TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
‘PERKENALAN’ GERALD DAN SYAHRUL



HAI HAAI. SEHAT SEMUA YA


JANGAN PELIT KASIH LIKE DAN VOTE JUGA SECANGKIR KOPI UNTUK BAB KEDUA HARI INI


DARI SEDAYU JOGJKARTA YANKTIE MENYAMPAIKAN SELAMAT MEMBACA



“Nah permintaanmu tadi juga tak perlu kamu ucapkan. Karena aku tahu apa yang calon istriku butuhkan,” sahut Bastian sambil menurunkan koper besar miliknya dari atas lemari.


Selesai memasukkan baju Julia berbaring di kasur sambil membuka chat. Bastian memasukkan passportnya kedalam sling bag yang esok akan dia gunakan.


“Kita bobo sini aja ya, enggak usah dikamar depan?” Bastian memeluk Julia dari samping.


“Aku belum minum susuu dan sikat gigi. Lihat nanti deh. Tapi sebenernya sih aku udah ngantuk,” jawab Julia.


“Ya udah merem. Biar A’a peluk kamu,” Bastian memeluk Julia makin erat agar gadis itu lelap dalam dekapannya. Dia sangat merindu sosok gadis yang sudah menghilang lagi selama dua minggu kemarin.


Tanpa menunggu lama, Julia terlelap. Gadis itu bahkan tak tahu saat bu Tuti masuk ke kamar itu memberikan list belanja titipannya di Singapore nanti pada Bastian.


***


Kamis pagi. Hari ini Wulan menyiapkan bubur ayam untuk sarapan mereka dan August makin kagum terhadap istrinya. Mereka belum belanja sayuran, tapi Wulan bisa saja memasak menu baru dari makanan matang sisa pernikahan mereka. Semalam Wulan hanya minta beli cakwe dan kacang tanah saja saat mereka keluar beli cairan pembersih lantai.


Ternyata beberapa cakwe dia sisakan untuk dibuat taburan bubur ayam. Dan kacang digoreng hanya sedikit untuk membuat sambal.


“Mas, hari ini aku penuh. Dari jam delapan sampai jam dua siang. Aku enggak usah ditunggu,” Wulan memberitahu suaminya kalau jadwal hari ini dia padat.


“Oke. Mas ke bandara saja sesudah antar kamu. Kamu jangan lupa makan siang ya. Nanti Mas jemput,” balas August. Dia ingin menghubungi para pekerja dari maskapainya yang bertugas di Bandung dan mengurus jadwal keberangkatan kerjanya dari Bandung.


“Aku bawa roti dan susuu buat makan siang,” balas Wulan. Dia memasukkan bekalnya kedalam tas.


“Mas!” pekik Wulan sambil memegang perutnya. Sejak tadi Wulan sedang berdiri sambil menyiapkan bekalnya.


“Kenapa?” tanya August kaget. Dia langsung berdiri dan menghampiri Wulan yang masih berdiri memegang perutnya.


“Sweety, bilang kenapa? Apa yang sakit?” August panik. Tangan kiri memeluk bahu Wulan dan tangan kiri memegang punggung tangan kanan Wulan yang berada diperut ibu hamil itu.


***


Kamis pagi ini Laura sudah bersiap di pengadilan. Semalam mamanya datang ke Bandung. Sehabis salat Subuh Claudia dan Ganis bergegas ke rumah sakit. Mereka akan sarapan bersama Laura sebelum berangkat ke pengadilan.


Kali ini Anjas tak bisa hadir memberi support pada Laura karena sangat sibuk dan tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Ada kejutan untuk Laura walau Anjas tak bisa hadir kali ini.


“Adeeeeeeee,” pekik Laura tertahan. Dia lupa sedang diarea rumah sakit. Tak percaya karena Gerry berada didepannya. Dia peluk adiknya dan menangis didada pemuda itu. Hubungan mereka memang sangat dekat dan saling menyayang.


“Aku yakin Kakak kuat. Allah enggak bakal mencoba kita diluar batas kekuatan kita,” bisik Gerry. Papa mereka memang menugaskan Gerry menemani sang mama kali ini. Mereka berangkat diantar sopir.


Setelah sarapan dan akan berangkat, Gerry meminta Laura untuk mengenalkan dirinya dengan calon kakak iparnya.


***


“Assalamu’alaykum Cinta. Ada yang mau kenalan denganmu. Dia gagah, sayang sama aku, smart dan tentunya jauh lebih muda dari Abang. Jadi kalau Abang lama bangunnya, aku akan jalan ama dia aja,” bisik Laura menggoda Syahrul. Dan tak Laura sangka air mata yang sekarang keluar menetes. Tak seperti biasa yang hanya terlihat diujung mata saja.


“Assalamu’alaykum Bang. Kenalkan, saya Gerald. Adiknya Kak Rara. Cepat bangun Bang. Nanti kita pergi mancing barenng Papa dan Opa,” bisik Gerry sambil memegang tangan Syahrul.


“Kami ke pengadilan dulu ya. Sebentar aja. Nanti aku balik lagi pas jadwal Abang mandi sore. Kita baca Qur’an bareng lagi ya?” Laura pamit dan mengecup pipi Syahrul.


***


Tak ada yang special diruang pengadilan selai wajah lesu tertunduk tanpa berani mengangkat wajah dari Seruni dan Laras. Dua perempuan congkak itu sekarang kena batunya begitu mendapat lawan yang tak mereka duga.


Seperti yang sudah Laura katakan pada Syahrul dan kedua orang tuanya. Dia tak peduli berapa lama Laras akan dihukum. Dia cukup puas melihat orang yang berkali-kali menjahatinya terpuruk!


Laras dan Seruni saat ini diujung tanduk. Karir Seruni hancur karena dia saat ini akan menghadapi persidangan tentang percobaan menyogok yang dia lakukan. Dan karena video rekaman CCTV itu, banyak kasus lama yang mencuat dan membongkar sepak terjang Seruni selama ini. Korban penindasan Seruni yang selama ini diam. Sekarang berani bersuara.


Laras selain usahanya hancur, rumah tangganya pun berantakan. Karena mertuanya sangat membenci perempuan itu. Mertuanya marah karena usaha mereka merosot akibat persoalan Laras kali ini. Dan mertuanya meminta Sapto, anaknya segera menceraikan Laras.


Belum tahu apa yang akan dilakukan Achmad Baharsyah terhadap istrinya. Apakah dia juga akan menceraikannya seperti jalan yang ditempuh menantunya? Sebagai seorang pengusaha dan juga pemuka agama, tentu saja nama Achmad Baharsyah tercoreng oleh kelakuan istri dan anaknya itu.


Akhirnya hakim mengetuk palu dengan keputusan akhir penjara 2 tahun untuk Liliya dan Rose. Dan penjara 5 tahun untuk Laras.


Claudia dan Ganis tersenyum senang. Laura langsung berjabat tangan dengan Toha dan Adnan.


***


Claudia mengajak Ganis dan Claudia mampir ke butiknya sebelum meraka makan siang. Gerald atau yang biasa dipanggil Gerry dengan setia mengawal ketiga perempuan yang dia kasihi. Tak ada protes atau pun kata mengeluh.


“Kalian tadi lihat di televisi?” tanya Laura pada para pegawainya.


“Lihat Bu,” beberapa menjawab dengan lirih.


“Itu pelajaran untuk kalian. Berpikir dulu sebelum bertindak! Apalagi saat ini semua ruang sudah saya beri CCTV,” Laura memperingatkan pegawainya untuk tak ada lagi yang berniat buruk padanya.


“Iya Bu.”


***


Semalam Novia menghubungi Ilyas. Dia dan Kusdi sudah sepakat akan menjual rumah milik mereka pribadi dan membayar rumah jatah Ilyas yang selama ini mereka tempati. Ilyas tentu saja tak mau. Dia merelakan rumah milik ibunya itu untuk Novia. Akhirnya mereka mengadakan video call berempat.


Keputusannya Novia akan membayar separo dari harga rumah itu. Seharusnya dia membayar dua pertiganya.


Maka hari ini Kusdi datang ke Bandung untuk memberikan uang pada Ilyas. Kusdi yang memang bekerja disebuah Bank memang sering bertugas ke kantor cabang Bandung. Kalau hanya soal uang tentu transfer antar bank mudah dilakukan. Tapi Kusdi yang anak bungsu dengan tiga kakak perempuan semua memang senang bila bisa ngobrol dengan Ilyas.


====================================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta