TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KAMU KADO TERINDAH UNTUKKU



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\================================================================================


Wulan  mengecup pipi lalu bibir August selintas. Dan August langsung menarik bahu perempuan itu lalu dia peluk erat. “Kamu kado terindah untukku Sweety. Cukup kamu selalu sabar dan setia mendampingiku,” jawab August.


“Mau dimakan tartnya?” tanya August.


“Enggak ah,” balas Wulan. Dia memang tak kepengin untuk saat ini.


August menyimpan kue kedalam kulkas dan kembali ke kamar. “Kamu kapan beli tart itu?” tanya August curiga.


“Sebelum diskusi tadi siang. Diantar Kemuning koq. Enggak naik angkot atau ojek,” jawab Wulan. Dia jujur diantar Kemuning. Tapi soal waktunya dia tak jujur. Karena berkaitan dengan kejutan yang akan berlangsung 3 hari lagi.


Dan Wulan tahu suaminya akan marah bila Wulan pergi naik angkot atau naik ojek.


“Kamu taruh dimana? Ayah enggak lihat dikulkas,” August kembali mematikan lampu kamar dan lampu tidur menerangi ruangan. Karena tadi saat Wulan menyalakan lampu besar, lampu tidur tak dia matikan.


“Di kulkas. Dibagian sayuran rak bawah,” jawab Wulan. Dia sengaja beli tart super mungil agar mudah membawanya. Dia kan sepanjang hari nempel dengan August. Bagaimana bisa membeli tart normal tanpa ketahuan?


“Terima kasih kejutannya ya? Mas cinta kamu,” August memeluk lembut istrinya dan mengecup pelipis serta pipi kanan perempuan itu. Karena dia memeluk Wulan dari belakang. Sejak hamil lumayan besar Wulan memang lebih sering tidur miring.


***


“Aaaagghhhhhhhhhhhhh …,” Laura terbangun karena mendengar teriakan Syahrul. Mereka tidur dalam satu bed.


“Sayank, bangun sayank,” Laura menepuk pelan pipi Syahrul agar lelaki itu bangun. Dia mengira Syahrul mimpi buruk. Laura bergegas mengambil botol air mineral dan membukanya. Dia berikan pada Syahrul agar lelaki itu tenang.


“Jang … an ting … galin A … bang,” keluh Syahrul saat selesai minum air yang Laura berikan. Dan langsung menggapai Laura untuk memeluknya erat.


“Aku enggak akan tinggalin Abang. Mommy cinta Daddy dan anak-anak,” Laura mengecupi pipi, mata dan hidung Syahrul. Dia makin yakin Syahrul mengalami trauma yang membuatnya sangat tertekan.


“Daddy harus percaya. Enggak ada yang akan tinggalin Daddy. Daddy denger dari siapa kalau Mommy mau pergi dari Daddy? Kita saling cinta. Tapi percuma kalau enggak saling percaya. Mommy sedih kalau Daddy enggak percaya sama Mommy,” Laura kembali membisikkan semua yang harus Syahrul sadari. Laura menyadari, Syahrul seperti sangat tertekan.


“Tidur lagi ya. Inget, dihati dan pikiran Mommy hanya ada nama Daddy. Enggak ada nama lelaki lain,” Laura terus memberi afirmasi positive untuk Syahrul. Lelaki yang sedang depresi karena merasa Laura akan meninggalkan dirinya.


Anjas yang juga terbangun karena teriakan Syahrul hanya melihat saja. Dia memang tidur diruang rawat rumah sakit menemani Laura. Di bed khusus penunggu berdua dengan Fahri. Lelaki kecil itu ingin merasakan ikut menunggui ayahnya.


Awalnya Anjas akan membantu Laura bila Syahrul memberontak. Ternyata Syahrul hanya diam dan kembali tenang. Maka Anjas pun tenang dan kembali tidur.


***


“Aku antar Aya dulu Pa’ jadi kita pisah taksi ya,” Bastian mohon izin pada Achdiyat akan mengantar tunangannya ke apartemen Dade.


“Kopermu biar Apa’ bawa saja,” dengan  santai Achdiyat tak keberatan kalau Bastian mengantar Julia lebih dulu dan malah mau meringankan membawakan koper anaknya.


“Nanti Apa’ jadi repot,” tentu Bastian tak enak terhadap papanya itu.


“Repot apanya? Nanti kan driver yang angkat koper saat masuk atau keluar dari taksi. Sesudah itu bell boy hotel yang angkat. Dimana repotnya coba?” balas Achdiyat lagi.


Akhirnya mereka berpisah dan akan berjanji bertemu saat makan malam dengan Dade dan dua orang lainnya. Achdiyat memang telah bekerja sama jarak jauh untuk menyelesaikan persoalan yaang dibuat Gladys. Karena ini sudah dua kali perempuan itu menjebak Bastian putra tunggalnya.


Bastian dan Julia memang siang ini tak dijemput Dade karena bujangan itu sibuk hingga sore tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Tapi dia sudah meninggalkan kunci apartemennya pada petugas di lobby.


“Honey, dikopermu ada baju aku enggak?” tanya Bastian. Dia ingat untuk makan malam nanti tak ada baju ganti karena tak mengambil baju dikoper miliknya.


“Enggak ada. Habis naruh koper, kita keluar aja. Beli baju untuk kamu pakai malam nanti,” Julia memberi saran pada Bastian.


“Ya sudah. Kita taruh koper dulu aja ya?” sahut Bastian. Mereka masih didalam taksi menuju apartemen Dade.


***


“Tadi pagar kecil dipintu kamar sudah jadi Yah. Besok dimulai ngecat. Aku juga minta kamar mandi di bersihkan dan diberi kran tambahan untuk wudhu,” Namira lapor pada Ilyas kemajuan renovasi toko yang akan dia gunakan untuk usaha. Saat ini mereka sedang duduk berdua diruang tengah. Nindi dan Ilham sudah terlelap.


“Besok pagi kita bisa lihat kesana, kan besok Teteh dan Ayah libur,” jawab Ilyas sambil mengusap lengan istrinya.


“Jangan pagi ya Yah. Menjelang makan siang aja. Jadi Bunda bisa bawakan makanan untuk yang kerja sebelum dia beli makan siang,” sahut Namira. Dia ingin memberi makan siang bagi tukang yang dia pekerjakan.


“Bagus itu. Ya sudah seperti biasa Ayah dan Teteh sepedaan aja pagi-pagi. Bawa Dede juga. Bunda masak buat tukang,” balas Ilyas. Dia setuju niat baik istrinya. Walau sebenarnya bayaran tukang sudah termasuk uang makan. Tapi kalau ada kesempatan mengapa tidak dilakukan?


“Bunda sudah siapin kebaya buat acara wisuda Ayah minggu depan?” tanya Ilyas. Dia ingin Namira mendampinginya saat dia wisuda menjadi dokter spesialis anak.


“Ada gaun bagus dan mahal yang belum Bunda pakai Yah. Hadiah pernikahan kita dari bu Laura. Baju buatannya kan mahal banget. Buat apa buang uang beli kebaya lagi,” Namira ingat dia memiliki baju sangat bagus dari Laura.


“Ya sudah kalau Bunda merasa tak perlu beli baju baru,” balas Ilyas. Dia hafal istrinya tak mau buang uang bila tak dibelikan.


“Nanti beli sepatu dan tas senada aja Yah. Karena Bunda enggak punya yang cocok dengan warna gaun itu,” Namira tak mau terlihat tak pantas saat mendampingi suaminya nanti.


“Kalau begitu besok sekalian keluar rumah ya. Sehabis dari toko, kita cari sepatu dan tas,” Ilyas senang karena Namira mau belanja.


“Iya. Sekarang Bunda tidur duluan ya?” Namira izin pada suaminya. Dia ingin masuk kamar lebih dulu.


“Ayah juga enggak mau sendirian disini,” Ilyas pun mematikan televisi dan lampu ruang tengah lalu bergegas menyusul istrinya. Dia tak mau Namira sudah terlelap saat dia ingin menyuntik istrinya dengan jarum suntik spesial miliknya.


“Kirain Ayah mau begadang diluar,” Namira yang selesai sikat gigi dan cuci muka menegur Ilyas yang baru saja masuk kamar tidur mereka.