
***YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin KOMEN manisnya ***
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Laura banyak tertawa dengan August. Mereka sekarang cukup akrab sejak pertemuan di rumah opa Greg. “Kapan kamu ke Jakarta lagi?” tanya August hari ini.
“Sepertinya enggak dalam waktu dekat ini. Aku sedang terlibat sebuah perkara sehingga harus beberapa kali datang di persidangan,” jawab Laura. Dia sedang menggendong seorang bayi yang baru seminggu tinggal di panti.
“Perkara apa? Butuh bantuan pengacara?” tanya August. Di club motor besarnya banyak pengacara besar. Pasti mereka punya link dengan pengacara yang berdomisili di Bandung.
“Aku saksi korban. Jadi enggak butuh pengacara. Walau dalang pencurian adalah anak pengacara kondang di Bandung,” balas Laura santai. Tak ada yang tahu latar belakang Laura kecuali dia sarjana design.
“Memang apa yang hilang?” tanya August penasaran.
“Sketsa designku,” Laura membaringkan bayi yang sudah terlelap.
“Wulan, kamu tolong ambilkan buku besar tentang data bayi ini dong,” pinta Laura pada Wulan yang lewat di depannya saat menaruh bayi yang tadi digendong Sukma. Sukma memindah tangankan karena ingin ke toilet.
“Baik Bu,” sahut Wulan, dia menuju ruang administrasi dan meminta data pada Nengsih yang piket kali itu.
“Ini Bu,” Wulan menyerahkan buku yang Laura minta.
“Mas aku ke ruanganku ya.” Laura pamit pada August setelah dia mengucapkan terima kasih pada Wulan.
“Berikan nomor rekeningmu atau aku berikan lewat rekening Bu Laura atau rekening yayasan,” August berkata pelan saat mereka hanya berdua sepeninggal Laura.
“Maaf Pak, bukan tak ingin dibantu. Tapi uang saya masih cukup,” balas Wulan. Padahal uangnya tinggal untuk beli buku dan ongkos sehari-hari. Karena pagi ini dia terpaksa membeli baju untuk kuliah. Dia memang tak punya baju pantas sama sekali. Selama ini dia kerja dan sekolah dengan baju seragam. Sedang selama kerja di panti dia cukup mengenakan baju rumahan saja. Selain itu dia baru bayar biaya kontrol kandungan dan membeli vitamin.
Memang ada dana yang tak ingin dia gunakan yaitu dana persalinan.
“Baik, saya akan katakan pada Sukma untuk memberikan padamu uang yang saya kirim untukmu,” August keluar ruangan itu untuk mencari Sukma. Dia tahu keuangan panti dipegang oleh Sukma.
“Sukma.” panggil August yang baru saja lewat karena akan meminta tanda tangan Laura.
“Akan saya berikan,” Wulan berdesis pelan ditelinga August sambil lewat. Dia tak ingin August berulah bila tak dia berikan nomor rekening pribadinya.
“Iya Pak August,” jawab Sukma menghentikan langkahnya menuju ruang Laura.
“Nanti malam cek pesan saya ya,” pinta August. Wulan jelas mendengar itu. Kalau dia tak memberikan nomor rekeningnya, pasti August akan memberikan bantuan untuknya sekalian bantuan rutin untuk anak panti yang memang selalu August lakukan.
“Baik Pak. Terima kasih sebelumnya.” sahut Sukma. Selain uang bantuan pribadi, August juga memberikan bantuan dari Clubnya. Dan biasanya dia yang mentransfer.
Sebuah notifikasi masuk di chat August. Dia melihat deretan angka yang Wulan kirimkan. August hanya tersenyum tanpa membuka chat itu.
“Masuk,” Laura mempersilakan masuk orang yang mengetuk ruang kerjanya.
‘Baru saja Sukma keluar. Sekarang siapa lagi?’ pikir Laura.
“Kita makan siang diluar yok?” ajak August pada Laura setelah dia masuk ke ruangan kerja Laura di panti asuhan.
“Kalau mau nunggu sepuluh atau lima belas menit lagi, aku bisa keluar,” jawab Laura. Dia mau melihat data yang baru saja Sukma berikan untuk dia tanda tangani.
“Oke, aku tunggu diluar aja biar kamu enggak keganggu. Aku tunggu di mobilku aja ya,” August langsung keluar ruangan tanpa menunggu jawaban Laura.
Di mobil August menyalakan mesin sehingga bisa menyalakan AC mobil. Dia menyalakan musik golden memorys yang dia suka. Dia buka mBanking dan mentransfer sejumlah data ke rekening Wulandari. Tak perlu dia capture lalu dia beritahu. August yakin akan ada notiv perbankan masuk diponsel Wulan
***
Ilyas sengaja berhenti di sebuah rumah makan cukup besar dan memberi beberapa jenis lauk. Sambil antri membayar Ilyas mengirim pesan pada tetehnya kalau sudah dekat dirumah dan meminta tetehnya itu masak nasi. ‘Aku dan keluargaku sebentar lagi sampai. Teteh masak nasi ya, kami belum makan. Aku akan bawa lauk.’
‘Sombong itu wajib Teh, cowoq ganteng kayak aku pasti diterima lah,’ balas Ilyas.
‘Kalau kamu ganteng, sejak dulu Laura nerima kamu,’ balas sang teteh. Mereka memang selalu sharing sehingga waktu Ilyas pedekate dengan Laura juga dia menceritakannya pada Novia.
‘Itu karena Laura enggak lihat kegantenganku,’ balas Ilyas.
“Ayah beli apa aja?” tanya Nindi. Dia tadi tak diperbolehkan turun oleh bundanya.
“Beli lauk sayank, nanti kita makan dirumah Uwak Novia ya,” jawab Ilyas sambil memberikan lauk yang beberapa masih panas pada bik Iyah.
Ilham yang melihat Ilyas masuk mobil ingin minta gendong. Dia merengek dengan memberikan tangannya dan suaranya terlihat hendak menangis. Bayi lima bulan itu sudah sangat mengenal ‘ayahnya’.
“Ayah nyetir dulu ya, sebentar lagi kita akan sampai rumah Uwak. Nanti pas turun Ayah gendong,” Ilyas membujuk Ilham. Tangan kirinya memegang jemari Ilham. Bayi yang baru bangun langsung minum ASI itu tak mau. Dia menangis dan tak mau dibujuk dengan kembali diberi ASI. Dia maunya digendong sang ayah.
“Ini sudah masuk perumahan Uwak. Sebentar lagi kita turun ya,” bujuk Ilyas lembut. Namira pun juga membujuk putranya itu. Untung mereka segera sampai.
Gilang dan Galang berlari kehalaman begitu mobil paman mereka tiba. “Assalamu’alaykum,” sapa Nindi yang lebih dulu turun dari mobil.
“Ayok ikut Ayah,” Ilyas langsung mengambil Ilham dari tangan Namira. Dan dia turun menemui kakak dan kakak iparnya yang menyambut mereka di teras.
“Assalamu’alaykum,” sapa Ilyas sambil mencium tangan kakaknya lalu mencium pipi Novia.
“Wa’alaykum salam,” sahut Novia.
“Ini kenapa nangis begitu?” Novia melihat bayi chubby yang digendong Ilyas masih ada airmata dan mulutnya manyun seperti marah.
“Dia minta gendong Ayah sebelum sampai Uwak,” jawab Ilyas sambil menciumi Ilham.
“Assalamu’alaykum, apa khabar A’?” sapa Ilyas pada kakak Iparnya.
“Sae. Geus lila teu ka dieu. Lamun datang, bawa orok,” goda kakak iparnya dan mereka berpeluk dengan menempelkan bahu. ( Sae. Geus lila teu ka dieu. Lamun datang, bawa orok \= kabar baik. Kamu sudah lama tidak datang, begitu datang sudah bawa bayi aja ).
“Sama Uwak ya? Ayah turunin barang dulu,” Ilyas meminta Ilham ikut Novia atau suaminya. Tapi bayi kecil itu memeluk leher Ilyas sangat erat. Melihat itu Novia hanya tersenyum. Sedang suaminya langsung membantu bibik dan Namira menurunkan barang dari mobil Ilyas.
“Assalamu’alaykum,” sapa Namira pada Novia dan Kusdi.
“Wa’alaykum salam,” sahut Novia menyambut tangan Namira yang mencium tangannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mapir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.
Napennya : MORATA
Judul cerita : PERAWAN LIMA RATUS JUTA
ringkasan cerita seperti ini
"Jangan pernah menghindari Ku, Kakak kamu akan mendapatkan perawatan dan pengobatan ekslusif. Asalkan kamu bersedia menjadi teman tidur ku selama dua Minggu. ucap Daniel Gladuks.
Kelamnya masa lalu telah membentuk Daniel Gladuks menjadi seorang laki-laki yang sangat tidak percaya dengan namanya cinta. Itu sebabnya ia kerap memandang rendah pada wanita. Dan selalu menganggap wanita itu hanya mainan saja. Hal itu yang membuat Daniel Gladuks selalu bergonta ganti pasangan untuk memuaskan nafsu birahinya.
Tetapi Olivia Jason hadir di kehidupannya dengan membawa segala ketulusan yang ia punya.
Akankah Olivia Jason mampu membuat Daniel Gladuks berubah dan dapat percaya bahwa cinta tulus dari seorang wanita benar-benar ada?
Simak ceritanya di "Perawan 500 juta