
*YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.***
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
===========================================================================
“Ahaaay, boljug tuh ide nya. Ade juga akan seperti itu aja. Sekarang tiap hari Ade nyumput ( sembunyi) setiap jam istirahat,” Fahri akhirnya secara tak langsung mengakui dia tersiksa bertemu Ida sehingga memilih sembunyi setiap waktu istirahat. Tentu saja Syahrul gusar anak-anaknya terluka dengan kelakuan semau sendirinya Ida.
“Terus terang Daddy sedih kalian sampai seperti itu. Daddy juga kecewa kalian tak mau terbuka dengan Daddy. Kalian lebih memilih Mommy dari pada Daddy,” Syahrul bersyukur, anak-anak memiliki sosok yang bisa memberi mereka ketentraman. Walau masih sangat muda, tapi Laura memang mempunyai sifat keibuan.
“Sorry Dadd, kami hanya berpikir Daddy akan kembali bersama dia,” Nazwa membalas ungkapan kekecewaan ayahnya dengan pernyataan maaf. Tentang niat Nazwa bila bertemu dengan Ida, Syahrul pikir itu biarkan saja. Karena dia tahu Ida tak mempan bila tak dipermalukan seperti itu.
***
‘Anak-anak sudah cerita. Semua beres,’ Syahrul segera mengirim chat pada Laura. Perempuan itu tahu dia dan anak-anak akan membicarakan persoalan Ida siang ini.
‘Alhamdulillah,’ hanya jawaban pendek seperti itu yang Syahrul terima.
‘Kamu enggak penasaran cerita lengkapnya?’ pancing Syahrul.
‘Enggak! Aku nunggu Abang dan anak-anak cerita aja. Enggak pengen tahu juga kalau enggak pada mau cerita,’ balasan itu di baca Syahrul tapi tak langsung dia balas karena sudah masuk ke mobilnya untuk pulang ke rumah bersama kedua buah hatinya.
***
August sudah tahu, jadwal Laura tak ada di panti asuhan sudah berubah menjadi hari Selasa dan Jumat. Dulu hari Senin dan Kamis. Tapi diubah karena setiap hari Senin dan Kamis Laura menemani sang Bibi untuk terapi kakinya. Dan August pun memang ke panti bukan untuk bertemu Laura walau kadang ingin memandang wajah teduh gadis itu. Hari ini August harus mengantar sang oma ke rumah teman lamanya yang sedang sakit. Stelle sang oma yang asli Jerman sejak tadi sudah rewel minta diantar ke rumah opa Greg yang asli Belanda. Mereka sahabat sejak SMA di Jerman. Padahal niatnya pagi tadi August ingin ke panti asuhan KEPAK KASIH BUNDA . Dia ingin bicara dengan Wulan dan ingin membantu gadis itu.
“Ini, bawakan ya Gust,” Oma menunjuk puding buah dan klappertart di meja makan. Tentu saja semua bikinan sendiri. Dan tak lupa Oma memberi rhum sebagai bumbu di fla puding. Juga di klappertart kesukaan opa Greg atau Gregorius Hopmans itu.
“Ok Oma, kita berangkat sekarang?” tanya August lembut.
“Ayok,” balas sang Oma dengan semangat.
Mobil August memasuki halaman rumah opa Greg. “Sepertinya ada tamu juga Oma,” August memberitahu sang oma karena di sebelah mobilnya sudah ada sebuah mobil yang lebih dulu parkir.
“Namanya orang sakit, ya pantaslah banyak yang nengok. Semoga aja enggak di rawat di rumah sakit. Karena jam besuknya diatur. Oma bingung kalau harus menyesuaikan waktu dengan jadwal rumah sakit,” jawab sang oma sambil turun. Dan August yang bagian membawa puding serta bawaan oma lainnya. Karena ternyata oma tidak hanya membawakan untuk opa Greg, melainkan juga untuk putrinya yang dia anggap sebagi keponakannya.
“Hallo tante Stelle, sehat kah?” tanya perempuan cantik yang menyambut mereka di pintu teras. Nyonya rumah itu menyalami tamunya dan mencium oma dengan hangat.
“Danke Steff, tante sehat,” balas oma sambil memeluk CLAUDIA STEFFANY HOPMANS yang lebih senang dia panggil dengan Steff. Padahal mayoritas yang mengenalnya akan memanggilnya Claudia. Claudia adalah anak tunggal opa Greg.
“Terima kasih lho Gust. Kamu enggak terbang?” tanya nyonya rumah. August sudah beberapa kali mengantar tante Stelle sehingga Claudia sudah mengenal cucu dari teman ayahnya itu.
“Semalam baru turun tante. Terbang lagi lusa,” jawab August sopan.
“Duduk dulu Gust, biar tante antar Oma ke kamar Opa ya,” bu Claudia mempersilakan August duduk.
“Kak, antar minum ke depan ya,” pinta bu Claudia pada putri sulungnya yang bertemu di dekat meja makan saat dia baru saja mengantar tamunya untuk ngobrol dengan ayahnya. Bu Claudia menyiapkan 2 gelas sirop dan kue yang anak perempuannya bawa. Tanpa membantah, sang putri membawa nampan yang di siapkan mamanya. Di rumah ini banyak maid, tapi bu Claudia memang tidak memanjakan putrinya. Kalau hanya untuk membuat sirop atau membawakan minum untuk tamu, mengapa harus asisten rumah tangga bila kita mampu? Begitu yang selalu Claudia ajarkan, bahkan pada anak bungsunya yang laki-laki.
“Lho?”
“Hai, koq kamu ada di sini?” tanya August pada gadis yang membawakannya minum.
“Ini rumah orang tuaku,” jawab Laura. Dia datang tadi pagi karena sejak semalam opanya bilang kangen padanya.
“Jadi kamu cucu opa Greg?” tanya August.
“Iya … silakan diminum Mas,” Laura mempersilakan August minum dan dia mulai menyebut August dengan panggilan MAS. Mereka akhirnya mengobrol santai.
“Lho,kalian sudah saling kenal?” tanya bu Claudia yang sengaja keluar, karena dia kira August duduk sendirian. Dia tahu Laura paling malas menemani tamu lelaki yang dia tak kenal.
“Mas August dan clubnya pernah datang memberi santunan pada panti asuhan Kepak Kasih Bunda Ma,” jawab Laura.
“Oh gitu,” balas bu Claudia.
“Kapan rencananya balik ke Cimahi?” tanya August.
“Mungkin besok atau lusa, tergantung izin Opa,” jawab Laura.
‘Artinya kemungkinan besar besok dia belum ada di panti. Aku ingin ngobrol dengan Wulan,’ pikir August. August masih penasaran tentang latar belakang kehidupan Wulan. Kalau memang gadis itu butuh bantuan, dia akan membantu semampunya.
“Saya pamit ke dalam dulu ya, ingin menyiapkan makan siang dan obat Opa. Tadi opa berpesan mau makan bila saya suapi,” Laura pamit pada August. Dia ingat janjinya pada opa saat dia tiba pagi tadi.
“Eh iya, tadi mama ke sini mau ingetin kamu kalau opa sudah waktunya makan siang,” bu Claudia malah lupa apa yang hendak dia kerjakan.
“Ada oma Stelle, opa enggak bakal ngerasa lapar. Kalau mereka sudah asyik ngobrol, dunia terlupa Ma,” Laura menghibur mamanya yang lupa mengingatkan dirinya untuk menyiapkan makan siang opa.
“Hahahaahaha, bener banget tuh. Minggu lalu oma sakit karena habis ngumpul dengan teman-temannya sehingga lupa makan,” August mengingat minggu lalu omanya sakit sehabis reunian dengan teman-temannya.
Laura bergegas masuk untuk menyiapkan makan siang opa. Tadi dia sudah membuatkan bubur sayuran untuk sang opa. Tentu saja dengan lauk fillet ikan yang dibumbu semur, karena opa suka dengan ikan. Laura juga menyiapkan obat yang harus opa minum siang ini.