TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
AKU BENAR-BENAR TERSINGKIR DARI HIDUPNYA!



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


 \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Mangga, biar sekalian aku kenalkan ama keponakan-keponakanku yang sakit. Tapi apa enggak ganggu waktu besuk Kakak?” tanya Julia. Dia tak keberatan August menemaninya menengok Guntur dan Topan.


“Ke sini dulu ya Kak,” Julia mengetuk kamar Bastian dan membuka pintunya. “Ayok Kak masuk.”


“Assalamu’alaykum,” sapa Julia lembut. Bastian yang tak menduga Julia datang bersama mantan tunangannya tentu memasang wajah tak suka. Julia menurunkan 4 cup puding di meja pasien. “Koq diem? Enggak jawab salamku?” tanya Julia sambil mencium pipi Bastian dengan lembut.


August tentu kaget melihat polah Julia. “Sini Kak, habis ini kita ke ruangan keponakanku,” tanpa rasa bersalah Julia meminta August mendekat.


“Assalamu’alaykum pak Bastian, anda sakit? Semoga cepat sembuh. Maaf saya tak membawa apa pun karena tidak sengaja bertemu Eneng di parkiran,” August mengulurkan tangan pada Bastian.


“Wa’alaykum salam. Iya enggak usah repot-repot,” jawab Bastian masih bingung mengapa Julia membawa lelaki ini menjenguknya.


“Aku nengok pacar-pacarku dulu ya. Nyuapi mereka dulu baru nanti balik lagi nyuapi uncle nya,” Julia pamit pada Bastian. Namun lelaki itu mencekal pergelangan tangan Julia, seakan tidak mengizinkan kekasihnya itu pergi.


“Jangan kolokan, aku nengok krucil dulu,” bisik Julia sambil kembali mencium pipi Bastian.


“Jangan lama-lama. Atau aku akan turun menyusulmu,” ancam Bastian.


“Silakan susul aku. Dan aku akan langsung pulang tanpa mau ke kamar ini lagi,” Julia mengancam balik. Dia tak mau kalah gertak dengan pasien besarnya.


“Ayok Kak,” ajak Julia pada August.


“Mari pak Bastian, saya pamit. Sekali lagi semoga cepat pulih,” tanpa kembali salaman August segera keluar menyusul Julia yang sudah menunggunya di luar ruangan.


“Assalamu’alaykum ganteng-gantengnya Aunty,” sapa Julia ketika memasuki ruangan sebelah.


“Wa’alaykum salam Aunty,” hampir bersamaan dua krucil ganteng membalas salam yang Julia berikan.


“Kak, kenalkan dua keponakanku,” Julia menggamit August yang bengong melihat dua anak kembar itu. Selama dia berpacaran hingga tunangan, dia tidak tahu Julia punya keponakan kembar.


“Aku koq enggak tahu kamu punya keponakan kembar?” tanya August masih bingung, tapi dia mendekat ke arah brankar.


“Mereka keponakan Bastian,” jawab Julia santai. Dia membuka plastik wrap dan bersiap menyuapi Guntur dan Topan. “Enin kemana?” tanya Julia.


“Baru saja keluar, beli tissue basah sekalian minum,” jawab Guntur.


“Ayo ade pindah biar Aunty gampang nyuapinnya,” Julia meminta Guntuk pindah ke brankar Topan. Julia membimbing mereka berdoa sebelum makan lalu mulai menyuapi keduanya.


“Lho YA, kenapa kamu di sini? A’a siapa yang suapin?” tanya bu Achdiyat yang baru saja masuk ke ruangan itu sambil membawa satu tas plastik besar.


“Kak, kenalkan bu Achdiyat. Mamahnya Bastian,” August semakin tahu, ternyata dirinya sudah benar-benar tersingkir dari kehidupan Julia.


“Assalamu’alaykum Bu,” dengan sopan August menyalami bu Achdiyat. “Neng, saya langsung pamit saja. Akan menjenguk teman.”


“Iya Kak, terima kasih sudah mau menjenguk,” balas Julia sambil terus menyuapi kedua pacarnya.


“Aunty bawakan kalian puding. Sehabis makan dan ada jeda sebentar, nanti kalian bisa makan pudingnya. Topan katanya sore ini bisa buka infus ya?” Julia terus saja menyuapi sambil bercerita dengan kedua bocah ganteng itu.


Bastian POV


“Assalamu’alaykum,” aku dengar sapa  lembut dari seorang perempuan yang aku rindu sejak kemarin dia pulang. Aku sudah sangat senang dan hendak menjawab salamnya ketika aku melihat dia masuk dengan mantan tunangannya! Tentu saja aku langsung kesal. Gadis itu mengeluarkan 4 cup puding dari tas yang dia bawa dan meletakkan di meja dekat brankarku. “Koq diem? Enggak jawab salamku?” tanyanya lembut dan lirih. Aku rasakan dia mencium pipiku dengan penuh kelembutan. Tentu aku sangat suka dan bangga. Dia melakukan semuanya di depan mantan tunangannya yang aku lihat wajahnya sangat tak suka.


“Sini Kak, habis ini kita ke ruangan keponakanku,”  Julia meminta August mendekat, entah apa maksud kekasihku ini.


“Assalamu’alaykum pak Bastian, anda sakit? Semoga cepat sembuh. Maaf saya tak membawa apa pun karena tidak sengaja bertemu Eneng di parkiran,” lelaki itu bertanya bodoh padaku. Sudah tahu terbaring dan masih diinfus juga mendapat transfusi darah. Dia malah bertanya aku sakit! Huuuh menyebalkan. Namun tetap kuterima uluran tangannya.


‘Eneng! Dia masih memanggil Julia dengan nama kesayangan ENENG. Makin menyebalkan saja!’


“Wa’alaykum salam. Iya enggak usah repot-repot,” jawabku cepat.


“Aku nengok pacar-pacarku dulu ya. Nyuapi mereka dulu baru nanti balik lagi nyuapi uncle nya,” tanpa aku duga, kekasihku hendak langsung meninggalkanku kembali. Aku cekal pergelangan tangannya, aku tidak  mau dia segera meninggalkanku.


“Jangan kolokan, aku nengok krucil dulu,” kembali dia mencium pipiku. Aku rasa dia kangen tapi malu mengatakannya.


“Jangan lama-lama. Atau aku akan turun menyusulmu,” aku mencoba cara yang dia gunakan padaku. Aku mengancamnya.


“Silakan susul aku. Dan aku akan langsung pulang tanpa mau ke kamar ini lagi.” Oh my God, dia malah lebih keras menggertakku!


“Ayok Kak,” ajak Julia pada August.


“Mari pak Bastian, saya pamit. Sekali lagi semoga cepat pulih,” August segera keluar menyusul Julia yang sudah menunggunya di luar ruangan.


Sekarang aku kembali sendirian, tapi setidaknya aku tahu, sebentar lagi kekasihku akan datang menyuapiku.


“Mau Mamah bantu makan?” tanya ibuku yang tak kuperhatikan kapan dia masuk.


“Apa Julia masih lama? Apa masih ada temannya?” tanyaku pada mamah.


“Dia masih menyuapi Guntur dan Topan. Temannya tak lama di sana, langsung pulang,” jawaban mamah membuatku tenang. Setidaknya memang mereka hanya bertemu di parkiran seperti yang August bilang.


“Mamah bantu aku ke kamar mandi saja,” pintaku pada mamah. Aku agak sulit karena tanganku ada infusan dan kantong darah. Aku tak enak bila meminta tolong pada Julia untuk pergi ke kamar mandi.


Saat selesai dari kamar mandi dan sedang tertatih untuk naik ke brankar, Julia dan Guntur masuk ke ruanganku. Dengan telaten Julia membantuku naik ke tempat tidurku. Mamah langsung kembali ke ruangan Topan bersama Guntur. Aku bersyukur Guntur bisa disuruh segera tidur siang.


**Bastian End POV   **


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa


judul cerita SUAMIKU BUKAN JODOHKU    penulis   DINA DINUL  pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya


cerita singkatnya seperti ini :


Kirana seorang gadis yang tiba - tiba di jodohkan dengan anak dari sahabat orang tuanya yang bernama Ilham setelah lulus SMA.


Disaat yang bersamaan, Kirana juga sedang menjalin hubungan dengan kekasihnya yang bernama Ibrahim.


Bagaimana hubungan Ibrahim dan Kirana?


Akankah perjodohan Ilham dan Kirana berlanjut?


Keputusan apa yang akan diambil oleh Kirana untuk masa depannya? Bahagia kah? Sedih kah?