak chat yang dia kirim, masuk hanya tidak dibuka oleh perempuan yang kalau dia masih boleh mengakuinya, adalah kekasih hatinya. Semoga saja masih boleh. Bastian masih agak senang, karena nomornya tidak di block oleh Julia. Dia lihat semua pesannya masih masuk dan dia masih bisa melihat status-status Julia.


“Kamu ke ruangan saya sekarang juga,” perintah Bastian pada Harun dan Yuni.  Hari ini Bastian harus keluar meeting. Biasanya ada Julia yang menemaninya.


“Bapak memanggil kami?” tanya Yuni yang tak sengaja bertemu Harun di depan pintu ruang big boss mereka. Tentu Yuni tidak tahu Harun juga dipanggil karena para manager punya ruangan sendiri sedang staff seperti dirinya bergabung dengan staff lain. Hanya kubikel yang memisah meja para individu.


“Silakan duduk,” Bastian masih sopan menyuruh kedua pegawainya duduk di kursi depan meja kerjanya. “Anda pelajari ini dalam waktu 1 jam. Setelah itu kita berangkat meeting dengan PT Cahaya Gemintang.” perintah Bastian pada Harun sambil menyerahkan sebundel berkas yang cukup tebal dan pasti sulit dipelajari hanya dalam tempo 1 jam saja.


“Dan kamu, siapkan peralatan, kamu akan ikut meeting untuk mencatat semua yang dibicarakan dalam meeting,” kali ini Bastian memerintah Yuni.


“Silakan kalian tinggalkan ruangan saya. 60 menit lagi kita bertemu di lobby. Dan tidak ada yang terlambat. Ingat, 60 menit lagi di lobby, bukan 60 menit lagi anda baru meninggalkan ruangan anda!” tegas Bastian lagi saat mereka akan menutup pintu ruangannya.


‘Mungkin ini yang membuat Julia tidak betah. Dia under pressure,’ batin Yuni.


“Gilaaaaaaaaaaaaaaaaa, berkas setebal ini harus aku pelajari dalam waktu 40 menit sebelum kita ketemu di lobby,” keluh Harun.


“Anda pasti bisa Pak,” Yuni memberi semangat pada manager marketing yang memang langsung menjadi pimpinannya itu. Selanjutnya mereka diam kembali masuk lift untuk sampai ke ruangan mereka masing-masing.


======================== 


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta