
“Duduk dulu, kita bicara serius,” August meminta Wulan duduk.
“Dengarkan baik-baik. Aku enggak tahu mau mulai dari mana. Tapi aku enggak main-main mau nikahin kamu. Ini bukan karena kasihan. Tapi entah mengapa, Mas yakin kamu jodohku,” August memulai percakapannya.
“Mas bukan lelaki baik-baik. Mas lelaki kotor hingga pernah mendapat sampah karena karma terhadap tunangan Mas yang Mas khianati. Sejak itu Mas enggak mau lagi mendekati perempuan. Awal melihat Laura Mas pernah mau coba dekati dia, tapi hati ini enggak tergerak sama sekali. Malah bayanganmu yang terus lewat,” August menyesap lemon tea pesanannya.
“Nanti Mas akan ceritakan semuanya. Enggak akan ada yang Mas tutupi. Yang perlu kita bahas sekarang adalah keseriusan Mas untuk menjadi ayah dari anak yang ada dirahimmu saat ini,” Wulan melihat mata August dengan tajam. Dia melihat mata yang penuh luka itu berkata jujur.
“Kalau saya menerima, apa keluarga Mas menerima? Lalu bagaimana kuliah saya sedang saya tak mau ikut ke Jakarta. Dan Mas kerja di Jakarta,” Wulan mulai mau diskusi bila memang itu jalan yang Allah berikan untuknya. Dia tak menutup mata, anaknya butuh status. Dan jarang ada orang tua yang mengizinkan putra menikahi seorang perempuan yang punya anak sedang belum pernah menikah seperti dirinya.
“Soal kuliahmu, teruskan saja. Mas juga tak akan membawamu pindah ke Jakarta. Selama bayi itu belum lahir kamu boleh tetap tinggal dipanti atau kalau mau pindah ke rumah kontrakan juga bisa. Mas enggak akan minta kewajibanmu sebelum kamu ikhlas menerima Mas.” Tiga poin sudah August jawab. Sekarang lelaki itu tinggal menjawab restu orang tuanya.
“Soal restu mami dan papi, Mas yakin mereka enggak akan mempermasalahkan statusmu. Karena Mas pernah lebih kotor. Mendapatkanmu adalah keberkahan buat Mas. Tapi bila mami dan papi tidak merestui, Mas tetap akan menikahimu,” August memberi kepastian pada Wulan.
Mereka terus diskusi sambil makan. Dan mereka memutuskan akan mengontrak rumah dekat kampus setelah mereka resmi menikah.
Tak sampai situ gerakan yang dilakukan August siang tadi. Dia langsung bicara empat mata dengan Laura tentang niatnya menikahi Wulan. Dan Laura sangat mendukung niat baik August.
“Dia belum sepenuhnya menerima Mas,” jawab August ketika Laura bertanya apakah Wulan mau diperistri lelaki itu.
“Mas masih ketar ketir karena Wulan bilang enggak akan nerima aku, kalau aku enggak dapat restu mami dan papi buat nikahin dia. Dia hanya butuh akad nikah tanpa acara apa pun bila sudah ada restu.”
“Tapi dia memikirkan nasib anaknya bila nanti tumbuh besar, semoga saja seiring berjalannya waktu kami bisa saling mencinta,” lanjut August.
“Wulan memang perempuan special. Perempuan lain langsung akan melompat gembira dan menubruk lelaki tampan dan mapan yang melamarnya saat dia hamil tanpa suami. Dia malah harus berpikir panjang. Aku minta Mas enggak sia-siain perempuan seperti itu,” Laura sangat tahu karakter Wulan.
“Itulah satu poin yang aku nilai dari dirinya,” sahut August.
“Eh, besok-besok mungkin aku butuh bantuanmu. Aku ingin akad nikah sederhana saja. Tapi kami tetap punya foto wedding yang indah buat kenangan sekali seumur hidup. Aku ingin kamu buatkan baju pengantin untuk kami,” August langsung memesan baju pengantin untuknya dan Wulan.
“Baik. Untukmu, aku ukur sekarang aja ya Mas. Biar aku enggak perlu nunggu kapan kamu datang kesini lagi. Takutnya kamu datang pas aku sibuk jadi kita enggak ketemu,” dan August pun manut saja diukur badannya oleh Laura. Nanti di resepsi pun dia ingin pernikahannya menggunakan baju pengantin jawa Solo tapi bukan sewa. Dia ingin baju itu dia miliki untuk kenangan hidupnya.
“Sebentar aku angkat telepon,” Laura minta izin menjawab telepon special karena sekarang Syahrul sudah dia beritahu nomor keluarga. Bukan dinomor yang berhubungan dengan panti asuhan ( ingat Laura punya tiga nomor ponsel ya ).
“Iya, Wa’alaykum salam Bang,” jawab Laura lembut menerima panggilan kekasihnya itu.
“Kalau bisa sore enggak apa-apa. Mama dan papa pasti lebih senang kalau bertemu cucu-cucunya lebih lama,” sahut Laura kalem. Rupanya Syahrul minta izin datang lebih cepat karena Nazwa kangen mommynya.
“Aku masih di panti. Lagi ukur badan mas August. Dia pesan baju pengantin,” sahut Laura.
“Sudah ya, nanti aja ceritanya. Abang kan mau cepet kesini.”
“Apa mama dan papamu lagi ada disini?” tanya August. Mendengar pembicaraan yang barusan dia yakin yang menghubungi Laura adalah Syahrul.
“Iya mereka tadi mendampingi saat sidang,” jawab Laura kembali mengukur badan August.
“Dia sudah menyatakan cinta sejak sembilan bulan lalu. Tapi aku belum bisa move on. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini aku mulai membutuhkan kehadirannya disetiap hela napasku. Semoga malam ini mama dan papa tetap menerima dia setelah tahu dia duda dua anak. Kalau sosoknya sendiri, tadi pagi mama dan papa sudah welcome dan memberi restu,” sahut Laura.
“Untung aku enggak ngeharapin kamu ya. Kalau iya, aku bisa patah hati,” August terkekeh menggoda Laura dan menerima pukulan dari gadis itu dilengannya.
Flash back off
***
“Dadd, apa aku salah kalau aku menduga Mommy sudah menerima Daddy?” tanya Nazwa di mobil saat mereka menuju rumah sehabis perkenalan dengan pasangan Anjas dan Claudia.
“Enggak salah sayank. Memang Mommy sudah menerima Daddy. Begitu pun oma dan opa,” sahut Syahrul sambil mengusap puncak kepala Nazwa.
“Apa kalian akan segera menikah?” tanya Fahri. Padahal sejak tadi Syahrul dan Nazwa mengira lelaki kecil itu sudah tidur.
“Kami belum membicarakan hal itu. Daddy tidak mau mendesak Mommy. Menunggu dia membuka pintu hatinya saja sangat lama. Kalau sekarang dia langsung Daddy haruskan menikah, nanti dia malah kabur dan membatalkannya. Daddy enggak ingin Mommy merasa tertekan. Kalian sabar ya.” Syahrul tahu kedua anaknya ingin segera memproklamirkan diri mempunyai ibu yang resmi.
“Jangan sampai gagal Dadd,” pinta Nazwa.
“Daddy pasti akan berupaya tidak gagal. Daddy sangat mencintainya seperti kalian mencintai dia,” sahut Syahrul meyakinkan kedua anaknya.
“Kalian juga berlaku baik pada oma dan opa besok ya. Jawab semua pertanyaan dengan jujur. Karena Daddy yakin mereka akan bertanya semua hal tentang daddy dan kalian,” Syahrul menasihati putra dan putrinya untuk selalu berlaku jujur.
‘Mom, kami sudah tiba dirumah. Thanks for everything,’ sebuah chat Nazwa kirim ketika dia tiba di rumah.
‘Alhamdulillah kalian sudah sampai. Cuci kaki dan bersih-bersih lalu langsung tidur ya. Kasih tahu Fahri juga. Love U,’ Nazwa tersenyum mendapat balasan dari sang mommy. Dia langsung masuk kamar adiknya menyampaikan apa yang Laura suruh.
“Adeeeeeeeeeeee … kata Mommy jangan langsung bobo. Suruh bersih-bersih dulu,” Nazwa berteriak dari pintu kamar Fahri ketika melihat adiknya langsung naik tempat tidur.
Tanpa membantah Fahri langsung melakukan yang diperintah Laura walau perempuan itu tak melihat dan mengatakannya langsung. The power of love sang mommy.
Syahrul yang baru sampai lantai atas dan melihat kedua hanya tersenyum bahagia.
=========================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta