TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
MET ISTIRAHAT YA ANAK AYAH!



Selamat malam dari Sedayu Jogjakarta


Ini update kedua hari ini


Yanktie tunggu komen manis dan hadiah secangkir kopi untuk menemani Yanktie nulis bab berikutnya ya


Selamat membaca



“Mas ke toilet sebentar ya,” August pamit pada Wulan saat mereka berada didepan toko kue.


“Kamu tolong belikan Mas snack dan kopi susuu dingin dalam kemasan botol buat ngemil dimobil,” pinta August. Dia segera berlari menjauh dari Wulan.


“Ya sudah, aku beli snack,” Wulan memilih aneka snack basah dan kopi susuu dingin untuk August dan Yudha serta susuu coklat dingin kemasan botol untuk dirinya. Dia juga membeli air mineral untuk mereka bertiga.


“Berapa Yank?” tanya August yang sudah kembali dari toilet. Dia siap membayar jajanan yang Wulan ambil walau Wulan sudah siap akan membayar.


“Kopi susunya merk ini atau ini?” tanya Wulan menunjukkan dua botol yang berbeda.


“Mas biasa yang ini,” jawab August. “Dan Yudha enggak minum kopi sussu. Belikan dia kopi hitam saja.”


***


Mereka pun segera berlalu dan menuju parkiran mobil. “Boss, ini perumahan baru dekat panti, yang ini juga ada,” Yudha memperlihatkan ponselnya pada August. Dia sudah mencari perumahan yang masih menjual rumah didekat panti asuhan milik Laura. Selalu seperti itu. Yudha search saat dia menunggu. Bukannya tidur. Ada dua pilihan perumahan dari dua pengembang berbeda yang Yudha dapatkan.


“Oke, kita lihat itu sekalian antar pulang nyonya. Kita ‘kan juga harus cari hotel buat tidur kita malam ini sampai hari Senin,” jawab August. Memang Yudha sosok yang bisa diandalkan.


“Kang Yudha, ini kopi dinginnya. Ada snack juga,” Wulan menawarkan kue basah dan kopi yang tadi dia beli. Ternyata kalau untuk Yudha kopi hitam dingin, tidak seperti kesukaan August.


“Iya Bu, terima kasih,” jawab Yudha. Sejak tadi pagi Wulan menolak dipanggil IBU oleh Yudha. Tapi tetap aja lelaki itu kekeuh menyebutnya dengan panggilan ibu untuk Wulan.


‘What everlah,’ batin Wulan. Mau dia ngotot tetap saja pegawai August tak mau memanggil dirinya langsung nama tanpa embel-embel apa pun.


Di perumahan pertama August sudah suka dengan sebuah rumah minimalis yang terletak di pojok atau hoek. Ada kelebihan tanah yang harus dibayarkan tersendiri. Rumah tak terlalu besar untuk keluarga baru seperti mereka. Hanya ada satu kamar utama dan dua kamar tambahan. Ada kamar pembantu, gudang, dapur, ruang makan, ruang tamu dan ruang keluarga. Sisa tanah dibelakang masih cukup luas dan tanah tambahan disamping seluas tanah utama.


Atau rumah besar tapi halamannya minim. Jadi diperumahan ini ada dua pilihan rumah.


“Kita lihat ke perumahan kedua dulu boleh enggak Mas. Kalau beli rumah jangan keburu-buru. Kalau kontrak sih enggak apa-apa, kalau kontrak enggak cocok bisa pindah lagi,” Wulan memberi saran pada August. Sesungguhnya dia juga suka dengan rumah yang di hoek tadi.


“Saya bisa minta kontak person yang bisa saya hubungi bila saya ingin rumah ini? Istri saya masih mau melihat pilihan lain untuk dia pilih,” August bersikap bijak. Dia mengikuti saran Wulan.


Diperumahan kedua, ternyata tak ada yang tanahnya luas. Semua sesuai dengan denah karena sudah banyak yang terjual bahkan sudah banyak yang menempati. Pilihan dipengembang ini sama dengan rumah standart yang diperumahan pertama tadi.


