
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
‘Mas sudah sampai bandara.’
‘Mas matikan ponsel ya, sudah siap terbang ke Jakarta.’
‘Alhamdulillah Mas sudah sampai Jakarta. Mas laporan dulu ya.’
‘Sweety, Ayah berangkat terbang ya, hati-hati di rumah. Jangan nakal. I love you.’
Deretan pesan yang Wulan terima dari nomor ponsel suaminya sejak lelaki itu meninggalkan dirinya di rumah. Tadi sempat mereka bicara saat jam makan siang sebelum August bersiap berangkat. Untungnya suaminya terbang malam sehingga dia tak akan kesepian menunggu 15 jam lagi untuk menerima chat.
Wulan bercengkerama dengan paklek, Riesty dan wak Jum. Masakan wak Jum sesuai dengan lidah Wulan. Dia tak rewel menerima makanan. Memang dia tadi pagi pesan minta sayur lodeh dan goreng ikan bandeng presto serta sambal dan lalap untuk menu makan hari ini. Rupanya wak Jum menambah dengan satu menu yaitu balado terong. Tentu saja Wulan suka.
Paklek dan wak Jum benar-benar menjaga agar Wulan tak banyak bergerak sesuai anjuran dokter agar kandungannya kuat.
“Jangan tidur malam Non. Ayok saya temani masuk ke kamar,” wak Jum menyarankan agar Wulan tidur cepat.
“Iya Wak. Besok sarapannya bikin bubur ketan hitam ya Wak. Enggak usah pakai bubur kacang hijau. Santannya kental dan beri garam.” pinta Wulan.
“Untuk Riesty bawakan bekal nasi dan lauk Wak. Kasih sayur yang tidak berkuah agar tidak tumpah. Atau nasi goreng sosis dengan bakso lalu beri tambahan nugget untuk lauknya,” lagi Wulan berpesan agar adik sepupunya tak kelaparan saat disekolah nanti. Dulu dia selalu menyiapkan bekal nasi ketika dia masih tinggal dengan bibinya ( ibunya Riesty ).
“Iya Non. Tadi pagi dia Uwak bawakan nasi uduk dan ayam goreng,” sahut uwak Jum.
“Besok ada teman-teman saya akan datang. Siapkan makan siang seadanya saja. Lalu bikin asinan sayur aja Wak,” Wulan tadi mendapat pesan Kemuning dan Bagus akan datang menengoknya.
“Berapa orang?” tanya uwak. Dia takut masak terlalu banyak lalu tak ada yang makan.
“Tiga sampai lima orang. Tak akan lebih,” sahut Wulan yang sudah selesai memakai diapers seperti anjuran August. Sepanjang hari dia memang menggunakan diapers selama bed rest. Itu berfungsi mengurangi bergerak ke toilet. Karena ibu hamil memang lebih sering buang air kecil. Wulan baru pergi ke toilet bila ingin buang air besar saja.
***
Claudia dan Mieske mengantar Fahri dan Nazwa ke sekolah. Mereka berdua berniat membeli beberapa keperluan untuk esok hari. Gerhard sengaja menemani opa Greg di rumah. Hanya Anjas dan Gerry yang menjemput Syahrul ke rumah sakit. Ini sengaja agar Laura mendapat kejutan. Tentu semua berangkat setelah sarapan.
Wak Ganis jaga gawang di rumahnya, karena dia yang memegang komando.
“Nanti kalian dijemput driver seperti biasa ya, kami akan menyiapkan penyambutan untuk kepulangan daddy kalian,” Claudia memberitahu kedua cucunya.
“Iya Oma. Tapi benarkan yang opa bilang tadi. Kalau besok kami boleh mbolos menemani daddy seharian?” tanya Fahri penasaran.
“Pasti benar sayang, oma dan opa tak akan bohong pada kalian berdua,” jawab Claudia sambil mengusap puncak kepala Fahri.
“Yeeaaay. Terima kasih Oma,” sahut Fahri bahagia.
***
“Assalamu’alaykum,” Anjas dan Gerry mengucap salam ketika mereka masuk ke ruang rawat Syahrul. Mereka melihat Laura dan Syahrul sedang sarapan.
“Wa’alaykum salam Pa,” hampir bersamaan Laura dan Syahrul menjawab. Laura langsung berdiri menghampiri papanya sedang Syahrul hanya menghentikan makan saja. Dia belum bisa bebas lari menghampiri calon mertuanya itu.
“Sehat Kak?” tanya Anjas ketika putrinya memberi salim dan mencium pipinya. Dia peluk kekasih kecilnya itu.
“Alhamdulillah sehat Pa,” sahut Laura. Selanjutnya Laura membalas pelukan adik bungsunya.
“Lanjutkan makanmu,” Anjas menyuruh Syahrul kembali makan setelah dia menerima salim dari calon menantunya itu.
“Papa dan Ade sudah sarapan?” tanya Laura.
“Jam delapan kami terapi dulu Pa. Habis itu boleh pulang bila sudah beres administrasinya,” sahut Laura.
“Ya sudah, Papa tunggu di sofa saja. Kalian makan dengan tenang,” Anjas meninggalkan pasangan yang sedang sarapan itu.
“Nanti sehabis sarapan, aku beberes berdua Gerry ya Bang. Abang duduk berdua papa,” Laura memberitahu dia akan membereskan semua barang dan memasukkan ke dalam mobil lebih dulu.
“Iya,” sahut Syahrul. Sebenarnya dia sedih tak bisa ikut membantu beres-beres dan membawa barang ke mobil.
“Jangan lupa berikan kartu pegawaiku Mom,” Syahrul mengingatkan Laura kalau mengurus administrasi membawa kartu pegawainya. Laura memang mengambil kelas lebih tinggi dari yang seharusnya Syahrul dapatkan. Dia hanya ingin yang terbaik bagi kekasihnya itu. Jadi nanti Laura harus membayar selisih dari biaya gratis yang seharusnya Syahrul dapatkan.
“Bayarnya pakai kartu debet Daddy ya Mom, pin nya tanggal ulang tahunmu,” Syahrul memberitahu Laura.
“Kan waktu itu yang minta naik kelas Mommy. Ya ini tanggung jawab Mommy dong, jangan pakai kartu Daddy,” tolak Laura.
“Please Mom, jangan bantah ya?” pinta Syahrul.
“Oke kapten,” sahut Laura dan dia memberi senyum manis. Dia tak ingin ribut.
Laura menjaga Syahrul yang sedang melangkah dengan kruk ke arah sofa. Dia tak boleh memapah. Hanya boleh menjaga saja. Itu aturan yang Syahrul berikan. Lelaki itu ingin dia cepat pulih sehingga selalu ingin melakukan semua sendiri.
“De, kita beberes dan membawa sedikit demi sedikit barang ke mobil yok,” ajak Laura pada Gerry.
“Oke Kak. Ayok kita kemon,” jawab Gerry penuh canda. Maka kedua kakak beradik itu mulai membenahi barang-barang milik pribadi yang berada dalam ruang rawat itu.
***
Selesai sudah, sekarang saatnya Laura mendorong Syahrul ke ruang terapi. Kalau jarak jauh Laura masih melarang Syahrul jalan kaki. Dia minta menggunakan kursi roda.
Tak ada kesulitan di terapi kali ini. Syahrul semakin lancar bicara dan volume suaranya mulai bertambah keras. Gerak semua anggota tubuh juga makin membaik. Tentu semua selalu Laura dan Syahrul syukuri. Mereka ingat perjuangan Syahrul sejak awal sakit hingga saat ini.
“Kita bertemu lagi minggu depan ya Dok. Sengaja intensitasnya kami beri tiap minggu agar cepat pulih,” petugas terapi memberikan kartunya kembali pada Laura. Disana tertera tanggal wajib kembali datang.
“Baik terima kasih,” sahut Syahrul dan meerka langsung pamit.
“Sudah? Enggak ada yang ketinggalan?” tanya Anjas.
“Cek kamar mandi De,” Laura meminta Gerry mengecek kamar mandi. Sedang dia sendiri mengecek laci-laci di ruangan itu.
“Clean Kak,” sahut Gerry.
“Ayok kita berdoa dulu. Kita ucap syukur karena Abang akan kembali ke rumah. Dan juga kita doakan semoga keluarga kita yang lain tak pernah ada yang sakit lagi,” Anjas mengajak kedua anak dan calon menantunya berdoa bersama sebelum mereka meninggalkan ruang rawat ini.
\==================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta