
BERTEMU LAGI DI DOUBLE UPDATE HARI INI
SEMOGA MENGHIBUR. SALAM MANIS DARI TANKTIE DISEDAYU, JOGJAKARTA
SELAMAT MEMBACA
Selanjutnya Almira kembali berangkat ke Taiwan dan baru kembali lagi ke Indonesia sekarang. Selama dia merantau, dia tak menjalin komunikasi yang baik dengan putrinya itu. Jadi jangan salahkan Nindi yang tak mengenalinya. Karena buat Almira, Nindi hanya sosok yang membuatnya kehilangan masa muda. Nindi lahir karena dia terlalu bebas berpacaran dengan Halim saat baru lulus SMA dulu.
Ilyas bukan mau menang sendiri menguasai Nindi. Tapi seperti Namira, dia juga tak rela bila Nindi harus tinggal dengan ibu yang tak mengasihinya seperti kasih Namira pada Nindi. Andai Almira mengasihi Nindi, tentu Almira tadi sadar ada sosok putrinya yang sudah dia tinggalkan selama tujuh tahun.
Itu alasan Ilyas meminta Namira tak melanjutkan pembicaraan mengenai Almira. Karena Nindi tak akan tersakiti bila mereka tak mempertemukannya dengan Almira.
***
“Besok pagi kami kembali ke Jakarta ya. Kamu harus semangat untuk sembuh. Papa dan Mama menunggu kedatanganmu di rumah Jakarta untuk melamar Kakak. Jangan pernah berpikir Kakak akan meninggalkanmu. Karena kami menjamin itu tak akan pernah dia lakukan.” Anjas pamit pada Syahrul. Mereka harus kembali ke Jakarta karena Gerry harus masuk kuliah dan dia serta istrinya harus kembali aktiv bekerja.
Syahrul hanya tersenyum dan mengangguk pelan pada Anjas.
“Mama dan Papa sudah merestui kalian. Tak mungkin Kakak berpaling. Kamu harus yakin itu. Dan semangat untuk sembuh,” kali ini Claudia yang memberi semangat pada Syahrul. Mereka semua sudah tahu harus selalu mendukung Syahrul agar bisa kembali percaya diri.
“Jangan lupa Bang. Kita akan mancing bersama Opa kalau Abang sudah sehat,” Gerry membangkitkan semangat Syahrul dengan iming-iming mancing bareng.
Sementara Nazwa dan Fahri sejak tadi sudah pamit pada daddynya. Mereka menunggu rombongan dari Jakarta pamit.
“Uwak pulang dulu ya, kamu harus segera sembuh,” wak Ganis yang sore tadi datang bersama Claudia juga pamitan pada Syahrul.
***
“Kamu yang sabar ya Kak. Papa tahu kamu sanggup. Putri Papa enggak akan mengecewakan Papa,” Anjas memeluk erat kekasih kecilnya diteras ruang rawat Syahrul. Dia kecup puncak kepala Laura yang terisak. Gadis itu sangat bersyukur semua, terutama kedua orang tuanya mensupportnya saat dia butuh penopang seperti saat ini.
“Kakak akan buktikan, Kakak enggak akan ngecewain Papa. Kakak akan kuat Pa,” jawab Laura disela isaknya. Nazwa ikut menangis melihat sang Mommy terisak. Dia memeluk omanya.
“Kabari Papa semua perkembangan yang terjadi. Juga hasil konsultasimu dengan dokter jiwanya. Dan selalu perlihatkan wajah cerah didepan Abang,” lanjut Anjas yang makin membuat Nazwa menangis. Gadis itu tak percaya kalau ayahnya mendapat keluarga yang sangat mengasihi seperti ini.
‘Mommy memang dari keluarga sangat baik. Belum pernah diberikan apa pun oleh Daddy saja keluarganya sangat memperhatikan Daddy. Opa sangat perhatian bahkan tak membolehkan Mommy terlihat tak baik didepan Daddy. Aku enggak akan mau, bila Mommy tak jadi ibuku,’ Fahri yang pura-pura tak mendengar hanya bisa membatin saja.
‘Opa memang yang terbaik,’ batin Nazwa mendengar kata-kata Anjas kalau Laura tak boleh berwajah lelah dan masam dihadapan ayahnya.
***
“Pin jam te le pon,” Syahrul meminta ponsel saat Laura sudah duduk bersandar di kasur rawatnya.
Tanpa menolak Laura memberikan ponselnya. Karena tadi saat dia tanya mau ponsel milik Syahrul atau ponselnya, lelaki itu tak mau ponselnya. Dia hanya ingin pinjam ponsel milik Laura saja.
‘Aku mau tiap waktu salat diapersku diganti. Aku mau salat. Nanti aku tayamum aja,’ Syahrul memberi ponsel untuk Laura baca.
“Biar sulit dan lambat, kita bicara jangan pakai handphone ya? Kita bisa bicara lamaaaaaaaa koq. Bicara secara langsung melatih syaraf motorik Abang ‘kan?” Laura tak ingin Syahrul terus ‘bicara’ dengan menulis ucapannya di ponsel.
“Mau salat mulai sekarang?” tanya Laura.
“I ya,” jawab Syahrul.
“Mommy panggil petugas yang buat bersihin diapers Daddy ya,” lalu Laura sengaja keluar ke ruang perawat agar bisa minta pegawai laki-laki mengurusi bagian intim Syahrul. Dia tak mau menunda urusan ibadah Syahrul.
***
Hari Sabtu, Wulan tak ada kuliah. Sehabis jalan pagi tadi dia membuat puding lumut dalam ukuran besar. Dia juga membuat fla nya dalam jumlah banyak. Tak ada kecurigaan apa pun dalam benak suaminya. Minggu lalu istrinya membeli mangkok kecil dan sendok kecil dia juga santai saja.
August masih sibuk dengan proyek kamar jagoannya. Dia selalu ingin belanja banyak kebutuhan bayi tapi Wulan selalu melarangnya. Minggu depan dia akan mulai terbang. Dia akan menggunakan waktu luangnya di luar negeri nanti untuk hunting kebutuhan bayinya.
“Kamu koq bikin puding lumut banyak banget?” tanya August. Mereka baru selesai sarapan bihun goreng masakan Wulan.
“Iseng aja. Toh juga enggak cepat basi,” jawab Wulan santai. Dia segera membawa piring kotor bekas makan mereka dan membawanya ke belakang untuk dicuci.
“Kita keluar yok?” ajak August. Tentu tujuan August mencari pernak pernik kamar bayi.
“Enggak ah Yah. Tiap hari kita kan keluar. Hari ini dirumah aja ya. Kita beresin rak baju Dede. Itu bajunya sudah selesai Ibu cuci biar bisa langssung dipakai. Kalau baju dari toko langsung dipakein ke Dede tanpa dicuci takutnya gatal,” Wulan memang merendam baju yang dia beli dan dia kucek dengan detergen khusus untuk bayi.
“Biar Ayah setrika dulu deh Bu. Masa habis dicuci enggak disetrika?” August malah ingin menyetrika baju bayi mereka.
“Nah gitu dong. Enggak pergi terus pikirannya,” goda Wulan sambil menoel ujung hidung suaminya.
“Tadi tu niatnya keluar ke panti Bu. Udah lama Ayah enggak ke panti,” August menerangkan niatnya tadi. Tentu ke panti setelah pulang dari mall.
“Senin lah kita ke panti. Sepulang Ibu kuliah ya?” Wulan tahu tentu besok dia akan menemani keluarga August yang masih ada di Bandung berkaitan dengan kunjungan kejutan hari ini.
Wulan memasang meja setrika di teras belakang agar tidak panas ketika menyetrika. Dia mendekatkan satu bak baju bayi yang telah kering sehabis dia cuci. “Ni Yah. Enggak usah panas-panas setrikaannya, biar bajunga enggak rusak.”
“Ayah tahu lah,” jawab August. Dan Wulan langsung membuatkan juice jeruk untuk suaminya. Karena dia tahu menyetrika itu panas.
“Kayaknya bajunya kurang nih Bu,” sudah hampir separuh bak August kerjakan.
“Jangan Yah. Aku baca baju bayi sebentar aja enggak kepakai karena pertumbuhan badannya kan pesat. Mending beli sesuai kebutuhan aja,” sahut Wulan. Dia sedang ngemil salad sayur kegemarannya.
=================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta