TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
GUNTUR SETIA PADA TOPAN



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Faiza bergegas meninggalkan cafe tanpa bicara apa pun dan pesanan makanannya tak di sentuhnya sama sekali. Karena pesanan makanannya datang ketika Syahrul sudah mengatakan kebohongan Faiza yang kedua, yaitu soal foto-foto kehamilannya. Syahrul yang merasa lega mengambil alih pesanan itu. Dia memakannya dengan santai sambil menunggu waktu untuk menjemput Fahri. Tadi dia sudah minta agar sopir anak-anak tak perlu menjemput jagoannya karena dia yang akan melakukannya.


“Kamu mau makan dulu, atau langsung ke pantinya Mommy?” tanya Syahrul saat Fahri sudah selesai memasang seat beltnya. Fahri masih belum berubah sikap dari mode gunung es karena Syahrul dan Laura belum sempat cerita masalah Faiza.


“Ke panti,” jawab Fahri singkat dan pendek. Dia berpikir di panti dia bisa minta makan ke Mommynya atau para bunda. Atau dia akan mengajak sang mommy makan siang dengannya. Fahri masaih malas bicara dengan daddy nya yang dia pikir sangat membela perempuan bernama Faiza yang dia dan Nazwa tak suka. Menurut keduanya, bila sang ayah ingin mencari pendamping, hanya Laura lah sosok yang bisa mereka terima.


Sore ini akhirnya drama sakit hati Nazwa dan Fahri tuntas sudah. Mereka sadar semua terjadi karena kurang terbuka pada sang ayah. Dan sang ayah juga salah karena menunda bicara pada anak-anaknya. Ketika mereka bicara bertiga, Laura tak mau ikut serta. Dia memilih kembali ke rumahnya dan sempat tidur karena semalam kurang tidur akibat ngobrol dengan Nazwa.


“Kita makan keluar yok Dadd,” ajak Nazwa.


“Mau ke mana? Ajak Mommy mu,” pinta Syahrul.


“Mommy tadi bilang enggak mau. Kita makan sate kelinci,” Fahri yang mejawab. Karena tadi memang Laura pamit hendak tidur pada Fahri.


***


Julia sedang merapikan bon-bon belanjaannya. Kalau barang sudah rapih semua dalam beberapa koper dan dus. Belanja pertama ini tentu saja over weight, dan itu sudah dia perkirakan. Jadi nanti akan dimasukkan ke harga penjualan juga. “Makan yok,” ajak Dade yang baru tiba di rumah langsung mandi dan sebelum mandi dia memanaskan masakan yang dia beli di micro wave.


“Siap Kang, bentar lagi aku selesai.” Julia memasukkan semua bon ke dalam plastik klip besar berbentuk amplop agar tak tercecer. Saat akan keluar kamar didengarnya ada notifikasi chat masuk.


“Astagfirullaaaaaah …,” Julia berkata pelan sambil menutup mulutnya. Tak percaya melihat foto yang dikirim bu Adi.


‘Doakan Topan. Sekarang dirawat di rumah sakit SEJAHTERA, kamar Melati 004,’ demikian pesan yang menyertai foto itu. Foto Topan yang diinfus di sebuah ruang rawat inap. Selanjutnya pesan berikut masuk. ‘Semoga Guntur tidak ikut di rawat. Karena biasanya mereka selalu kompak!’


Julia bingung mau jawab apa. Tak menjawab juga lebih salah. *‘Semoga Topan cepat pulih dan Guntur tidak ikut di rawat,’ *akhirnya kata-kata itu yang Julia tuliskan. Dia tinggal ponselnya di kamar lalu dia keluar untuk makan malam.


“Besok pesawat jam berapa?” Dade memastikan, dia takut Julia mengganti jadwal kepulangannya.


“Enggak berubah, yang jam 7.55 pagi,” jawab Julia sambil mengaduk-aduk makanannya. Dia sedang bingung memikirkan Topan dan Guntur.


“Ada apa? Mengapa makananmu hanya diaduk-aduk?” Dade merasa ada yang tidak beres dengan adik sepupu terkasihnya ini.


“Enggak ada apa-apa Kang, hanya rasanya baru aja kemaren ketemu, besok aku udah mau pulang ke Jakarta,” Julia mencoba memberi alasan.


“Kalau begitu kamu undur aja jadwal kepulanganmu hingga minggu depan atau bulan depan,” Dade memberi usulan berdasarkan jawaban Julia barusan.


“Yang ada uangku semakin lama enggak muternya. Kalau besok sudah pulang, lusa ‘kan aku bisa langsung promo biar perputaran duitku lancar,” kilah Julia.


“Au ah.”


***


Bastian hanya diam memandangi Topan yang terbaring di brankar rumah sakit. Di ranjang penunggu mamahnya tertidur karena kelelahan. Sementara sang Apa’ dia minta tidur di rumah menemani Guntur. Hasil pemeriksaan darah dari laboratorium baru akan diberitahu besok jam 6 pagi. Bastian mencoba tidur di sofa, namun bayangan Julia masih saja mengganggu*. ‘Kamu sedang apa honey? Apa kamu masih tak bisa memaafkanku?*’ Bastian bertanya pada foto yang berada di ponselnya. Dia memandangi media sosial Julia. Terakhir Julia memposting sebuah foto boneka teddy bear dengan caption “merindumu dengan sangaaat”. Bastian  tidak tahu siapa yang dirindu Julia dengan postingan itu. Dia hanya berpikir, Julia tak mungkin menulis itu untuk lelaki yang sedang bersamanya di Singapore!


Keheningan malam terganggu saat ponsel Bastian bergetar. Sengaja Bastian mengatur tidak ada nada dering karena takut mengganggu Topan dan sang Mamah. “Ya Pa’,” Bastian langsung memindah icon ke tombol hijau saat melihat yang menghubungi adalah ayahnya.


“Kami on the way ke rumah sakit, Guntur panas tinggi dan menggigil,” pak Achdiyat mengabari putranya tentang kondisi Guntur saat ini.


“Aku tunggu di depan, dan kalau Guntur juga harus masuk dirawat, nanti aku minta biar ditambahkan 1 bed untuk Guntur sehingga kita tidak bingung mengawasi mereka,” Bastian langsung bersiap hendak minta pindah ruangan yang bisa 2 bed atau menambah 1 bed untuk Guntur di ruangan Topan.


“Mah,” Bastian berbisik membangunkan sang ibu. Dia ingin pamit mengurus administrasi dan juga meminta mamahnya bersiap mental karena dua cucunya kembali sakit berbarengan.


“Kunaon?” bu Adi masih bingung karena dibangunkan oleh Bastian. Dia bertanya ada apa?


“Apa’ sedang on the way ke sini. Guntur panas dan menggigil. Ade mau urus administrasi,” jawab Bastian lirih.


“Astagfirullaaaah, mereka selalu sakit barengan,” bu Adi sampai tidak percaya kalau si kembar pasti saja sakit berbarengan.


“Ade keluar ya Mah, semoga aja bisa tambah satu bed di ruangan ini, jadi kita enggak perlu beberes buat pindah kamar,” Bastian pamit pada sang ibu. Sejak dulu bila si kembar sakit memang selalu dirawat dalam satu kamar agar mudah pengawasannya.


Sesuai permintaan Bastian, Topan tak perlu pindah ruangan. Pegawai rumah sakit menambahkan satu bed untuk Guntur serta satu bed untuk penunggu.  Selesai mengurus semuanya, Bastian menunggu sang ayah dan Guntur yang masih dalam pemeriksaan dokter di IGD.


“Sudah dapat?” pak Achdiyat bertanya pada Bastian. Mereka sedang menunggu hasil laboratorium Guntur.


“Sudah Pa’, apa Apa’ tanyakan saja pada para suster, apa tidak sebaiknya Guntur langsung di bawa ke ruangan saja biar langsung bisa istirahat?” Bastian menyarankan agar Guntur langsung dibawa ke ruang rawat saja.


“Tunggu sebentar, mungkin nunggu hasil pemeriksaan tentang obat dan infus, baru dibawa ke kamar,” pak Achdiyat masih lebih sabar dari Bastian. Yang penting cucunya sudah ditangani dokter.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa


**judul cerita JERAT ASMARA SANG MAFIA,   penulis  KOMALASARI,   pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya **


Cerita singkatnya seperti ini :


Adriano D'Angelo tak pernah menyangka bahwa Tuhan memberinya kesempatan kedua. Setelah ditembak oleh wanita yang sangat dia cintai kemudian dibuang ke laut, Adriano terdampar dan berhasil diselamatkan oleh seorang gadis bernama Olivia hingga pulih seperti sediakala. Adriano bertekad untuk melanjutkan hidup serta menutup kisah kelam masa lalunya, dengan tak lagi menginjakan kaki di Italia. Akan tetapi, siapa sangka jika dirinya dipertemukan lagi dengan wanita yang telah membuatnya celaka. Dia kembali terjebak dalam pusaran cinta yang ternyata tak mampu untuk disingkirkannya terhadap wanita yang tak lain adalah Florecita Mia.


Akankah Adriano kembali mengejar Mia, atau memilih Olivia yang telah berjasa baginya?