
Tanpa diduga siang ini Laura mendapat tamu istimewa. Seorang pengacara perempuan cukup terkenal karena kata-kata sadis yang sering dia lontarkan pada lawannya dalam berperkara.
“Selamat siang, ada perlu apa Bu?” tanya Laura tanpa basa basi. Nyonya besar didepannya terlihat sangat cantik, ditunjang pakaian dan tas serta sepatu mewahnya membuat perempuan itu makin mempesona.
“Perkenalkan saya Seruni Baharsyah,” cetus perempuan itu.
“Tanpa Ibu memperkenalkan nama, saya tahu siapa Ibu dan juga reputasi Ibu,” jawab Laura dengan yakin. Tak ada kegentaran sama sekali. Dia memang sudah siap mental saat berniat membongkar kasus Laras di media cetak dan elektronik.
“Saya kesini ingin memberi penawaran terhadap kasus Laras,” Seruni pun tak takut melihat reaksi Laura.
“Maaf sebelum berkepanjangan. Ibu datang kesini sebagai lawyer tersangka atau sebagai orang tua tersangka?” tembakan yang Laura bidik kena sasaran! Laura tidak menyebut nama Laras, tapi langsung menyebutnya sebagai tersangka, karena memang itu status Laras saat ini.
“Tentu saja saya datang sebagai lawyer anak saya,” dengan pongah Seruni menjawab kata-kata Laura yang dia pikir tak mengerti apa pun tentang sebuah perkara. Tak sadar dia masuk jebakan Laura.
“Sebagai lawyer tersangka?” tanya Laura lagi meyakinkan.
“Ya, saya lawyer resmi Larasati Kusworo ( Kusworo adalah nama besar keluarga Sapto Enggano Kusworo menantunya atau suami Laras ).
“Baik. Saya minta copy surat mandat anda sebagai lawyer dari tersangka. Kalau Ibu tak punya itu dan membuat alasan tidak membawa surat itu, berarti ibu melakukan pembohongan publik! Karena seorang pengacara kemana pun harus memperlihatkan surat mandat itu bila ingin bekerja mengurus perkara yang ditanganinya.”
Seruni Bharsyah SH, MPH mati langkah! Dia tak percaya gadis muda didepannya tak takut padanya. Dia tentu bisa datang besok dengan surat mandat yang bisa dia buat tertanggal mundur. Tapi gadis didepannya pasti sudah tahu hal itu. Dia akan mencari jalan lain.
“Baik, anggap saja saya datang sebagai orang tua dari Laras,” Seruni langsung melakukan manuver.
“Apa niat ibu sebagai orang tua terduga dalang pencurian sketsa milik saya?” tanya Laura pedas.
“Saya ingin kita ambil jalan damai,” Seruni menawarkan option damai pada Laura.
“Damai yang bagaimana?” Laura terus memancing Seruni.
“Kita buat agar Liliya mengaku kalau dia berbuat kemauannya sendiri, bukan disuruh oleh Laras. Saya akan memberi uang tutup mulut pada Liliya dan Rose,” cetus Seruni.
“Hanya Rose dan Liliya?” pancing Laura.
“Tentu anda juga akan saya beri pengganti bila memang anda setuju,” balas Seruni. Perempuan cantik ini makin bersemangat karena melihat Laura tidak menolak soal wacana pemberian uang tutup mulut pada kedua tersangka selain anaknya.
“Berapa nominal yang akan anda berikan pada saya?” tanya Laura berani.
“Anda minta berapa?” tantang Seruni.
“Anda yang ingin memberi Nyonya, saya tidak minta dan saya belum mengiyakan setuju atau tidak,” jawab Laura diplomatis.
“Bagaimana bila 1M?” angka yang fantastis Seruni ucapkan dengan kesadaran. Dia sanggup mengeluarkan sejumlah itu yang penting anaknya bebas dari tuntutan.
