TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
ADA APA DENGAN MANTANMU?



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


*** \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\= ***


“Pakai ayam geprek aja Mom. Tapi itu nasi kebanyakan,” jawab Nazwa. Dia juga tak ingin membuang nasi. Dia ingat banyak orang kesulitan mendapat makan, maka dia tak boleh membuang rejeki yang dia dapat. Sesuai permintaan gadis kecilnya, Laura mengurangi nasi yang akan dimakan oleh Nazwa.


“Ade, kalau masih sanggup, ini ada nasi untuk tambah. Tapi ingat. Makan itu jangan berlebih!” Laura menawarkan nasi yang tidak dimakan Nazwa. Dia tahu porsi makan Fahri lebih banyak dari sang kakak. Sementara Syahrul hanya mengamati semua polah ke tiga orang yang dia sayang itu.


“Mom, aku pengen ceritaan,” bisik Nazwa.


“Habiskan makanmu, lalu kita ke taman berdua,” jawab Laura juga sambil berbisik.


Akhirnya semua nasi habis. Banyak ayam yang memang Laura belikan untuk Nazwa dan Fahri akan di bawa pulang. Laura membersihkan ruangan itu dari kotoran makanan. Tadi Syahrul meminta 2 orang perawat yang membantu praktiknya untuk pulang lebih dulu. Biasanya mereka membersihkan ruangan sebelum pulang.


“Aku keluar sebentar ya,” Laura izin pada Syahrul.


Syahrul menggenggam erat tangan Laura. Ada senang dan kecewa kedatangan Laura hari ini bersamaan dengan kedatangan anak-anaknya. Senang karena kedua buah hatinya bisa temu kangen dengan mommynya. Kecewa karena waktunya berbincang hanya berdua dengan Laura tersita oleh kedua anaknya. “Mau ke mana?” jawab Syahrul lirih.


“Sepertinya kakak ingin bercerita,” jawab Laura masih tetap pelan. Mereka berdiri bersisian di dekat wastafel.


“Mungkin tentang ibunya,” jawab Syahrul dengan nada suara geram.


“Ada apa dengan mantanmu?” desak Laura.


“Kamu dengar dulu versi Nazwa, nanti kita cari waktu bercerita versiku,” Syahrul melepas tangan Laura karena melihat Nazwa menghampiri mereka.


“Mom …,” Nazwa memanggil Laura.


“Oh ayok kita ke kantin. Daddy mau titip juice apa?” Laura sengaja bertanya pada Syahrul. Dia tak sadar baru kali ini menyebut DADDY untuk Syahrul, walau di depan anak-anak sekali pun.


“Apa saja,” balas Syahrul dengan senyum manisnya. Dia senang mendengar Laura memanggil dengan sebutan daddy walau itu hanya membahasakan di depan anaknya.


“Ceritakan apa yang mengganjal di batinmu,” pinta Laura di cafetaria rumah sakit. Sekalian membelikan Syahrul dan Fahri juice.


“Minggu lalu aku ketemu ibu,” Nazwa memulai ceritanya. Dulu Syahrul dan istrinya memang menggunakan panggilan ibu dan ayah. Tapi sejak perceraiannya, Syahrul membiasakan anak-anaknya memanggil dirinya daddy karena tak suka dikaitkan dengan mantan istrinya.


“Kamu bertemu di mana? Apa Daddy tahu?” tanya Laura.


“Kami sedang bertiga sepulang dari tugas Daddy di panti minggu lalu. Kami akan makan sore di saung ambu sesuai permintaan ade,” sahut Nazwa.


“Saat sedang baca menu, ada orang yang menyapa Daddy,” lanjut Nazwa.


Flash back on


”Uda,” sapa seorang perempuan menor yang berdiri dekat kursi Syahrul.  Membuat Syahrul yang sedang tertunduk membaca menu terkesiap. Nazwa yang pernah mengenal sosok itu melihat dengan sudut pandang kebencian. Perempuan yang telah membuang dirinya.


“Ada apa?” tanya Syahrul. Biar bagaimana pun dia tak mau mencontohkan hal buruk pada kedua anaknya.


“Aku ingin kita bicara berdua,” pinta perempuan itu. Frida Umayani atau yang biasa dipanggil IDA atau uni Ida adalah mantan istri Syahrul yang selingkuh dengan cinta pertamanya dan meninggalkan Nazwa dan Fahri saat mereka masih sangat kecil. Bahkan saat ini Fahri tak mengingat wajah ibunya karena saat mereka bercerai usia Fahri baru 4 tahun. Dan Frida mulai tak peduli pada Fahri sejak anak itu berusia 2 tahun.


“Aku ingin hak asuh anak-anakku,” dengan gamblang ida mengatakan keinginannya.


“Kemana kamu 2 tahun sebelum kita cerai? Dan kemana kamu 4 tahun sejak kita cerai? Mengapa baru sekarang kamu ingin hak asuh anak-anak? Silakan gugat hak asuh mereka, dan aku akan menghadapimu sampai titik darah penghabisan!” teriak Syahrul yang sangat murka mendengar permintaan Ida.


“Ayok kita pindah dari sini,” Syahrul mengajak kedua anaknya keluar dari rumah makan itu.


Flash back off.


“Dan 2 hari lalu ade cerita ibu mendatangi ade saat jam istirahat, karena pernah sehari sebelumnya saat jam pulang, ade langsung lari masuk mobil. Ade cerita kalau ibu ingin kami tinggal dengannya.” Nazwa menjelaskan kelanjutan cerita tentang ibunya.


“Apa ibu tak pernah menemuimu?” tanya Laura hati-hati.


“Beberapa kali dia menemuiku. Aku enggak pernah menghindarinya. Aku sengaja ingin tahu mengapa dia sekarang meminta kami ikut dengannya. Ibu bilang karena dia sayang kami dan ingin dekat dengan kami. Sering aku jawab kenapa ibu enggak urus anak-anak ibu dengan suami barunya saja. Ibu bilang anaknya sudah meninggal saat usia 1 tahun. Dan sekarang ibu tak bisa hamil lagi,” jawab Nazwa dengan lugu.


‘Ternyata dia tak tulus minta anak-anaknya kembali padanya karena menyayanginya. Tapi karena tak bisa punya anak lagi. Aku jadi ingin tahu mengapa dia tak bisa punya anak lagi?’ Laura mendengar cerita Nazwa sambil menerima juice yang ia pesan untuk Syahrul dan Fahri.


“Lalu bagaimana sikap Kakak dan Ade terhadap permintaan ibu kalian?” tanya Laura ingin tahu pendapat gadis kecil di depannya.


“Walau dia kembali menjadi istri daddy sekali pun. Aku enggak akan memaafkan kesalahannya. Aku tahu dia ibuku dan sampai kapan pun dia tetap ibuku. Tapi soal kesalahannya, itu tak termaafkan. Jangan bilang aku masih kecil! Aku tahu seorang perempuan yang sudah meninggalkan anak-anaknya sejak usia sang anak 2 tahun adalah perempuan tak punya otak. Jangan paksa aku buat terima dia. Kalau daddy jahat dan keras atau tak punya penghasilan, sehingga dia tak kuat menjadi istri daddy, tentu saat cerai dia minta kami ikut dengannya.  Tapi ini tak dia lakukan ‘kan? Dia yang memang berniat membuang kami yang mengganggu kebebasannya! Jadi enggak sepantasnya sekarang saat dia butuh dia meminta kami berada disisinya!” tangis pedih Nazwa tak bisa dibendung lagi. Laura berdiri untuk memeluknya.


Gadis kecil ini sangat tertekan! Dari kosa kata yang Nazwa pakai, Laura yakin anak ini sudah sangat marah.Laura tak ingin Nazwa depressi. “Sebaiknya, setiap ibu menemuimu, kamu tak perlu menanggapinya lagi ya. Mommy mohon kamu selalu bercerita dengan Mommy. Jangan kamu pendam sendiri seperti saat ada tante Faiza mendekati Daddy. Kamu punya Mommy untuk berbagi cerita!”


“Yes Mom,” Nazwa mempererat pelukannya. Dia merasa sedikit berkurang bebannya setelah cerita dengan Laura.


“Kita kembali ke ruangan Daddy yok,” ajak Laura setelah dilihatnya Nazwa mulai reda tangisnya.


***


“Aku langsung pulang ya?” Laura izin pada Syahrul sesampainya di ruang periksa duda anak dua itu.


“Mom, I love you so much,” tetiba Fahri datang dan memeluk Laura. Sepertinya dia juga ingin bercerita. Dia juga sudah mulai merasa tertekan dengan kunjungan ibunya ke sekolah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa


judul cerita  GARA-GARA NAFKAH penulis EMMARISMA   pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya


Cuplikan bab nya seperti ini :


Cuplikan bab


Mas Pras menarik tanganku, dan membawaku masuk ke dalam kamar. "Kamu itu apa-apaan sih, berdebat seperti itu dengan ibuku, Dek?"


"Mas, tapi ibu yang mulai. Ibu mengungkit uang itu lagi. Apa aku harus selalu diam? Apa selama ini aku kurang mengalah pada ibu?" ujarku dengan parau, rasanya untuk mengungkapkan kesesakan yang kurasa begitu sulit sekali. Aku hanya bisa meneteskan air mata. Aku lelah menjalani situasi rumit ini.


Melihat air mataku, mas Pras mendekatiku dan mengusapnya. Dia tidak jadi memarahiku saat aku mengatakan semua isi hatiku. Dia harusnya paham betul apa yang sebenarnya aku rasakan. Sudah tidak pernah diberi nafkah tapi masih harus dirong-rong oleh keluarganya.