“Bagaimana Sweety. Mau ambil yang mana?” tanya August. Dia menyerahkan pilihan pada Wulan.


“Ya sudah Mas, yang dipojok perumahan sebelumnya aja. Yang ada tanah sisa. Bukan yang tingkat ditengah,” jawab Wulan. Wulan tak menyangka, dia mendapat jodoh secepat ini. Dia juga tak menyangka kehidupannya langsung berubah drastis.


August langsung menghubungi kontak person dipengembang pertama tadi, dan berjanji besok akan datang untuk transaksi.


“Udah mau maghrib, Mas enggak mampir ya Yank. Kamu istirahat. Besok kita beli seserahan juga beberapa barang buat isi rumah kita. Kamu jangan lupa kirim copy KTP dan KK mu ya. Mas butuh buat dikantor. Kemarin sudah diminta sebelum Mas cuti,” August bersiap membuka pintu dan menunggu Wulan turun. Dia nanti akan pindah ke depan.


“Jangan begadang ya Mas,” bisiknya pada August. Wulan sedang berupaya mengakrabkan diri dengan calon pendamping hidupnya kelak.


August mencium kening Wulan sebelum calon istrinya turun. Dia juga kembali mengusap perut Wulan dengan lembut. “Met istirahat ya anak Ayah!”


Wulan hanya terkesiap August menyebut dirinya Ayah. Padahal sejak dulu dia membasakan dirinya ibu ketika bicara dengan calon anaknya.


***


“Sekarang kita kemana Bos?” tanya Yudha sesudah Wulan turun.


“Kita cari hotel dulu yang deket tempat acara hari Senin. Jadi Mami dan Papi enggak kejauhan ke lokasi acara.” Jawab August. Mereka memang belum makan malam. Tapi mencari hotel lebih penting karena ini weekend. Takut semua kamar full.


‘Sweety, copy KTP jangan lupa ya,’ August kembali mengingatkan Wulan.


‘Oh ya, sekalian berkasmu untuk daftar ke KUA. Hari Senin pas kamu kuliah, Mas urus ke KUA,’ lanjut August di chat selanjutnya.


***


August langsung search goggle, mencari jasa untuk menghias hantaran pernikahan yang ada disekitar hotel tempatnya menginap atau dekat dengan rumah yang akan dibelinya esok. Untuk Lamaran memang tak ada paket seserahan. Tapi untuk nikah selain mahar tentu ada seserahan yang melengkapinya.


Kemarin dia sudah membeli satu set perhiasan di tiffany and co yang  akan dia jadikan mahar. Dia tak ingin menggunakan seperangkat alat salat sebagai mahar.


“Hotel depan itu gimana Bos?” tanya Yudha memecah konsentrasi pencaharian August.


“Sepertinya bagus. Iya disitu ajalah. Ambil dua kamar aja. Jadi kalau besok penuh, kamar gue bisa buat mami papi. Lu berdua ama Farhan,” August bersiap turun untuk memesan kamar.


“Eh, koper yang turun yang mana?” tanya Yudha. Maklum selain koper kerjanya kemarin, August membawa tiga koper besar.


“Enggak usah, ransel aja yuang turun,” jawab August.


“Laaah, kirain ni koper turun sekarang,” Yudha juga mengeluarkan ransel miliknya selain milik August.


“Enggak. Koper nanti langsung turun di rumah baru gue aja,” jawab August santai. Mereka lalu turun dari mobil untuk menyewa kamar untuk istirahat  malam ini. Nanti mereka akan  keluar lagi guna makan malam.


***


Malam ini Laura sendiri menjaga Syahrul. Mama dan papanya dia minta pulang bersama anak-anak. Dia membuka ponselnya dan membaca surat-surat al qur’an pelan-pelan. Dia masih menggunakan mukena sehabis salat isya.


Laura melipat mukenanya dan memasukkan ke tas khusus mukena. Dia ingin masuk ke ruang rawat. Biasanya malam, ada beberapa suster yang baik membolehkan seorang penunggu untuk masuk menemui pasien. Penunggu sering minta waktu untuk menuntun doa menjelang tidur. Agar pasien walau tidak sadar tetap berdoa.


=============================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta