
SELAMAT MEMBACA
“Suami saya sudah bercerai dengan Almira. Lalu menikah dengan saya,” jawab Anna cepat.
“Baik Ibu. Jadi sudah bercerai ya. Sekalian pak Halim, saya minta copy surat cerai dengan bu Almira agar data saya bisa saya perbaharui,” semua masih diam. Hanya sekretaris saja yang berperan.
“Saya … saya,” Halim bingung akan menjawab apa. Karena Anna sudah salah menjawab mereka sudah menikah dan dirinya juga sudah bercerai dengan Almira. Halim tentu tak tega mempermalukan Anna saat ini. Kalau dia tahu Almira istri resminya ada di ruangaan itu tentu dia akan membantahnya dengan keras.
“Kenapa Pak? Bapak enggak bisa memperlihatkan surat cerai dengan Almira. Apa benar Bapak sudah mengurus surat cerai?” tanya pak sekretaris dengan santai.
“Dan kalau Bapak tidak punya surat nikah dengan bu Anna karena kalian nikah siri. Apa bisa kalian sebutkan tanggal pernikahan dan siapa yang menikahkan kalian saat itu? Serta dimana? Biar kami datangi saat ini juga untuk memperjelas bahwa tidak ada warga kami yang kumpul kebo!” sahut pak sekretaris selanjutnya.
“Kami tidak kumpul kebo. Bapak jangan asal tuduh!” Anna mulai tersulut emosi.
“Baik Ibu. Sekarang perlihatkan saja bukti nyatanya. Ibu tak perlu emosi seperti itu bila ibu benar,” pak wakil RT menyela.
“Pak Halim saya tunggu. Tolong ambil segera karena saya masih banyak pekerjaan,” sekretaris RT mendesak Halim.
“Suratnya ada dirumah saya,” sahut Anna cepat. Perempuan ini memang paling jago untuk berbohong.
“Baik. Sekarang juga kita ambil di rumah Ibu biar tidak simpang siur,” kali ini pak RT berdiri dan mengajak Anna untuk mengambil surat yang dia katakan ada di rumahnya.
“Itu … itu,” Anna sekarang mati langkah.
“Saya ingin melihat surat cerai Halim dan saya!” Almira membuka cadarnya dan meletakkannya di meja.
“Almi!” pekik Halim dan Anna bersamaan.
“Ya. Ini saya. Kalian enggak mikir saya akan kembali? Selamat ya Anna. Kamu sudah berhasil mendapat lelaki bekasku yang sejak SMA sudah sangat kamu inginkan. Dan kamu Kang didepan semua pengurus RT aku minta jatuhkan talakmu sesuai yang Anna sebutkan tadi. Suratnya akan aku urus resmi bukan hanya membual seperti pela-curmu itu,” jawab Almi tegas.
“Enggak Al. Saya enggak pernah mencerai kamu,” balas Halim cepat.
“Kamu enggak ceraikan aku, tapi kamu bawa perempuan liar hidup di rumahku? Dan kamu juga memperkosa adik kandungku hingga dia hamil? Pak RT kalau dia tak mau menceraikan saya saat ini, saya akan tuntut dia terhadap perkosaan yang dia lakukan agar dia dipenjara,” Almi emosi mendengar kata-kata Halim.
“Sabar bu Almi. Biar saya yang bicara,” pak RT menengahi Almi yang mulai emosi. Sementara diluar masyarakat mulai ramai.
“Pak Halim saya minta kepastiannya. Bagaimana kejadian yang sebenarnya atau kalian akan diarak keliling kampung tanpa busana,” ancam pak RT.
“Harap semua tenang!” wakil RT memperingatkan warga di luar untuk tenang.
“Saya memang belum bercerai dengan Almi dan tak akan pernah menceraikannya karena saya mencintai dia. Tapi Anna menghasut saya kalau selama ini Namira menjual diri untuk biaya kuliahnya. Itu alasan saya memperkosanya.”
“Anna meminta saya mengetes keperawanan Namira untuk membuktikan kata-katanya.Ternyata Namira tak seburuk yang Anna katakan. Namira masih perawan ketika saya memperkosanya,” Halim menangkup wajahnya dalam kedua tangannya. Dia sangat malu bisa terhasut oleh Anna.
“Anna bercerita kalau Almi di Taiwan sudah punya lelaki lain dan tinggal bersama, itu sebabnya saya membalas dengan tinggal bersama Anna. Awalnya saya tak mau dia tinggal disini. Tapi dia selalu mengancam akan menghabisi Nindi bila kami tinggal ditempat lain,” Halim memberi kesaksian yang jujur mengenai semua alasan yang dia lakukan.
“Ha ha ha, dasar pela-cur, segitunya kamu menginginkan Halim sehingga merusak nama baikku dan Namira. Di Taiwan bisa keluar mess satu minggu satu kali saja sudah bersyukur. Malah aku disebut kumpul kebo disana. Selamat kamu sukses.” Almira makin emosi mendengar kenyataan kalau Halim juga kena hasutan Anna.
“Yang penting sekarang jatuhkan talak didepan aparat dan kalian keluar dari rumah saya sekarang juga,” Almira memberi ultimatum pada Halim dan Anna.
“Silakan pak Halim. Ingin pelaporan pemerkosaan anda diproses atau memberi talak? Karena polisi desa sudah saya kabari kejadian yang berkaitan dengan tindakan bu Anna,” pak RT memberi pilihan pada Halim.
“Dan jangan lupa, sejak tadi empat ponsel merekam pembicaraan kita bu Anna,” Misah membuka cadarnya. Halim kaget bibi istrinya juga hadir disini. Misah mengeluarkan dua ponsel yang sejak awal merekam selain ponsel pak RT dan ponsel pak sekretaris yang memang dia lihat berada di meja dengan posisi RECORDING.
Anna tak mengenal siapa Misah. Dia hanya tahu perempuan itu bekerja di kelurahan.
“Assalamu’alaykum,” sapa dua orang berpakaian polisi yang sejak tadi ditunggu pak RT.
“Wa’alaykum salam. Silakan masuk Pak,” pak wakil RT mempersilakan dua orang aparat penegak hukum masuk ke ruang tamu itu.
Tak ada pilihan untuk Halim. Dia tentu berpikir panjang bila harus mendekam di penjara. Walau tetap saja pasti diproses karena perbuatannya sudah tercium oleh aparat.
“Pak Halim, saya tunggu kelanjutannya. Mumpung dua aparat hukum sudah sampai disini,” pak RT cepat memberi perintah pada Halim.
“Bismillah. Saya Halim Gumilar dengan ini secara sadar dan tanpa paksaan memberi talak satu pada istri saya Almira binti Galih Kesuma, sejak saat ini saya bebaskan engkau dari pernikahan kita,” dengan menunduk Halim mengucap kata talak didepan semua pejabat RT tempat tinggalnya.
“Tolong berikan bukti pembayaran listrik dan PAM rumah ini sebelum kalian keluar dari rumah saya,” tanpa ampun Almira tak mau memberi sedikit pun peluang pada Anna.
Halim yang kebetulan memegang bukti yang Almi minta langsung mengeluarkannya dari dompet. “Yang bulan ini belum.”
Wajarlah, karena masih awal bulan sehingga belum dibayar.
“Pak Ihim dan pak Kusen, silakan bawa keduanya ke kantor polisi,” pak sekretaris langsung meminta Anna dan Halim dibawa ke kantor polisi. Karena tadi jelas ada ancaman terhadap Nindi dan juga penghasutan Anna agar Namira diperkosa.
“Bantu kami mengawal pak,” pinta pak Solichin yang biasa dipanggil pak Ihin.
“Ya, kami bertiga akan mengawal pak Ihin,” sahut pak RT.
Pak Ihin mengikat kedua tangan Halim dan Anna menggunakan plastic handcuffs yaitu alat pengganti borgol lama.
===========================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta