
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel iniya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\================================================================================
Usai sudah gegap gempita pertemuan keluarga August dan Wulan. Mereka berpisah diparkiran resto sehabis makan siang kali ini. Wulan sudah masuk dalam group chat keluarga sehingga ada apa pun dia akan ikut terlibat. Group ini baru dibentuk karena ada group keluarga besar yang anggotanya tidak diundang pada acara pernikahan. Tentu bila Wulan dimasukkan ke group keluarga besar itu akan langsung pada bertanya siapa dia dan apa statusnya.
Padahal karena pergantian foto profil August saja sudah banyak yang kasak kusuk tapi tak ada yang berani bertanya langsung pada yang bersangkutan atau Nenden dan Prabu.
“Jaga kesehatan ya? Oma ingin bayi kalian lahir sehat,” Oma memberi nasihat sebelum dia masuk mobil.
“Iya Oma terima kasih. Oma juga jaga kesehatan ya,” balas Wulan. Dengan jelas Wulan mendengar oma menyebut ‘bayi kalian’ untuk anak dalam perutnya. Bukan disebut sebagai bayimu. Itu sudah sebuah pengakuan besar untuknya.
“Jangan ragu cerita apa pun ke Mami,” itu permintaan Nenden pada Wulan.
“Iya Mi. Wulan akan ingat itu,” Wulan pun memeluk hangat mertuanya.
***
“Mas, mampir ke toko alat rumah tangga yang dari plastik bisa enggak?” tanya Wulan saat mereka baru mau meninggalkan area parkir resto.
“Boleh aja,” August tahu banyak perabot dapur yang masih kurang. Kemarin mereka hanya membeli alat primer saja. Tak ada baskom, saringan atau yang lainnya.
“Buat makan malam kamu mau makan diluar atau beli?” tanya August. Dia berpikir akan berhenti dimana bila istrinya ingin makan diluar rumah.
“Mas, nasi kemarin dan lauk masih banyaaaaaaak banget. Aku mau itu berkurang separonya dulu baru kita mulai masak ya. Aku enggak mau makanan itu terbuang. Tapi aku janji, Mas enggak akan bosan dengan makanan itu. Karena akan aku modiv biar berubah jenis,” Wulan pernah merasakan hidup sangat susah. Dia tak tega membuang makanan yang ada.
“Jadi habis dari toko alat dapur kita langsung pulang?” tanya August memastikan. Dia takut istrinya masih punya tujuan lain.
“Iya. Aku mau pulang aja dan istirahat. Besok Rabu aku kuliah pagi,” balas Wulan. Dia cukup lelah sejak hari Minggu kurang istirahat. Terlebih semalam digempur oleh suaminya.
Wulan langsung masuk ke supermarket alat dapur. Rupanya suaminya bukan berhenti di toko alat dapur tapi ke supermarket alat dapur. Jadilah Wulan bingung karena banyak pilihan. Tapi dia bersyukur jadi bisa menentukan warna dan jenis dengan selaras. Semua alat dapurnya dia pilih sesuai warna kesukaannya. Hijau.
August hanya mendorong trolly tanpa banyak komentar karena dia tak paham aneka kebutuhan itu. “Kenapa beli asbak?” tanya August. Dia bukan perokok.
“Ya buat taruh di meja aja ‘kan Mas. Persiapan kalau ada tamu,” jawab Wulan tak merasa bersalah.
“Itu artinya kita membolehkan tamu merokok dirumah kita Babe, Mas enggak suka. Terlebih nanti ada Dede,” August keberataan dengan asbak yang harganya sangat murah untuk ukuran dia.
“Enggak apa-apa ya kita enggak punya asbak?” tanya Wulan hati-hati.
“Itu istana kita. Kita yang nentuin sendiri. Kenapa harus peduli dengan omongan orang lain?” tanya August.
“Yes, you right Sir,” Wulan tersenyum manis dan mengembalikan asbak ketempatnya semula. Dia sangat suka dengan pemikiran August. Bukan hal aneh bila kita tak punya asbak dalam rumah kita.
“Serius ini cukup?” tanya August saat Wulan mengajaknya ke kasir.
“Sementara cukup. Nanti dirumah akan aku buat list apalagi yang diperlukan,” sahut Wulan. Perempuan itu sedang bahagia karena akan mengatur rumahnya sendiri sesuai dengan konsep yang dia mau.
“Mas, dirumah cemilan masih ada enggak?” tanya Wulan. Biasanya kalau belajar Wulan sambil ngemil. Bukan karena sedang hamil. Itu kebiasaannya sejak dia SMP.
“Ada beberapa. Kalau untuk malam ini cukup. Nanti kamu lihat dirumah ya. Kalau kurang Mas beli lagi.” jawab August.
“Ngomong-ngomong cemilan, kita belum punya toples buat cemilan. Nanti dirumah akan aku masukin list toples buat belanja berikutnya,” Wulan ingat belum beli toples.
“Kenapa enggak ambil sekarang? Ini kan masih antri?” balas August.
“Cape Mas, besok aja. Kalau Mas yang ambil nanti enggak sesuai dengan keinginanku,” jawab Wulan santai.
“Iya deh, Mas nurut aja ama nyonya besar,” jawab August.
“Kamu bisa naik motor?” tanya August saat mereka sedang menuju rumah.
“Bisa sih, belajar saat kerja di supermarket. Tapi kan enggak punya SIM,” balas Wulan.
“Mas enggak mau beli motor buat kamu kuliah. Maksud Mas kalau mau ke pasar atau mini market dekat rumah aja. Jalan terlalu jauh. Naik mobil ribet. Jadi Mas mau pakai motor aja,” August memberitahu alasannya ingin membeli motor.
“Ih, kirain mau buat aku kuliah,” Wulan keqi karena salah menduga.
“Enggak. Kamu enggak boleh kuliah naik motor sendiri. Kamu kuliah naik taxi online aja. Jangan naik angkot apalagi motor online. Mas enggak mau Dede kenapa-kenapa,” August mulai menancapkan taringnya.
“Mas, jangan penjarain aku ya?” pinta Wulan memelas.
“Sweety, Mas lakuin semua karena Mas sayang kalian berdua. Bukan buat penjarain,” August langsung mengambil jemari kanan Wulan dan mengecupnya lembut.
“Please ngertiin Mas ya,” pintanya lirih. August sadar, dia memang super posesive. Terlebih sekarang dia sadar mereka akan punya bayi. Dia ingin segera mengetahui apa jenis kelamin anak mereka agar bisa mengatur kamar bayinya.
***
Julia senang membaca chat yang August kirim. Tapi dia tak membalasnya. Dia tak ingin ada kesalah pahaman lagi. Dia tak ingin istri August salah paham. Dia juga tak ingin Bastian salah paham.
Walau bagaimana pun dia juga tak ingin pertunangannya kali ini kembali gagal. Dia percaya 1000% kalau Bastian tak selingkuh. Tapi dia juga butuh bukti dan usaha keras Bastian membersihkan namanya. Sudah dua minggu dia ‘menghilang’.
“Bagimana De? Serius belum ada khabar tentang Yaya?” tanya bu Tuti atau nama lengkapnya Kusumastuti, -amah Bastian-.
“Mamah, kalau Ade udah dapet khabar tentang Aya, enggak bakal kayak gini. Ade udah cari ke mang engkus, ke Bogor tetep aja enggak ketemu. Bahkan kang Dade sumpah-sumpah Aya enggak balik ke Singapore. Kang Dade kasih lihat orderan Aya buat dikirim ke sini. Artinya dia ada disini. Cuma ngumpet dimana, Ade belum tahu,” sahut Bastian yang baru saja pulang kerja. Dia sangat cape. Kerja sendirian tanpa sekretaris. Ditambah kehilangan tunangannya.
Andai Bastian tahu Julia sangat dekat dengan dirinya. Dia pasti akan marah pada Apa’ dan Amahnya.
Memang dimanakah Julia?