TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KITA NIKAH BUKAN BUAT MAIN-MAIN



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\================================================================


“Bund, koq dari tadi diem sih?” Ilyas memeluk tubuh Namira dari belang saat perempuan itu sedang menumis ayam dengan bumbu untuk dia buat ragout guna mengisi risol dagangannya. Sementara Ilham sedang dipegang bik Iyah dikarpet depan televisi.


“Kalau enggak mau kesakitan karena dicubit, jangan nyubit orang lain,” balas Namira lirih. Dia tak ingin Nindi dan bik Iyah mendengar percakapan ini.


“Maksudmu apa?” tanya Ilyas tak paham. Namira mematikan kompor dan berbalik badan.


“Yang marah duluan lalu masuk kamar siapa? Begitu dibalas kenapa komplain?” jawab Namira dengan memandang mata suaminya.


“Ayah kecewa, kamu beli kursi Dede enggak bilang dulu,” Ilyas memberi tahu alasan mengapa dia marah pagi tadi.


“Kursi itu dibeli bersamaan dengan saat kita belanja barang buat perlengkapan makan Dede. Saat itu kan Ayah enggak mau berbagi saran, jadi Bunda emang mutusin beli tanpa minta pendapat Ayah,” sahut Namira.


“Sekarang Bunda tanya, kamu mau bikin kamar Teteh apa sudah diskusi dengan Bunda? Apa minta pendapat Bunda? Enggak ‘kan? Apa Bunda marah?” Namira menyolok mata Ilyas dengan tusukan tajam dari tatap matanya.


Ilyas sadar dia banyak salah hari ini. “Maafin Ayah ya. Ayah sadar dan mengaku salah. Jangan marah lagi ya?” Ilyas langsung memeganga wajah istrinya dan mengecupi pipi, mata serta keningnya. Dia sengaja adu keningnya dengan kening Namira dan memandang mata teduh sang istri.


“Bunda enggak marah. Kita hanya belum terbiasa menjadi pasangan. Jadi kita masih bertindak sendiri-sendiri. Kita harus sabar belajar bertukar pendapat dalam hal apa pun,” jawab Namira bijak. Dia mengecup ujung hidung suaminya.


“Terima kasih telah sabar menerimaku Bun. I love you,” bisik Ilyas sambil memeluk erat tubuh Namira. Perempuan sholeh yang tidak meletup-letup bila marah.


“I love you too Ayah. Kita belajar bareng ya. Ayah juga harus sabar membimbing Bunda,” balas Namira.


“Mau salad sayuran?” tanya Namira pada suaminya yang masih aja menempel erat tak mau jauh dari dirinya.


“Mau, tapi extra keju,” sahut Ilyas. Dia tahu istrinya kalau makan salad, dua piring pun bisa muat diperutnya. Itu sebabnya Namira tak mau membeli salad tapi membuatnya sendiri agar puas.


Sebenarnya Ilyas lebih suka salad buah, tapi Namira lebih suka salad sayuran. Buah lebih suka Namira juice. Sehingga Ilyas pun manut dengan selera sang nyonya.


“Mau makan dimana?” tanya Namira. Ditangannya ada dua mangkok salad sayur. Satu dengan isi normal dan satunya dengan isi jumbo.


Di ruang TV aja biar bareng anak-anak,” jawab Ilyas. Dia sempatkan mencuri mencium pipi istrinya.


Ternyata diruang TV hanya ada Namira yang sedang asik menonton sambil mengemil snack jajanan anak-anak cheetosss kegemarannya.


“Teteh mau salad?” tanya Namira yang sudah duduk dikarpet. Sementara Ilyas duduk dikursi. Punggung Namira diapit kaki Ilyas dan punggungnya bersandar dikursi yang diduduki suaminya.


“Yah, toko yang Ayah kasih, itu letaknya dimana? Dan bentuknya ruko atau satu lantai?” tanya Namira. Dia memang belum melihat surat kepemilikan toko yang Ilyas berikan sebagai mahar kemarin.


“Depan pasar Bund. Itu satu ruang pamer untuk display lalu ada area dapur dan satu kamar berukuran kecil buat istirahat. Ada space buat gudang dan ada kamar mandinya,” jawab Ilyas.


“Kapan Ayah beli? Dan apa alasannya?” Namira ingin tahu alasan suaminya membeli toko itu.


“Waktu itu ada yang datang kesini cari Bunda. Dia bilang Bunda cari toko yang bisa buat tinggal tapi dekat sekolah Nindi. Nah orang itu bilang miliknya mau dia jual, masih baru, hanya enggak dekat sekolah tapi dekat pasar. Besoknya Ayah lihat dan langsung aja Ayah beli. Karena prospeknya bagus. Jualan kue disitu pasti laku dan parkir juga cukup luas,” jawab Ilyas sambil menyuap salad yang banyak parutan kejunya itu.


“Emang kenapa waktu itu Bunda cari toko yang bisa buat tinggal? Jangan bilang Bunda mau tinggalin Ayah,” Ilyas curiga pada istrinya.


Namira menengadahkan wajahnya dan memberi senyum usil. “Waktu itu Bunda bingung saat Ayah nembak Bunda. Bunda mau nolak dan keluar dari rumah ini karena merasa enggak pantas terus disini sedang lamaranmu Bunda tolak,” jawab Namira sambil memperhatikan wajah suaminya.


‘Dia perempuan luar biasa, tak mau berhutang budi dan membalas cinta hanya karena uang,’ batin Ilyas.


“Tapi sekarang enggak akan ninggalin Ayah ‘kan?” tanya Ilyas.


“Kita nikah bukan buat main-main Yah. Enggak boleh diantara kita ada yang niat meninggalkan pasangannya. Semua harus kita bicarakan agar dapat solusi. Kemarin Bunda punya niat itu karena Bunda masih sendiri. Belum punya suami,” balas Namira.


“Kalau Ayah marah, Bunda juga bisa marah. Kalaua da persoalan Ayah diam, Bunda juga bisa diam. Kalau Ayah enggak peduli, Bunda juga bisa enggak peduli. Kita ini setara, enggak ada yang lebih dominan atau lemah. Jadi mulai sekarang kita harus belajar sharing semua persoalan. Karena rumah tangga itu terjadi karena ada dua pihak,” kembali Namira lebih pintar dan lebih dewasa dari Syahrul.


“Iya sayank.” Ilyas mengecup puncak kepala istrinya. Namira menyodorkan gelas berisi air putih.


“Aduuuuh, itu mulut Ayah bersih enggak? Jangan-jangan sebentar lagi kepala Bunda disemutin karena dicium Ayah,” Namira menggoda suaminya.


“Ih, sembarangan aja,” Ilyas menggelitiki pinggang istrinya dengan gemas.


***


Malamnya saat dikamar, Namira mengajak Ilyas pillow talk. Dia tahu suaminya ingin melakukan malam pertama. Tapi dia masih takut. Mereka harus membicarakan hal ini dengan tuntas.


“Yank, aku mau bicara,” Namira mulai membuka percakapan.


“Kenapa? Ayah enggak apa-apa kalau kamu belum bisa Honey. Ayah sabar koq,” Ilyas memeluk lembut tubuh Namira yang mulai kaku karena ketakutan. Trauma dua kali diperkosa meninggalkan kesan sangat menakutkan bagi istrinya.


“Aku siap koq. Tapi mungkin enggak langsung hari ini. Tapi kita coba terus aja. Asal Ayank sabar, aku yakin aku akan merasa nyaman. Tapi sebelum itu kita lakukan, aku boleh jujur enggak?” tanya Namira dengan sedikit takut.


Ilyas mengangkat dagu istrinya agar bisa memandang matanya secara langsung. “Tadi kamu bilang semua hal kita harus diskusikan. Kalau salah satu takut mengatakannya, berarti diskusi enggak bisa kita lakukan kan?”


“Aku minta maaf. Kalau boleh kita tunda momongan sampai Dede agak besar ya? Kasihan Dede kalau Bunda mabok. Dan kasihan calon bayi kalau Bunda enggak siap. Bunda mau hamil lagi kalau Dede udah minimal satu tahun. Boleh?” tanya Namira lirih.


“Honey, aku menikah denganmu bukan cuma ingin dapat anak. Kita sudah punya dua nak. Jadi kalau kamu mau tunda lima tahun pun aku enggak masalah,” jawab Ilyas.