
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
“Wah ketemu lagi pak Dokter,” sapa August yang entah mengapa mendadak berangkat ke panti asuhan. Kali ini dia tak membawa diapers dan su5u. Kemarin dia baru saja mentransfer ke rekening panti. Saat ini dia membawa bolu untuk para bunda pengurus panti.
“Apa khabar pak August?” tanya Syahrul yang baru saja selesai memberikan imunisasi dan sedang menikmati es jeruk yang disediakan pengurus panti, perawat yang bertugas membantunya sudah pamit terlebih dahulu. Kalau program imunisasi memang Syahrul menugaskan seorang perawat untuk membantunya.
“Alhamdulillah baik Dok,” jawab August.
“Terima kasih pak August,” bik Sanah yang menerima bawaan August segera membawanya ke belakang, tak lama dia membawa bolu dalam piring serta es jeruk untuk August.
“Sering datang kemari?” selidik Syahrul.
“Sering sih enggak, tapi pernah beberapa kali sejak kunjungan amal dengan club waktu itu. Tapi yang pasti saya ke sini tanpa pernah janjian dengan siapa pun. Sehingga tak pernah satu kali pun bertemu bu Laura. Kami malah pernah tanpa sengaja bertemu di Dago,” jawab August jujur.
“Hahaha, saya yang orang Bandung saja sulit bertemu bu Laura bila tidak janjian,” jawab Syahrul. Ada nada lega di suaranya. Dia cukup senang August tak pernah janjian dengan Laura.
“Assalamu’alaykum,” salam dari suara bening menginterupsi percakapan dua lelaki dewasa itu.
“Wa’alaykum salam sayang, sini masuk,” Syahrul mengulurkan tangannya untuk dicium anak perempuannya dan diikuti oleh anak bungsunya. Memang bila Syahrul berkegiatan di panti, dia sering meminta kedua anaknya langsung menemui di sini.
August senang melihat kedua anak Syahrul yang manis kelakuannya dan sangat sopan. Kedua anak tersebut langsung mencuci tangan dan mendekati para penghuni panti. “Mereka sangat senang ya?” komentar August.
“Sejak kecil, bila saya berkegiatan di sini, sepulang sekolah mereka menyusul ke sini. Saya sengaja memperlihatkan banyak anak tak seberuntung mereka. Sehingga mereka tak boleh terpuruk karena ditinggal oleh ibu kandungnya yang pergi mengejar impiannya sendiri.” Syahrul menceritakan fakta tentang kondisi anak-anaknya.
“Daddy, tadi aku chat Mommy dan Mommy bilang dia di butiknya. Andai aku chat Mommy tadi pagi sebelum berangkat sekolah, aku tentu bisa meminta bertemu dengan Mommy,” Nazwa mengatakan Laura tak ada di panti.
“Benar sayang, pagi tadi Daddy selisih jalan. Daddy juga enggak ketemu. Kamu kalau kangen, janjian berdua aja seperti biasa. Jangan paksa Mommy untuk tidak berangkat ke butik. Kamu tahu arti butik itu untuk adik-adikmu di sini,” balas Syahrul menjelaskan mengapa Laura harus berangkat ke butiknya.
“Yes Dadd. I know about it,” jawab Nazwa. Dia menggendong anak berumur sekitar satu tahun.
“Nazwa sudah mulai menabung uang jajannya. Dia sisihkan untuk disetor ke rekening panti asuhan,” bisik Syahrul pada August.
‘Aku kalah dengan anak kecil ini. Dia sangat mulia,’ batin August. “Two thumbs for you Sir!” August mengakui kehebatan Syahrul mendidik anak-anaknya.
August lalu masuk ke ruang bermain. Di sana terlihat Wulan dan bik Sanah sedang menjaga 4 batita yang sedang bermain. Yang batita memang hanya 4 ini Bik?” tanya August.
“Iya Pak, biasanya para orang tua asuh lebih suka yang masih bayi. Bukan batita, apa lagi balita.” jawab bik Sanah. August menegur batita di sana dan mencoba mengajak mereka berkomunikasi. Tentu saja August yang belum biasa dengan anak kecil menjadi agak kaku.
Agak lama August dan Syahrul ngobrol banyak hal. Sore mereka akan pulang hampir bersamaan meninggalkan panti asuhan. “Mari Dokter, sampai jumpa lain waktu,” August pamit lebih dulu, sebelumnya dia mengulurkan tangan untuk pamit.
“Iya. Sampai jumpa lain waktu,” balas dokter Syahrul ramah. Dia sedang menunggu anak-anaknya selesai mandi dan ganti baju. Sejak bercerita banyak hal, sudut pandang August pada dokter Syahrul berubah. Begitu pun sebaliknya. Mereka sadar tidak sedang bersaing mendapatkan Laura. Karena August hanya tertarik kepribadian Laura saja. Belum sampai taraf menyukai apalagi mencinta. Sedang Syahrul mendamba, tapi tak ingin memaksa.
“Kita makan malam di mana?” tanya Syahrul pada ke dua buah hatinya.
“Aku ingin di saung ambu,” jagoan kecil Syahrul mengemukakan keinginannya.
Dengan tanpa banyak bicara Syahrul melajukan mobilnya ke rumah makan yang anaknya inginkan. Tapi kejutan tak menyenangkan mereka dapatkan di sana!
***
Laura baru saja memasuki halaman panti. Sore tadi dia tak belanja seperti biasa karena kebutuhan panti belum ada yang butuh untuk dibelanjakan. Dia tentu tak mau membuang waktu masuk pertokoan hanya sekedar window shopping. Dia lebih memilih istriahat setelah penat berkarya. “Non Nazwa baru saja pulang,” Nengsih melaporkan kalau anak Syahrul lama menunggu kepulangan Laura.
“Saya banyak kerjaan dan tidak bisa pulang cepat,” jawab Laura santai. Padahal memang dia menghindari bertemu Syahrul. Dia masih tak ingin Syahrul berharap terlalu banyak padanya, padahal dia belum bisa memutuskan menerima cinta sang dokter atau tidak. Bahkan tadi pagi saja dia sengaja cepat berangkat agar tak bertemu dengan Syahrul.
“Dan tadi pak August juga datang lagi,” Nengsih melaporkan siapa saja yang datang sekaligus menyerahkan buku laporan kegiatan imunisasi.
Laura segera menerima buku itu dan berjanji akan memeriksa setelah dia mandi nanti. “Saya mandi dulu ya, nanti sehabis makan malam saya akan koreksi sekalian melihat semua baby.”
Wulan semakin yakin untuk mengambil kuliah S1 kebidanan. Tadi dia sudah membaca semua info tentang prodi yang terkait serta kisaran uang SPP yang harus dia persiapkan. Dia berharap bisa mendapat beasiswa dan langsung kuliah. Karena kemarin ibu Laura mengatakan kalau bagi mahasiswa tak ada larangan bila sedang hamil atau sudah menikah. Wulan berharap anaknya tidak rewel saat dia kuliah nanti. “Kamu harus ngertiin kondisi ibu ya sayangku, kita berdua akan berjuang memperbaiki taraf hidup kita,” sambil mengelus lembut perutnya, Wulan berkata pada calon anaknya.
Dia mulai membereskan semua buku SMA nya yang sudah dia pelajari. Buku cetak akan dia sumbangkan ke adik kelas yang membutuhkan atau dia jual ke toko buku bekas agar lebih bermanfaat. “Kamu selalu pintar, ibu sayang kamu Nak. Sehat selalu ya.”
“Wulan, jangan lupa minum su5u bumil,” Sukma mengingatkan Wulan dari depan pintu kamarnya karena memang Wulan tak menutup pintu saat sedang bebenah.
“Muhun Teh, sehabis ini saya akan membuat su5u. sekarang mau bebenah dulu,” Wulan senang diingatkan oleh seniornya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa
judul cerita KEMBALINYA SUAMIKU penulis SUSANTI 31 pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya
Cerita ringkasnya seperti ini :
Salsa Natasya Anajani tidak pernah menyangka akan mendapat kejutan yang luar biasa di hari ulang tahun putra kecilnya. Suami yang telah lama tiada kini kembali lagi dengan versi yang berbeda, mungkin fisik dan ketampanan masih sama, tapi tidak dengan sikap dan cinta untuknya. Azka Afrizal Wijaya pulang dengan ingatan yang hilang sepenuhnya, bahkan dengan tega mempertanyakan status Salsa istrinya. "Apa benar dia anakku dan kau istriku? Apa kau punya bukti tentang itu?" Mampukah Salsa membuktikan statusnya pada Azka? Atau ia harus menjadi asing di mata suaminya sendiri?