“Bahkan kalau sejak awal anda menyebut angka 25T, saya akan menolak. Bisa Nyonya bayangkan bila anak anda yang pencuri itu berhasil launching sketsa saya lebih dahulu sebelum saya?”
“Saya akan dianggap plagiat. Dan mulut ember anak anda akan bernyanyi seakan memang saya lah plagiatnya! Berapa kerugian yang saya alami?” tanya Laura dengan penuh penekanan pada kata pencuri dan mulut ember.
“TAK TERHINGGA! Kalau anda bisa mengganti kata tak terhingga dengan nominal, itu lah yang saya minta anda berikan pada saya,” Laura memberikan penolakan secara pintar.
Seruni diam. Dalam kasus ini bagaimana caranya pun, memang anaknya salah.
‘Ah benar. Aku tidak berpikir alibi Lili mencuri bila bukan disuruh Laras. Sedang Rose juga bukan penjahit. Tak mungkin aku bilang mereka mau buka usaha sendiri,’ Seruni mengumpat dirinya sendiri.
“Saya rasa cukup Nyonya, saya masih mau membuat design baru. Karena saya pekerja bukan pencuri!” Laura mengusir Seruni dengan halus tapi menusuk jantung. Dengan gontai Seruni keluar dari butik Laura.
***
“Selamat siang Pak,” Vidya masuk ke ruangan Paulus sesudah ketukannya dijawab pemilik ruang itu.
“Siang. Ada apa?” tanya Paulus. Dia lupa kemarin memerintah Vidya untuk menyerahkan bukti yang August inginkan.
“Saya ingin menyerahkan data yang Bapak minta kemarin. Saya bingung tidak tahu email pribadi Bapak atau nomor ponsel Bapak untuk mentransfer data ini,” Vidya memperlihatkan sebuah foto yang August butuhkan.
“Kamu langsung kirim ke nomor ini saja,” Paulus memperlihatkan nomor ponsel August pada Vidya.
“Sudah terkirim Pak,” Vidya memperlihatkan pengiriman file yang sudah berhasil Vidya lakukan.
“Sebentar, saya cek ke yang bersangkutan. Karena bisa saja habis ini anda hapus pengiriman itu,” Paulus langsung menghubungi nomor August.
“Cek pengiriman file barusan,” Paulus langsung to the point ketika August menyapanya dengan kata ‘Hallo’. dan dia pun langsung menutup panggilan pada August.
‘Thanks Bro,’ chat dari August sudah Paulus terima.
“Kamu boleh keluar. File sudah diterima,” Paulus kembali menekuni layar laptopnya tanpa peduli pada Vidya didepannya.
“Baik Pak. Terima kasih,” Vidya keluar dari ruangan itu dengan keqi. ‘Harusnya dia yang bilang terima kasih, bukan aku!’
*** “
Mami dan Oma lihat ini ya,” August memberikan sebuah kertas foto copy saat dia lihat oma dan maminya sedang minum teh sore sambil menyantap klappertart buatan oma.
“Apa ini Gust?” tanya mami penasaran.
“Itu status pernikahan perempuan cantik yang Oma jodohkan untukku. Perempuan itu belum pernah terlihat pacaran sejak dia SMA. Perempuan cantik dan sukses tanpa pernah pacaran dengan laki-laki,” jawab August sambil memindahkan potongan kue ke piring kecil untuk dia santap.
“Dia sudah menikah? Mengapa keluarganya tak ada yang tahu?” tanya oma bingung. Dia pikir temannya yang berstatus oma Stella tak mungkin menipunya.
“Keluarga dari pihak ayahnya tahu dan dia sudah diusir. Keluarga dari pihak mamanya menutupi. Dia menikah dengan sesama jenis Oma,” jawab August. Oma memang hanya melihat judul piagam tanpa melihat nama pengantinnya.
“Apaaaaaaaaaaaaa?” oma tentu saja kaget.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya ***
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta