TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
MENGAPA DEDE ILHAM TIDAK DISUAPI NASI?



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


================================================================================== 


“Kamu tentukan fakultas yang mana yang ingin kamu ambil. Kalau kamu bingung, kembalikan pada Allah. Saya tahu kamu berat di satu titik, tapi lebih baik bertanya pada Allah yang mana yang terbaik untukmu dan bisa kamu selesaikan lebih mudah dari pada yang lain,” Wulan terharu mendengar nasihat bijak dari Laura yang dia anggap sebagai pengganti ibunya walau usia Laura lebih pantas sebagai kakaknya. Memang Wulan lebih berat melanjutkan di kebidanan. Dia merasa jiwanya terpanggil kesana. Tapi dia akan menjalankan nasihat Laura. Lebih baik dia bertanya mana yang lebih baik untuknya kepada Allah sang penentu hidupnya.


“Baik Bu, terima kasih atas bantuannya. Saya mohon pamit,” Wulan pamit keluar dari ruangan itu. Saat hampir membuka handle pintu dia mendengar Laura memanggilnya.


“Wulan, ini kamu bawa untuk daftar ulang bila ijasahmu sudah keluar,” Laura memberikan dua amplop tadi pada Wulan.


“Oh iya,” jawab Wulan. Saking bahagianya dia jadi lupa akan dua amplop itu.


Nengsih melihat saat Wulan baru keluar dari ruangan Laura dengan membawa 2 amplop dan wajah berseri. “Ada berita bahagia?” tanyanya penasaran.


“Iya Teh. Alhamdulillah aku dapat beasiswa di 2 kampus,” Jawab Wulan memberikaan amplop yang dia pegang pada Nengsih.


“Alhamdulillaaaaah. Semangat Neng. Nanti malam kita rayakan bersama semua penghuni ya?” Nengsih sebagai senior Wulan senang akan khabar bahagia ini. Memang semua pegawai di panti merasa mereka semua keluarga. Tak pernah ada rasa saling iri. Mereka malah selalu memupuk rasa sayang walau berlatar belakang berbeda. Bahkan yang masuk belakangan dan sudah berumah tangga tetap merasa dalam dekap hangat persaudaraan.


“Jangan Teh. Nanti merepotkan. Dan uang saya akan saya pergunakan untuk tabungan bersalin dan uang kuliah. Karena beasiswa ‘kan hanya untuk SPP saja. Hariannya tentu saya harus keluar uang lagi,” jawab Wulan. Dia memang cermat mengatur keuangannya.


“Merayakan sesuatu itu tidak selalu dengan uang Lan. Kita berdoa bersama saat makan malam nanti. Tak perlu ada tambahan biaya. Doa adalah bentuk syukur terbaik untuk merayakan sesuatu,” jawab Nengsih bijaksana. Semua di panti sering halu, andai mereka punya adik setegar dan sekuat Wulan. Di panti walau pegawai yunior, Wulan adalah panutan dalam menyikapi hidup. Wulan panutan terhadap kegigihan memperjuangkan cita-cita. Semua hambatan diterjang oleh Wulan. Tak punya orang tua, tak ada biaya, bahkan tak ada suami untuk kehamilannya. Semua bukan kendala yang membuat Wulan patah semangat dan ingin mengakhiri hidup. Semua malah merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh perempuan muda itu.


***


Bik Iyah baru saja melaporkan sikap para tetangga terhadap Namira kepada dokter Ilyas. Saat ini Namira sedang mengantar pesanan kue COD dalam jumlah lumayan banyak. Nindi sedang membaca buku cerita di halaman belakang dan ilham sedang tidur di box nya.


“Lalu apa sejak itu mereka masih saja nyinyir Bik?” tanya Ilyas.


“Sejak itu Neng Mira tak pernah mau belanja di warung sekitar sini Den. Dia selalu berupaya tidak ada bumbu yang kosong yang terlupa. Kalau pun butuh sesuatu, walau sedikit dia lebih baik belanja di warung yang jauh dengan motor dari pada belanja sekitar sini,” balas bik Iyah.


“Itu solusi terbaik. Hindari semua orang yang nyinyir. Buat apa kita menghadapi mereka? Tak ada untungnya,” jawab Ilyas. Dia membenarkan apa yang Namira lakukan untuk mengatasi sikap tetangga yang suka usil itu. Tak lama Ilyas mendengar Ilham merengek. “Bik Ilham menangis, Bibik yang ambil dia di kamarnya,” pinta Ilyas.


Bayi gembul itu langsung terdiam saat digendong oleh bik Iyah yang sering membahasakan dirinya dengan sebutan ENIN ( nenek ) pada Ilham dan Nindi. “Cucu Enin langsung tahu ya kalau digendong Enin,” celoteh bik Iyah sambil menggantikan celana Ilham yang basah kena ompol. Bik Iyah sangat bahagia dengan kehadiran Namira karena seperti memiliki anak dan cucu. Sesudah Ilham rapi baru bik Iyah membawa Ilham keluar karena sejak tadi Ilyas sudah menunggu di teras belakang.


Ilyas menarik tangan Ilham dari mulutnya. Karena Ilham memasukkan tangannya yang menggenggam, bukan hanya satu atau dua jari.


“Dede lapar Paman? Mengapa dia tidak disuapi nasi saja?” tanya Nindi penasaran.


“Mungkin dia lapar, tapi bisa jadi dia hanya ingin ngemut jari saja,” jawab Ilyas. “Dede belum boleh makan. Kalau pun nanti makan, harus berupa bubur saring. Belum bisa nasi seperti teteh Nindi.”


“Kenapa?” tanya Nindi makin ingin tahu.


“Dede belum punya gigi untuk mengunyah,” Ilyas berupaya menjawab dengan kata-kata sederhana.


Nindi cukup puas dengan jawaban Ilyas dan dia kembali serius dengan buku ceritanya.


Namira pulang dengan banyak membawa belanjaan. Mika untuk packing serta bahan baku risol dan donatnya. Dia tak ingin kerepotan kekurangan bahan bila ada pesanan dadakan dalam jumlah banyak seperti barusan. Ilyas yang melihat perkembangan usaha Namira semakin maju ingin mensupportnya. Dia melihat Namira segera mencuci tangannya. “Kamu bereskan saja semua belanjaanmu. Kalau perlu, kamu bersihkan yang harus di bersihkan. Tak perlu cepat-cepat mengambil Ilham. Dia tidak menangis dan tak merepotkanku,” tukas Ilyas yang menduga Namira pasti tak enak karena Ilham berada dalam gendongannya. Namira yang diperingatkan Ilyas seperti itu hanya mengangguk dan membereskan barang belanjaannya. Tadi memang dia ingin mengambil Ilham dari gendongan Ilyas karena merasa tak enak bila merepotkan tuannya itu.


Bayi seumur Ilham memang belum banyak aktivitas selain tidur dan menyusu. Tadi Ilham bangun karena dia risih celananya basah akibat ompolnya. Karena masih kenyang dan berada dalam dekap hangat Ilyas, Ilham kembali tertidur. Ilyas meletakkannya di sofa panjang dan dia duduk di sampingnya. Di bukanya tab di tangannya dan dia segera mencari freezzer kecil. Dia pikir Namira butuh space untuk menyimpan beberapa bahan baku kuenya juga menyimpan risol yang siap jual karena risol yang dia jual adalah frozen. Sedang untuk sayuran masih muat di kulkas jumbo miliknya yang sudah ada sekarang. Ilyas hanya melihat-lihat bukan ingin membeli secara online. Untuk barang elektronik dia berpikir tak bisa sembarangan membeli hanya dengan melihat gambar saja. Dia hanya mempelajari speck saja. Selebihnya besok akan langsung dia eksekusi saat di toko elecktronik tempat biasa dia membeli.


***


“Alhamdulillaaaaaaah,” ucap syukur dari mulut bu Achdiyat dan suaminya saat mendapat kepastian kedua cucunya boleh pulang hari ini. Mereka pun bersiap. Bu Achdiyat membereskan barang-barang milik mereka sedang pak Achdiyat membereskan administrasi uang rawat serta resep berikut juga obat yang masih ada.


Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik yangktie ini yaaaaaa, sudah TAMAT lho. Jadi enggak perlu nunggu update bab


*judul ceritaCINTA KECILNYA MAZ  pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya *


Cerita ringkasnya seperti ini : 


Anto dan Dini saling mencinta dalam diam sejak kelas 1 SMP, sayang cinta mereka terbentur kendala Dini harus menikah akibat hamil diperkosa


Anto yang frustasi menikah dengan Shinta, namun tanpa dia ketahui Shinta sedang hamil entah oleh siapa


Anto dan Dini bertemu kembali saat masing-masing sudah sendiri, namun Dini sudah tak ingin terikat dalam ikatan pernikahan


Akankah cinta suci mereka dapat bersatu?