
SEDAYU ~JOGJAKARTA HUJAN TAK HENTI SEPANJANG HARI. SEMOGA DI TEMPAT TINGGAL KALIAN AMAN DARI BANJIR DAN LONGSOR YAA
SELAMAT MEMBACA
August memperhatikan semua perlengkapan bayi. Perlengkapan mandi seperti shampoo, sabun, spoon, lalu sisir bayi. Dia juga perhatikan baby oli, baby colonge, minyak telon, bedak, tempat bedak dan semua hal termasuk wash lap untuk mandi bayi dan juga handuk bayi yang super lembut.
‘Ibunya suka hijau, tapi alat bayi hanya domi-nan biru dan pink. Karena Dede laki-laki, Ayah belikan yang biru aja ya.’ August memilih semua yang sekiranya dibutuhkan anaknya beberapa bulan lagi. Dia lihat expire date semua bahan yang dia ambil agar tak sia-sia.
Dia juga mengambil banyak baju baby born mumpung sedang belanja sendirian. Kalau belanja dengan Wulan tentu istrinya akan membatasi apa yang dia ambil.
Sesudah itu baru August mengambil diapers dan sussu serta minyak telon untuk anak panti asuhan sesuai daftar yang Wulan berikan.
Sebelum pulang tentu August juga membelikan nangka matang, susuu kental manis serta alpokat untuk bahan es teler yang hendak Wulan buat.
Setelah selesai semuanya, August menunggu Wulan di cafe seberang kampus Wulan. Dia minum kopi dan membuka laptopnya mempelajari semua hal tentang usaha ayahnya. Juga membaca email masuk baik dari Bagas maupun Prabu berkaitan dengan data perusahaan.
‘Sweety, Ayah sudah di cafe depan kampusmu ya. Kalau kamu sudah selesai bilang aja biar Ayah masuk atau kamu ikut Kemuning nyebrang kesini,’ August mengirim pesan pada Wulan.
Tiga puluh menit kemudian August baru mendapat jawaban singkat dari Wulan. ‘Ya.’
Entah ya untuk perempuan itu memberitahu kalau dirinya sudah selesai kuliah, atau ya untuk menyusul ke cafe. Ambigu.
Tapi August tak ambil pusing. Dia tahu Wulan paling malas pegang ponsel bila sedang kuliah atau bekerja. Dia bukan perempuan yang selalu ada ponsel ditangannya. August kembali menekuni data dilaptopnya tanpa mau pusing dengan pikiran sepele seperti itu.
“Hallo Capt, apa khabar?” sapa seorang gadis super cantik yang mengenakan dress pas badan leher sabrina tanpa lengan dengan panjang rok diatas lututnya.
August mengangkat wajahnya dari layar laptop. Karena dia sangat hafasl suara yang menyapanya. Bahkan suara desahnya pun sangat dia hafal!.
“Eh … hai,” jawab August. Dia tak ingin bertemu dengan semua sampah masa lalunya. Satu-satunya mantan yang masih ingin dia temui hanya Julia. Karena hanya gadis itu yang masih suci tak mau disentuh sebelum menikah.
Tanpa minta izin atau bahkan dipersilakan, perempuan itu duduk kursi sebelah August. Sangat dekat karena bukan diseberangnya.
“Apa khabar? Dan sedang apa disini?” tanya perempuan itu sambil mengangkat satu kakinya untuk diletakkan diatas kaki lainnya. Sehingga pahanya langsung terlihat jelas. Sangat mulus tentunya.
August pindah ke kursi sebelah kirinya sehingga sekarang perempuan itu duduk diseberangnya. “Maaf. Jangan anda pindah mendekat. Saya tak ingin ada salah paham!,” August langsung membatasi diri. Dia tak ingin Wulan salah paham bila istrinya datang dan melihat dia duduk berdekatan dengan perempuan lain.
“Kenapa Hon? Aku sudah dengar koq kamu putus dengan June dan juga dengan tunanganmu. Aku ingin kita bersama lagi, aku rindu hujamanmu. Aku rindu mandi keringat lagi bersamamu” Vallen nama perempuan itu dengan percaya dirinya mengucapkan fakta masa lalu August.
“Apa anda tahu kalau dia juga sudah menikah dan sedang menanti kelahiran bayi kami?” suara yang sangat tenang menjawab pernyataan Vallen.
August menatap Wulan dan tersenyum serba salah. Sedang Vallen menatap gadis kecil yang baru datang menghampiri mereka.
“Sweety, sudah selesai?” August berdiri dan mengecup kening Wulan dengan lembut.
“Anak Ayah enggak rewel kan diajak Ibu kuliah?” August mengusap lembut perut Wulan. Dan Vallen hanya melihat terpaku.
“Apa wajah cantik anda sudah tak laku jual sehingga merangkak menemui mantan teman hidup?” dengan kasar tapi tenang Wulan menohok Vallentina atau yang biasa disapa Vallen.
“Sayank udah, jangan emosi gitu, enggak baik buat Dede,” August tak ingin Wulan marah dan mengganggu kehamilannya.
“Ayah mau bela-in perempuan kurang belaian seperti dia yang menggoda suami orang?” pekik Wulan membuat semua pengunjung cafe termasuk pelayan menghentikan kegiatan dan melihat kearah mereka.
August yang tak bisa langsung berlari mengejar Wulan jadi kalang kabut. Dia harus membayar apa yang dia pesan juga menggulung kabel laptop yang sedang dia charge sehingga tak bisa langsung lari.
Dia masukan laptop ke ransel laptop juga kabelnya. “Kalau sampai istriku ada apa-apa, tamat karier pekerjaanmu. Aku akan hancurkan kamu di maskapai. Camkan itu ja-lang!” August pun sengaja mengencangkan suaranya. Dia tak ingin orang menilai dia selingkuh.
August yakin orang yang mendengar kata-katanya tahu dia tak selingkuh atau janjian dengan Vallen di cafe itu.
***
August mencari Wulan ke panti asuhan. Dia berpura-pura mengantar sussu dan diapers serta minyak telon.
“Lho koq sendiri pak August. Wulan mana?” tanya Karni yang menerima bawaan August.
“Dia masih sibuk kuliah. Karena waktu kami menikah satu minggu tidak masuk ke kampus. Jadi tadi dia sibuk men gerjakan tugas kelompok dengan teman-temannya,” jawab August. Dari perkataan Karnia dia tahu istrinya tak datang ke panti.
Akhirnya dia langsung ke rumah yang tak jauh dari panti asuhan. Dulu Wulan memang meminta punya rumah dekat dengan panti asuhan ini.
“Ya ampuuuuuuun Sweety. Kamu dimana?” August sangat ketakutan karena tak menemukan Wulan dirumah. Harusnya perempuan itu sudah sampai ke panti atau rumah karena tadi dia melihatnya naik taksi bukan angkot.
‘Ah. Aku enggak punya nomor telepon sahabatnya. Mungkin dia ada di rumah Kemuning,’ batin August. Lelaki ini tentu saja bingung karena sejak dia masuk ke mobil tadi nomor ponsel Wulan sudah tak bisa dihubungi sama sekali.
‘Baik aku tunggu dulu saja sebentar,” August berupaya meredam rasa cemasnya. Dia menurunkan belanjaannya dan membuka baju baby lalu dia rendam dengan detergent khusus untuk dia kucek nanti. August tahu baju bayi yang belum digunakan tak boleh dicuci dengan mesin cuci.
Hingga sore Wulan tak juga pulang. August mulai cemas. Dia sudah dua kali menghubungi paklek dan lelaki itu mengatakan Wulan tak datang kerumahnya.
“Wa’alaykum salam. Maaf dengan siapa ini?” suara gadis yanag August hubungi bertanya karena nomor August tak ada di kontak miliknya.
“Saya August suami Wulan,” sahut August. Dia menghubungi Kemuning yang nomor teleponnya ada dibuku yang Wulan pinjam. Tadi dia memang mencari-cari nomor atau petunjuk yang bisa dia dapatkan.
\===================================================================
HAIIIIII
MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN YAAAA
-BETWEEN QATAR AND JOGJA
- I MARRIED MY DAUGHTER
TENTUNYA HANYA DI NOVELTOON/MANGATOON YAAAA
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta