TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
DIA SOSOK YANG ENAK DIAJAK NGOBROL!



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=====================================


Siang tadi Ilyas sampai di rumahnya. “Bi Iyah, ini yang saya bilang kemarin. Tolong antar ke kamarnya ya.” rumah ilyas sebenarnya type kecil tapi dia ambil di hoek. Rumah ini dibeli saat baru lulus jadi dokter. Rumah minimalis di perumahan ini walau type 36 tapi cukup mahal dan luas tanah aslinya cukup luas tidak seperti rumah BTN. Terlebih rumah Ilyas di hoek. Dan seiring berjalannya waktu, Ilyas juga sudah membangun rumah ini sedikit demi sedikit sehingga rumah yang awalnya hanya memiliki 2 kamar ukuran standart, sekarang sudah menjadi 4 kamar dengan 1 kamar barunya berukuran besar. Dapur juga sudah diubah menjadi agak besar dengan dilengkapi peralatan yang modern.


Namira diberi kamar yang agak luas, kamar baru yang ilyas buat sebagai tambahan, bukan kamar standart yang dari perumahan. Itu karena mereka tidur ber 3. Jadi di kamar itu ilyas meletakkan 1 buah ranjang berukuran 160cm dan 1 bed single ukuran 120cm  untuk Nindy serta 1 baby box untuk Ilham. 2 kamar susulan yang bukan dari perumahan tentu saja ada kamar mandi di dalam. Walau di kamar yang ditempati Namira, kamar mandinya tak ada bathtub.


“Nindi, ayo kamu cuci tangan, lalu kita makan siang ya?” ilyas mengajak Nindi yang terlihat lelah dengan perjalanan jauh yang pertama dilakukan gadis kecil ini.


“Hari ini kalian istirahat ya, besok kita mendaftar sekolah Nindi. Sekolahnya tidak jauh dari perumahan. Kamu bisa gunakan motor yang ada untuk mengantar dan menjemput Nindi bila dia mulai sekolah. Ilham tidak perlu kamu bawa ketika mengantar dan menjemput. Tinggalkan ilham dengan bik Iyah di rumah!” tegas dan jelas Ilyas memberitahu Namira tentang yang harus dia kerjakan. Ilyas tak ingin Ilham terlalu kelelahan dan kepanasan bila selalu dibawa setiap kegiatan Namira.


“Iya Pak,” hanya itu kata-kata yang Namira keluarkan. Dia tak berani membantah kata-kata dewa penolongnya. Dia tak berharap apa pun lagi. Yang penting sekarang dia dan anak-anaknya tak perlu bingung membayar kamar serta mencari uang untuk makan. Tak pernah dia bayangkan Nindi akan kembali sekolah. Namira berharap Nindi bisa mengejar ketinggalannya selama 3 bulan tidak sekolah.


“Paman, apa itu benar kamarku?” tanya Nindi. Gadis kecil itu tak percaya dia memilik bed sendiri dengan sprey bergambar princess Elsa. Kasurnya pun empuk. Bukan sekedar kasur lantai tipis seperti yang selama ini mereka pakai di kamar mereka di Bogor. Itu pun selembar kasur untuk bertiga dengan ilham dan sang bibi.


“Ya, itu kamar Nindi dan Ilham. Ilham juga punya kasur sendiri ‘kan?” Ilyas membalas pertanyaan Nindi dengan senyum tipisnya. ‘Suatu saat kamu akan aku bawa ke panti untuk melihat banyak bayi yang ‘terbuang’. Kamu masih lebih beruntung karena tantemu masih mengurusmu walau dengan keterbatasan dana.’    


***


Hari ini Ilyas mengantar Namira mendaftarkan Nindi sekolah. Dalam data siswa, tercatat nama dokter Ilyas Pratama sebagai penanggung jawab Nindiya Bestari. “Besok pagi, Kakak Nindi mulai sekolah di sini ya. Harus pinter, enggak boleh rewel,” Ilyas memberi semangat pada Nindi.


“Sekarang kita beli buku dan tas sekolah Kakak ya,” Ilyas menggandeng gadis kecil itu, sementara Namira mengikuti dari belakang.


“Mau yang ini atau ini?” tanya Ilyas sambil memberi pilihan 2 tas di tangan kiri dan kanannya.


“Yang ini,” Nindi memilih tas dengan warna kuning. Bukan yang pink. Ilyas mengira Nindi akan memilih warna pink.


“Oke, sekarang kita ambil buku tulis, pensil dan penghapusnya,” tak tanggung-tanggung Ilyas membeli 2 pak buku tulis. Karena dia tidak tahu kebutuhan gadis kecilnya. Sedang untuk buku cetaknya tadi dia sudah mencatat di sekolah dan sekarang Namira yang sedang mencari buku-buku yang dibutuhkan Nindi.


Di toko buku itu juga tersedia sepatu sekolah dan seragam sekolah. Sehingga Ilyas sekalian membeli semua keperluan Nindi. Dia membeli 2 pasang sepatu sekolah dan 5 pasang kaos kaki. Sedang untuk baju, ilyas membeli  4 pasang seragam merah putih dan 1 pasang seragam pramuka untuk Nindi. Namira tak berani protes, karena dilihatnya tuannya sangat senang memanjakan keponakannya itu. Tadi Nindi sudah mendapat seragam olah raga dan seragam batik saat Ilyas melunasi semua uang pendaftaran.


“Sekarang kita makan dulu ya,”  Ilyas merasa lapar ketika selesai berbelanja semua kebutuhan Nindi.  ‘Aku belum membelikan baju untuk Nindi pakai di rumah. Aku ukur dengan tanganku saja baju seragam yang saat beli tadi dia coba, sehingga besok saat aku sendirian aku leluasa belanja baju Nindi. Nindi juga belum punya sepatu dan sandal. Aku juga harus beli banyak pakaian ilham. Sekarang tak enak belanja itu semua  karena membawa Ilham.’


Mereka langsung pulang. Sore ilyas ke tempat prakteknya. Pagi tadi dia izin di rumah sakit. “Paman berangkat kerja dulu ya, Nindi jangan lupa menyiapkan buku untuk sekolah besok,” Ilyas memberi tangannya untuk pamit pada Nindi. Gadis kecil yang baru bangun tidur itu mencium tangan ilyas. Ilyas jarang bicara dengan Namira.


Dasar Ilyas, sepulang praktik dia bukan langsung pulang, malah ke mall untuk membelikan baju-baju rumah untuk Nindi dan Ilham. Untuk ilham dia juga membelikan aneka kebutuhan bayi seperti shampoo, sabun, baby colongne, minyak telon dan banyak lagi. Ilyas seperti anak kecil yang punya mainan baru. Sehingga pikirannya hanya fokus pada mainannya itu. Dan untuk ilyas saat ini, Nindi dan Ilham adalah mainan barunya.


***


August kembali ke rutinitas hariannya. Dan sampai saat ini dia masih tetap tak ingin kembali terlibat dengan asmara. Dia ingin kedepannya langsung mendapat perempuan yang mau mengerti kebobrokannya. Dia tak ingin kembali terluka, karena berpisah dengan Julia adalah satu-satunya kegagalan yang dia rasa sangat menyakitkan. Kegagalan karena kesalahannya. Karena kebodohannya. Jadi ketika banyak pramugari bahkan tenaga administrasi yang mengejarnya, dia tetap tak minat. Bahkan untuk ONS ( one night stand ) pun dia sudah tak mau lagi. Dia ingin merubah kehidupannya menjadi lebih baik. Kemarin sehabis menerima transferan gajinya dia langsung mengirim 2,5% penghasilannya ke rekening yayasan panti asuhan. Dia merasa malu pada Laura yang menjadi penopang utama roda kehidupan panti asuhan.


Ingat Laura, August jadi ingat keakraban mereka bertukar cerita di Dago. ‘Ternyata dia gadis yang enak diajak tukar cerita,’ pikir August. Hanya sampai situ. Dia belum berminat mencari perempuan untuk diajak menjalin hubungan lagi.