TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KAPAN KAMU MENGUNDANG MAMA DAN PAPA KE PESTA PERNIKAHANMU?



Malam yang dinanti tiba, tentu semua datang dengan senyum sukacita. Laura yang mengenakan dress rancangannya membuat semua terpesona. Bagian depan panjang dress dibawah lutut, dan bagian belakang agak menyapu lantai. Gaun berwarna merah maroon dengan bahu sabrina membuat Laura menjadi kejora di pesta mama dan papanya.


“Claudia, putrimu mirip sekali dengan omanya,” bisik oma Stelle.


“Iya Tante, makanya sering bikin opanya sedih. Bahkan ketika dia memaksa pindah ke Cimahi, opanya sampai sakit,” jawab Claudia, mama Laura. Stelle adalah nenek August keturunan German sahabat dekat Gregorius, opany Laura ketika mereka di Munich. Lalu Greg menikah dengan mahasiswi tempat Stelle kuliah. Sedang Stelle mendapat jodoh lelaki ningrat Solo yaitu opanya August. Di Indonesia Stelle kemabli bertemu Greg. Mereka yang sudah seperti saudara sangat senang bisa selalu bertemu di Indonesia, negara kedua bagi mereka. Itu sebabnya Stelle tadi berbisik, karena tak ingin Greg mendengar perkataannya pada Claudia, mamanya Laura.


“La, salam dulu dengan oma Stelle. Dia sahabat opa sejak mereka SMA di German,” Cludia meminta Laura menyampaikan salam hormat pada tamu daddynya.


“Hallo Oma, salam kenal,” sapa Laura sopan.


“Kamu makin cantik saja, sebenarnya tiap tahun kita ketemu, tapi Mamamu tidak mengenalkan oma padamu,” balas Stelle. Tiap tahun dia datang dan melihat putri Claudia. Bahkan di pertunangan gadis kecil itu dia juga datang.


“Wah, mama tuh yang salah kalau sekarang baru kita kenalan ya Oma. Maaf Oma, saya ke depan dulu ya. Ada tamu yang datang,” Laura pamit karena dia melihat tante Clara datang. Rupanya tante Clara bikin kejutan, malam ini dia datang didampingi kak Steve dan mbak Ningrum yang sedang datang ke Jakarta. Tentu membuat Laura senang. Dia peluk erat kak Steve dan tentu Steve membalas dengan kecup di pipi dan kening adik bungsunya itu.


“Woooow, kamu tambah cantik aja princessnya Kakak,” goda Steve.


“Mbak Ningrum, ajari suaminya untuk enggak ngegombal,” balas Laura sambil memeluk Ningrum dan mencium pipi kakak iparnya itu.


“Ngegombal gimana La?” tanya Ningrum.


“Kak Steve masih menyebutku princess, padahal dia sudah punya 2 princess lain di rumah,” Laura mengajuk hati Ningrum.


“Hahahhaaaaa, jadi Kak Steve ketahuan ngegombal ya?” baru Steve mengerti. Karena memang dia sekarang punya 2 princess dan seorang prince di rumah.


Tentu saja Clara dan Ningrum ikut tertawa.


***


August kembali melajukan mobilnya ke rumah yang tadi dituju omanya. Tadi memang dia yang mengantar sang oma, tapi dia malas menemani. Dia hanya nge drop dan berjanji akan menjemput kembali bila pesta usai. August berpikir tentu di pesta hanya orang-orang seumuran oma dan mereka pasti akan bercerita masa muda mereka, yang akan membuat dirinya bosan. Sesampai di parkiran August mengirim pesan pada sang oma dia sudah ada di depan. Sehingga ketika oma hendak pulang dan mengambil ponsel untuk mencarinya, oma akan membaca pesannya itu.


August berselancar di dunia maya, dia membaca berita hangat di media online sambil menunggu sang nenek. Dia memang sudah berpesan tak perlu terburu-buru pulang bila membaca pesan darinya. Sesuka oma saja. Karena August tahu, hanya sedikit teman oma yang sama-sama bukan asli indonesia di Jakarta ini. Jadi dia sangat toleransi bila oma berkumpul dengan sesama temannya.


Andai August tahu, anak pemilik rumah adalah Laura, pemimpin panti asuhan yang pernah dikunjungi bersama 3 temannya. Dan juga akan dikunjungi lagi akhir minggu ini.


***


Laura mengantar Mieske dan Gerhard Wijaya, orang tua Tommy, tunangannya yang sudah meninggal. Dia tak melihat August yang sedang duduk di mobil dengan pintu terbuka. Sementara August juga tak melihat Laura karena dia sibuk melihat layar ponselnya.


“Terima kasih ya Mi, Pi sudah datang,” ucap Laura sambil tetap memeluk pinggang Mieske.


“Belum kepikiran Mi. Belum ada seorang pun yang bisa membuat aku nyaman seperti yang Tommy berikan,” balas Laura. Bukan tanpa alasan Mieske bicara seperti itu. Sudah 17 bulan Tommy meninggal. Dan di pesta tadi dengan jelas Mieske tidak melihat siapa pun dengan gadis mantan tunangan Tommy. Yang dekat hanya Steve. Dan Mieske tahu Steve adalah kakak Rubben sahabat Tommy. Dan Steve datang bersama istrinya.


“Jangan menyiksa dirimu seperti itu. Tommy pasti senang kalau kamu bisa mempunyai pendamping baru,” balas Mieske. Dia tahu, cinta keduanya sangat besar.


“Mami dan Papi doakan saja agar Lala bisa segera menemukan pendamping baru ya?” Laura tulus meminta doa dari kedua calon mertuanya itu.


‘Kamu memang gadis yang baik, pantas Tommy begitu memujamu,’ Gerhard Wijaya hanya bisa membatin. Dia tahu semasa hidupnya Tommy sangat mencintai Laura.


“Tentu Papi dan Mami selalu mendoakan kamu,” jawab Gerhard cepat. Dia segera memeluk Laura dan mengajak Istrinya pulang. Dia tak ingin istrinya tambah sedih yang juga akan membuat Laura sedih.


Di mobil Mieske langsung menangis. Dia teringat masa-masa terakhir Tommy. Sejuta sesal menyesaki dadanya mengapa tak bisa tegas pada anak tunggalnya itu.


Flash back on


“Kamu enggak bisa mundur Tomm?” tanya Mieske, saat dilihatnya Tommy mempersiapkan peralatan tempurnya untuk terjun di race lusa. Tommy memang sering ikut balapan resmi yang sudah sejak SMP dia geluti sebagai hobbynya. Gerhard yang sejak kecil bercita-cita menjadi pembalap tapi tak kesampaian selalu mensupport anak tunggal mereka. Dia memfasilitasi Tommy untuk total terjun.


“Ini balapan terakhirku Mi, sehabis menikah aku akan berhenti balapan, karena aku tak ingin istriku sport jantung. Mami tahu ‘kan, sejak kenalan lalu menjadi pacarku dan lanjut menjadi tunangan, Lala tak pernah berani menonton saat aku terjun?” jawab Tommy santai.


“Tapi ini sudah dekat dengan waktu pernikahan kalian Tomm, Mami enggak ingin kamu tetap turun di balapan,” cegah Mieske.


“Tommy janji Mi, ini beneran balapan Tommy terakhir,” jawab Tommy meminta restu sang ibunda.


Dan memang itu adalah terakhir Tommy turun balapan. Karena Tommy mengalami kecelakaan di etape terakhir. Dia meninggal setelah koma 3 hari.


Flash back off.


“Stop Mi, kasihan Tommy kalau kamu selalu merasa bersalah seperti itu. Apa Mami tidak berpikir, di sini Papi lah yang paling merasa bersalah karena secara tak langsung Papi lah yang membuat dia tergila-gila pada balap mobil. Papi yang mengsupportnya sejak dia masuk kelas pemula?” Gerhard ingat, Tommy balita tertarik balap mobil melihat majalah yang Gerhard kumpulkan sejak Gerhard remaja. Lalu Gerhard akan bercerita tentang balapan tanpa sadar ceritanya menarik minat anak angkat mereka itu. Gerhard langsung mendukung ketika Tommy minta dimasukkan kelas belajar balap saat usia Tommy baru 10 tahun. Deretan piala prestasi Tommy membuat mereka sangat bangga dengan putra kecilnya.


Mieske baru sadar, ternyata suaminya selama ini diam, tapi juga merasa bersalah. Dia merasa dirinya terlalu egoist tak pernah mau tahu bagaimana perasaan Gerhard. “Maafkan aku Pi,” bisik Mieske sambil memeluk lengan suaminya yang sedang mengemudikan mobil mereka menuju rumah.


\==========================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta