TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
DOUBLE DATE? OH NO!



Hari ini bu Fitri dan pak Ayub kembali mendatangi panti asuhan Kepak Kasih Bunda di Cimahi. Mereka kembali melihat Ikhsan, batita berusia 14 bulan yang sejak awal mereka sukai. “Eh ketemu pak Dokter lagi,” sapa bu Fitri dengan semangat. “Sepertinya pak dokter berjodoh nih ama teteh Santi,” cetusnya tanpa malu.


‘Kalau enggak sengaja lalu bertemu, itu bisa dibilang jodoh. Kalau emang datangnya sengaja ngepasin jadwal kunjungan dokter Ilyas mah namanya bukan jodoh! Tapi pemaksaan,’ batin Sukma yang keqi mendengar celoteh bu Fitri. Para bunda di panti tahu, dokter Ilyas menyukai Laura.


“Selamat pagi Ibu, Bapak!” sapa Laura ramah. Baru kali ini dia bertemu dengan pasangan suami istri yang hendak mengadopsi Ikhsan. Kemarin dia sudah melihat berkas pasangan ini. Berkas yang diajukan ke pengacara juga sudah yayasan serahkan untuk ditindak lanjuti.


“Morning Mom,” sapa dokter Ilyas ramah.


“Morning too Dokter,” balas Laura dengan senyum super manisnya semanis gulali. “Hari ini ada jadwal imunisasi ya Dok?” Laura meminta kepastian dokter Ilyas. Dia sudah melihat jadwal imunisasi sejak kemarin. Dan nanti juga akan sekalian ada posyandu di teras panti asuhan. Memang Laura memfasilitasi posyandu dilingkungannya. Setiap bulan posyandu lingkungan rutin diadakan di teras panti,  diberi juga pemeriksaan dokter gratis pada balita di lingkungan. Itu sebabnya hari ini dokter Ilyas datang bersama mbak Vera, perawat setianya.


“Bener banget, seperti biasa, pemeriksaan rutin anak-anak panti duluan, termasuk imunisasi. Baru pelayanan posyandu MAWAR.” jawab sang dokter.


Karena ada mbak Vera, maka Laura berkenan berjalan dengan dokter Ilyas untuk memeriksa para anak asuh di panti. “Hallo anak Mommy, sehat terus ya?” Laura memberikan kecupan gemas di pipi seorang bayi perempuan yang belum diperiksa dokter. Mbak Vera dan Sukma yang berada di ruangan itu membalas dengan bergumam, “Aamiiiin.”


“Dokter, apa kondisi Ikhsan sehat?” tanya bu Fitri, seakan-akan Ikhsan sudah menjadi anak resminya.


“Insya Allah kalau menurut kartu kesehatan yang dimilikinya, dia sehat Bu,” jawab dokter Ilyas sambil pindah ke box lain dan memperhatikan kartu data pasien di tangannya. Bila sedang bekerja dokter muda nan ganteng itu serius akan pekerjaannya. Tak patut baginya tebar pesona saat dia bekerja.


“Dok, nanti malam ada waktu?” cecar bu Fitri saat kembali dokter Ilyas akan berpindah ke box lain. Namun tak ada jawaban yang terdengar dari mulut dokter Ilyas. Dia kembali bermain dengan stetoscope nya lalu dia minta data suhu serta mencatat semua hasil pemeriksaannya di data pasien. Diteliti lagi nama pasien dan sosok pasien agar tak salah menuliskan hasil pemeriksaan.


Tak mau menyerah, bu Fitri mengikuti dokter Ilyas pindah ke ruangan berikut. Dia kembali mengulangi pertanyaannya tadi. “Dok, nanti malam ada waktu?”


“Ada apa ya Bu?” tanya dokter Ilyas ragu.


“Saya dan suami hendak mengundang anda makan malam di rumah saya atau kita double date makan diluar. Kita berempat, saya, suami saya dan teh Santi,” jelas bu Fitri cepat. Dia tak ingin sang dokter kembali sibuk memeriksa semua penghuni panti.


‘Double date? Dengan Santi?  Big NO!’ dokter Ilyas berpikir keras. Dia tak suka dikejar seperti ini. Dia saja yang laki-laki tak mau mengejar cinta dengan membabi buta, apalagi dikejar tanpa etika. “Maaf Bu, saya memang ada waktu, karena malam ini saya ada di rumah. Saya akan makan malam dengan ibu saya dan calon istri saya. Siang ini mereka berdua sudah janjian akan belanja bareng lalu masak bareng untuk makan malam kami nanti.” dokter Ilyas langsung memberi pagar agar dia tak dikejar.


Krak … ada yang patah, namun bukan ranting.


***


“Kakak mau kita balikkan, Kakak mau kamu bisa memberi 1 kali lagi kesempatan untuk Kakak,” August masih bersikeras dengan keinginannya.


“Lalu … perempuan yang hamil anak Kakak kemarin bagaimana?” Julia mengajuk hati August dengan pertanyaan ambigunya itu. Siapa pun yang mendengar kat-kata itu bisa menduga Julia mau balikan dengan August, hanya tidak enak karena ada perempuan lain yang sedang hamil anak August.


“Kakak memang bodoh, Kakak tergoda dengannya. Dia bukan perempuan baik-baik. Di sore sehabis paginya kami menikah, perempuan itu pergi dengan teman-temannya. Dan malam itu Kakak melihat sendiri dia sedang bercumbu dengan laki-laki lain,” August menceritakan penyesalannya.


“Pastinya Kak. Perempuan baik-baik tak akan memberikan tubuhnya pada siapa pun juga sebelum menikah. Kakak pantas mendapatkannya. Sampah memang cocok dengan tempat sampah,” dengan santai Julia membalas cerita August.


“Kakak menyesal Neng, Kakak ingin kita kembali bersama dan Kakak akan memperbaiki semua kesalahan Kakak,” rengek August.


“Saat Kakak melihat dia sedang bercumbu dengan laki-laki lain. Apa yang Kakak lakukan?” tanya Julia lagi. Bastian geram namun juga salut mendengar Julia bisa tanpa emosi meluap-luap bicara dengan August.


“Kakak langsung menalaknya. Kakak membuang dia karena tak yakin anak yang  dikandungannya adalah milik Kakak,” jelas August. Dia membuktikan pada Julia kalau sekarang dirinya sudah bebas.


“Langkah yang tepat Kak. Sampah memang harus di buang. Itu juga yang saya lakukan. Saya membuang Kakak dan tak akan pernah memungutnya lagi. Mungkin bagi perempuan lain nanti, Kakak bisa mengatakan semua keburukan Kakak agar dia mau menerima Kakak. Tapi bagi saya, saya tentu tidak bisa. Karena Kakak melakukan kesalahan saat sedang menjadi tunangan saya. Kakak berselingkuh di belakang saya. Soal hidup bersama sebelum bertemu saya, itu saja saya sudah sangat ji_jik, tapi bisa saya maafkan. Karena terjadi sebelum kita kenal. Tak ada yang bisa menghapus masa lalu. Tapi pengkhiatan, itu terjadi saat kita bersama. Kakak tentu ingat, saya sudah memberi ultimatum, tak akan pernah ada kesempatan kedua. Sekali lagi maaf. Saya tak bisa kembali bersama Kakak.” Julia mengakhiri kata-kata super panjangnya dengan senyum manis.


Bastian makin gemas melihat ekspresi wajah Julia. Bastian duduk menghadap Julia di meja belakang August, jadi dia bisa mendengar dan melihat dengan jelas ekspresi Julia.


“Kakak mengerti. Maaf telah kembali menyakitimu. Terima kasih pernah mejadi perempuan terhebat dalam hidupku setelah Mami. Aku terima perpisahan ini. Yang aku minta, kita tidak bermusuhan, kita tetap bisa berhubungan baik sebagai teman kalau tak bisa Kakak minta sebagai sahabat atau saudara. Tetaplah berhubungan baik dengan mamie dan oma. Karena mereka berdua sangat kehilangan dirimu. Mereka sangat menyayangimu seperti anak atau cucu mereka sendiri,” dengan besar hati August menerima semua konsekwensi kelakuan kotornya. Dia sadar, memang yang dia lakukan dengan April adalah kesalahan terbesar, karena dia mencurangi pasangannya. Suatu hal yang belum pernah dia lakukan sejak dia belajar pacaran saat ABG dulu. Sederet nama pernah singgah dalam hati dan sederet nama pernah menjadi teman tidurnya. Tapi tak pernah ada yang mengalami seperti Julia, dia selingkuhi!


\==================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta