TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
SHOW UP PADA LIMA SEKAWAN



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


==================================================================================


Julia terbangun saat merasakan Bastian bergerak. “Mau ke toilet?” tanya Julia lembut.


“Maaf, A’a ngebikin kamu bangun ya? A’a ngerepotin kamu,” Bastian mengangguk sambil meminta maaf. Dia memang ingin buang air kecil.


“Udah, enggak usah ngerasa bersalah begitu,” Julia membawa tiang infus dan menuntun Bastian, dibukakannya pintu toilet. Dia tinggal Bastian di toilet tanpa menutup rapat pintu. Tadi habis maghrib Julia baru sampai ke rumah sakit, dia sengaja datang menjelang malam karena berniat menemani Bastian malam ini. Dia sudah membawa makan malam untuknya dan juga untuk Bastian serta baju ganti.


Sore tadi Bastian berharap kedatangan kekasihnya tapi tak berani menghubungi. Dia ingat saat video call pagi tadi, Julia berkata akan datang sore ini. Dan malamnya Bastian sangat senang mendapat kejutan Julia mengatakan akan menginap menemaninya malam ini. Dan tadi Julia tidur mendekap Bastian. Tempat tidur kecil itu tak terasa sempit bagi orang yang saling mencinta itu.


Julia membantu Bastian untuk naik kembali ke brankar, dia pasang selimutnya kembali. Cairan di botol infus hampir habis, maka Julia menunggu agar sekalian diganti oleh perawat baru dia kembali tidur. “Kamu kenapa enggak bobo lagi? Ini masih tengah malam. Enggak enak ya nemani A’a di sini?” tanya Bastian serba salah.


“Mulai deh … tuh lihat cairan infusmu sebentar lagi harus diganti. Tanggung kalau aku tidur sekarang. Katanya mau berubah enggak selalu buruk sangka?” Julia mengusap lembut wajah Bastian yang makin tirus sejak pertemuan terakhir mereka.


“Maaf,” Bastian mengambil jemari Julia di wajahnya dan mengecupnya dengan lembut.


Julia menarik tangannya. Dia menuju meja makan diruangan itu. Sebenarnya ada bed untuk penunggu. Tapi Julia memang sengaja tidur bersama Bastian. “Mau hot milk choco enggak?” tanya Julia. Dia hendak membuat untuk dirinya.


“Berdua aja boleh?” tanya Bastian. Dia takut tidak habis bila dibikinkan 1 gelas.


“Oke,” Julia mengambil roti isi keju dan menawarkannya pada Bastian. Dia sendiri memakan roti isi daging kesukaannya.


“A’a juga pengen yang isi daging,” rengek Bastian.


“Yaaaaah, tadi aku cuma beli 1 karena isi daging itu riskan basi. Mau isi ayam enggak? Masih 2.  Rencananya buat sarapan besok pagi sebelum sarapan dari rumah sakit datang,” Julia menawarkan roti lain. Sedang roti isi daging sudah dia gigit satu kali.


“Kalau yang kamu makan, kenapa enggak mau berbagi? Penyakitku enggak menular lewat mulut ‘kan?” rajuk Bastian.


Julia menyodorkan roti bekas gigitannya. “Kalau aku takut tertular, tentu aku enggak mau berbagi minum choco denganmu ‘kan. Dan pastinya kita enggak bakal kissing.”


“Kalau gitu A’a minta kiss aja deh,” Bastian malah minta yang lain.


“Ih, malah out of topic,” Julia kembali memakan rotinya. Tengah malam dia kelaperan, maka dia membuka roti isi ayam untuknya dan roti isi daging dia berikan untuk Bastian walau sudah dia gigit 2 kali.


“Pegang sendiri ya rotinya,” pinta Julia. Dia menekan bell untuk memanggil perawat.


“Kenapa Bu?” tanya perawat yang datang menanggapi panggilannya.


“Infusnya habis Sust,” Julia melaporkan kalau cairan infus Bastian sudah harus diganti.


“Baik, saya ambil penggantinya dulu ya Bu,” suster kembali keluar untuk mengambil botol infus.


Setelah infus diganti dan perut juga lumayan kenyang, Julia kembali mengajak Bastian tidur. “Met bobo,” Julia mengecup pipi Bastian dan memeluknya erat dan dia pun mulai memejamkan matanya yang sudah berat. Sebaliknya Bastian malah belum bisa tidur. Dia masih tak percaya Julia semakin memperlihatkan cinta dengan semua perlakuannya. Padahal dulu Julia tak pernah terang-terangan memperlihatkan rasa sayangnya. Jangankan lewat perbuatan nyata seperti sekarang. Lewat kata-kata saja tak mau.


‘Apa karena kami sudah tidak satu kantor?’ Bastian hanya bisa menduga-duga.


***


‘Dia sakit DB, langsung anfal dan harus transfusi,’ jawab Julia.


‘Koq tahu? Bukannya kalian sudah putus?’ tanya Vita. Julia langsung mengganti pembicaraan dengan video call group. Tentu saja Vita dan Fanny langsung gabung, tak lama masuk Nia. Hanya Yuni yang belum masuk. Mungkin dia masih di jalan karena hari masih pagi dan belum masuk jam kantor.


“Halloooooooooo … sudah pada cantik, apa sudah sarapan?” tanya Julia.


“Tentu saja sudah sarapan kami ‘kan sudah di kantor,” jawab Vita cepat.


“Kamu dimana Jul?” tanya Nia.


“Lagi nemani boss kalian,” Julia langsung mengarahkan kamera ke wajah Bastian. Dia juga memperlihatkan botol infus.


“Eh … selamat pagi Pak,” Fanny dan Vita kikuk. Mereka langsung memberi salam pada Bastian yang tersenyum cerah.


“Cepat sehat ya Pak,” Nia langsung mendoakan Bastian agar cepat sembuh.


“Terima kasih. Sepertinya akan cepat pulih karena sudah ada perawat special,” jawab Bastian sambil tersenyum bahagia.


“Kamu pagi-pagi sudah di rumah sakit?” tanya Fanny tanpa sadar.


“Dia menginap disini,” Bastian langsung memproklamirkan bahwa Julia adalah miliknya. Itu sebabnya Julia menemaninya di rumah sakit.


“Serius Jul?” desak Vita. Julia hanya menjawab dengan anggukan sambil tersenyum.


“Sudah dulu ya, aku akan nyuapin sarapan bayi besar dulu,” Julia pamit pada ketiga kawannya. “Jangan lupa salam untuk Yuni.”


“Honey tunggu sebentar,” pinta Bastian.


“Kenapa?” tanya Julia.


“A’a mau pesan dulu untuk teman-temanmu,” pinta Bastian. Julia mengarahkan kembali kamera ke wajah Bastian.


“Saya minta, sakitnya saya jangan sampai diketahui karyawan yang lain ya. Kalau kalian mau datang kesini untuk bertemu Julia silakan, tapi jangan bocor ke karyawan lain,” pesan Bastian. Dia tak ingin istirahatnya terganggu dengan banyaknya kunjungan karyawannya.


“Baik Pak,” Fanny, Vita dan Nia langsung mengerti keinginan Boss nya. Mereka bisa tahu big boss sakit juga karena bocoran dari calon nyonya besar. Bila tak berteman akrab dengan Julia belum tentu mereka tahu kondisi pemimpin perusahaan tempat mereka bekerja.


Julia menyudahi sambungan video call dengan temannya. Dia mulai menyiapkan sarapan Bastian. “Pagi ini menunya sudah bukan bubur lagi lho. Biasanya ‘kan pagi masih bubur walau siang dan malam sudah nasi.”


“Semoga bisa cepat pulang,” doa Bastian. Julia ingat beberapa hari lalu dia berjanji akan tidur dengan Bastian di rumah. Tapi nyatanya semalam malah dia sudah melakukannya lebih cepat karena kondisi yang membuat pak Adi dan bu Tuti tidak bisa menemani Bastian.


“Sambil makan, kamu telepon mamah dulu. Biar enggak usah buru-buru kesini. Kasian pacar-pacar aku kalau mamahmu kesini,” ungkap Julia.


“Kamu sih mikirinnya pacar-pacarmu aja,” rajuk Bastian tapi sambil mendial nomor sang mamah. Dia membenarkan pemikiran Julia.


“Iya Assalamu’alaykum Dek,” bu Tuti menjawab panggilan video call dari anak bungsunya.


“Topan dan Guntur gimana Mah?” tanya Bastian.


 “Kamu teh’ sudah mandi? Meni seger begituh,” bu Tuti malah tidak menjawab pertanyaan putranya. Dia kaget karena bastian sudah bersih dan rapi. Wajahnya sudah bersih dari bulu halus yang selama ini tumbuh tak terawat. Logat sunda bu Tuti tetap saja kental dan jadi ciri khas miliknya.