
Ini bab kedua hari ini
Semoga kalian suka. Saat ini hari Senin. Mangatoon/Noveltoon mbagi-mbaagi VOTE gratis yang bisa kalian gunakan
Berikan VOTE itu untuk novel ini ya.
Terima kasih dan SELAMAT MEMBACA
Wulan baru saja masuk kemobil setelah mereka pamit pada paklek Suparman. Mobil tak bisa masuk ke gang menuju rumah paklek. Dan Wulan dilarang paklek mengantar sampai rumah karena sudah cukup malam. Dia tak ingin keponakannya yang sedang hamil terlalu kelelahan.
“Mas, besok enggak perlu antar aku kuliah ya. Mas konsen ama Mami Papi aja. Nanti pas pulang kuliah aja Mas jemput aku di kampus karena katanya mau belanja buat isi dapur,” laksana petasan renteng cabe rawit, Wulan langsung bicara tanpa rem.
“Kamu enggak suka Mas antar ke kampus?” tanya August penasaran.
“Bukan enggak suka. Tapi nanti Mas akan kemrungsung ( terburu-buru ). Aku enggak mau. Jadi untuk besok please Mas nurut aku. Mas konsen ama Mami Papi. Kita ketemu di kampus saat aku pulang kuliah,” Wulan tak ingin dibantah lagi.
“Baik Nyonya,” goda August. Dia tahu Wulan benar. Kalau harus mengantar Wulan ke kampus setidaknya jam delapan pagi August harus sudah berangkat ke panti agar Wulan tak terlambat kuliah jam sepuluh.
“Nanti pas turun jangan lupa ingetin Mas ambil kado di bagasi ya,” pinta August. Dia takut lupa kado hari ini untuk Wulan .
“Kado dari siapa?” tanya Wulan bingung. Sedang kado dari calon mertuanya saja cukup besar dan belum dia buka.
“Dari Mas, buat calon istri,” jawan August sambil tersenyum menggoda.
“Kamu jangan lupa beritahu semua karyawan panti asuhan tentang acara hari Senin. Mas yakin Laura akan menyuruh seorang wakil hadir. Enggak enak kalau enggak dikasih tahu,” August meminta Wulan yang memberitahu karyawan panti.
“Iya, aku juga niat seperti itu. Bahkan aku mau kerumah ( rumah Laura ) untuk memberitahu bu Ganis pemilik panti asuhan,” jawab Wulan. Pegawai panti asuhan memang sudah tahu dia akan menikah hari Senin. Tapi waktu tepatnya belum dia beritahu karena belum ada kepastian dari KUA. Kalau sekarang, karena waktu tepatnya sudah pasti maka dia berani memberitahu.
“Iya bener. Mas sampai lupa,” tanpa terasa mereka sampai di panti asuhan. Sudah cukup larut sehingga pagar sudah ditutup. Wulan tak mau merepotkan satpam, dia turun diluar pagar dengan membawa hadiah dari August dan calon ibu mertuanya juga tas pakaian dan tas kuliahnya. Sedikit repot tapi tak mau dibantu oleh August.
***
Dikamar Wulan membuka hadiah dari calon ibu mertuanya. Dia melihat satu buah tas brandeed seharga sebuah motor matic. “Andai saja bisa aku jadikan uang, tentu lebih berguna untuk orang banyak,” tanpa sadar Wulan berkata sangat pelan. Walau tetap besyukur diberi hadiah semahal itu oleh Nenden. Dia tak menyangka bayangan penolakan dari calon mertua tak didapatkannya saat pertemuan pertama dengan kedua orang tua August tadi.
Lalu dia membuka hadiah calon suaminya. Sebuah laptop dari merk sangat mahal terbungkus rapi. ‘Mas harap kita selalu bahagia. Mas ingin ini pernikahan kita yang pertama dan terakhir. Dan Mas selalu doakan kamu sukses dikuliahmu nanti. Mas mu.’ itu tulisan dikartu diatas laptop yang August berikan.
‘Ini sangat berarti untukku. Bahkan untuk membeli yang bekas dan type lama saja aku menanti sampai ada uang sisa nanti setelah melahirkan. Karena semua tabungan sedang aku persiapkan untuk biaya melahirkanku nanti,’ Wulan terharu.
Terharu terhadap attensi August terhadap masa depan dan kuliahnya. Dan yang terpenting terharu terhadap harapan lelaki itu pada pernikahan mereka!
‘Mas, makasih banget hadiahnya. Ini sangat … sangat berarti buatku. Sekali lagi makasih banget,’ Wulan langsung mengirim pesan untuk calon suaminya.
‘Dan bilang ke Mami, makasih hadiah tas yang mami kasih buat aku,’ chat berikutnya segera Wulan kirim karena dia lupa belum mengucapkan terima kasih pada Nenden. Sedang dia belum memiliki nomor ponsel calon mertuanya itu.
***
“Bang, udah seminggu lho Abang tidur enggak nyapa aku. Abang enggak kangen aku?” tanya Laura. Dia sedang membasuh badan Syahrul. Hanya saat bagian vital nanti dia minta perawat lelaki yang mengerjakannya. Bagian badan lainnya dia kerjakan sendiri sambil dia ajak bicara.
Hari Senin kemarin Anjas sudah kembali ke Jakarta karena ada hal penting di perusahaannya. Dan Claudia tentu tak akan membiarkan suaminya pulang sendirian. Jadilah anak-anak dirumah wak Ganis tanpa opa dan omanya.
“Habis ini Abang aku tinggal sebentar ya? Aku ke pengadilan. Habis itu aku balik lagi,” Laura memberitahu jadwalnya pada Syahrul. Saat itu tanpa sengaja Laura melihata da setetes air disudut mata Syahrul.
“Kalau Abang enggak tega ama aku. Kalau Abang serius sayang aku. Harusnya Abang cepet bangun. Kita ditunggu Papa buat nikah lho,” Laura menyerahkan waslap pada petugas yang akan membasuh dan menggantikan celana Syahrul.
Sehabis memandikan Syahrul, Laura pun segera mandi dan bersiap untuk ke pengadilan. Cukup hari Senin dia tak datang. Hari ini dia akan membantai Laras. Setidaknya melihat sosok dirinya Laras tentu akan merasa tertekan.
***
Namira mengundang Wiwin dan Nadia serta Bayu diacara akad nikah yang akan dilakukan pukul 12.00 hari Sabtu lusa. Akad nikah akan dilaksanankan di kantor KUA.
Ilyas mengundang pak RT dan RW sebagai saksi warga. Dia juga memberitahu kepala HRD rumah sakitnya sekedar formalitas saja. Jadi kalau esok dia mengajukan perubahan status kepala HRD sudah mengetahuinya.
“Kamu seriusan?” Nadia langsung menelepon Namira saat chat sahabatnya masuk.
“Ya seriuslah. Masak perkara pernikahan koq boongan?” jawab Namira.
“Aku seneeeeeeng banget Mir. Semoga samawa ya. Aku dan Bayu akan hadir,” janji Nadia. Dia tak akan membiarkan sahabatnya sendirian dihari bahagianya.
“Aku tunggu ya Nad. Kamu tahu aku enggak punya siapa pun selain dirimu. Bahkan kakak kandungku tega menuduhku selingkuh dengan suaminya dan membuang anak kandungnya untuk aku urus sebagai hukuman karena aku merebut suaminya.” Namira sedih kala mengingat Almira yang membencinya.
“Enggak usah mikirin teh Almi. Pikirkan saja keluargamu sendiri. Aku yakin yang mengompori Almi dengan berita palsu akan mendapat hukuman dari Allah,” Nadia menasihati sahabatnya itu.
“Aku sudah memberitahu Wiwin. Walau enggak mengharap kehadirannya. Tapi aku berharap dia tahu aku enggak pernah punya pikiran balik ama Wisnu,” Namira memberitahu Nadia soal undangannya pada Wiwin.
“Aku akan mengirim foto pernikahanmu nanti pada Wisnu seakan aku belum tahu kamu dan Wiwin sudah bertemu dengannya di kantin rumah sakit,” Nadia malah ingin membakar Wisnu. Dia benci pernah simpati pada pria breng-sek itu.
“Hahaha … terserah kamu lah,” jawab Namira. Dia sudah tak memikirkan lelaki yang pernah lama membuatnya merasa bersalah karena meninggalkannya saat dia hamil Ilham.
==============================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta