
DARI SEDAYU, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA
“Cukup Bu,” August mersa cukup kenyang. Lalu Wulan memberinya kopi susuu dalam botol yang tidak dingin.
“Besok-besok lagi, jangan jadikan Dede alasan. Bikin kita kesiangan!” Wulan protes pada August.
“He he he. Tapi ‘kan Ibu suka,” goda August.
“Suka kalau satu kali. Bukan seperti semalam yang berkali-kali,” sungut Wulan.
Dan August hanya tertawa melihat sekilas istrinya yang sedang cemberut. Dia acak dengan gemas puncak kepala istrinya.
***
Almi memandangi rumah kedua orang tuannya dari jauh. Rumah yang dia perbaiki dengan uang hasil keringatnya bekerja sebagai tenaga kerja wanita di negeri orang. Ada rasa sesak didadanya. Tak dia sangka, pengorbanannya dibuat keset kaki oleh lelaki yang dia cintai.
Hari ini Almi berkeliling menggunakan motor milik Misah. Tadi pagi dia mengantar Misah ke kelurahan untuk bekerja. Nanti dia akan menjemputnya kembali. Masih menggunakan nikob agar tak ada yang mengenali. Dia baru akan membuka jati dirinya saat akan mengusir Halim dan Anna besok malam.
‘Tak banyak yang berubah. Hanya beberapa pot tanaman saja yang jadi perbedaan. Mungkin Anna suka memelihara bunga,’ Almi membatin. Dia sudah diberitahu Misah dimana toko milik Anna tempat Halim bekerja. Sesudah ini dia akan melihat kesana.
Almi juga sudah mencari tahu siapa yang sekarang menjadi ketua RT diwilayah tempat tinggalnya ini. Sehingga nanti malam dia bisa melaporkan kasusnya. Karena bila siang seperti ini pak RT bekerja. Tak ada dirumah.
Almi bergegas ke toko bangunan. Dia membeli handle pintu baru. Sehingga nanti sehabis pengusiran dia akan meminta kunci rumahnya diganti. Dia tak ingin kecolongan Anna atau Halim masih bisa masuk karena punya kunci duplikat rumah miliknya itu.
Dia juga akan meminta Halim dan Anna memperlihatkan pembayaran air dan listrik terakhir karena dia tak mau membayar apa yang telah mereka gunakan selama ini.
***
Almi membayar tissue basah, gula pasir, mie instan dan aneka snack pada Anna yang tak mengenali dirinya. Belanjaan itu hanya sekedar dia bisa melihat Anna dan Halim dari jarak dekat saja. Tak ada niatan untuk benar-benar belanja.
“Sayank, ambilkan aku minum dong,” rengek Anna sambil menghitung uang kembalian untuk Almi.
“Kamu kebiasaan. Ambil sendiri. Aku tak bisa,” balas Halim sedikit ketus tanpa menoleh pada Anna. Halim duduk memunggungi Almi. Lelaki itu sedang memindahkan data belanjaan ke laptop.
‘Padahal kang Halim tak pernah bicara ketus padaku,’ batin Almi. Dia lalu meninggalkan toko yang sangat lengkap dan banyak pembelinya itu.
“Kamu enggak bisa ya perhatian dikit padaku,” bisik Anna setelah tak ada pembeli yang harus dia layani. Dia mendekat pada Halim untuk mengambil air yang memang berada di meja tempat Halim bekerja.
“Jangan ganggu bila aku sedang bekerja. Atau aku akan pergi main kartu saja,” ancam Halim. Dan semua terdengar jelas oleh Almi yang belum meninggalkan toko milik Anna itu.
***
Almi bergegas meninggalkan toko itu, dia berkeliling mencari wacana hendak membuka usaha apa dan dimana. Dia harus mulai mencari lokasi yang bagus. Tapi dia harus menentukan dulu bisnis apa yang akan di buka.
Almi sudah memutuskan tak mau buka warung makan atau toko kue karena rentan dengan basi. Dia tak mau resiko itu dia tanggung.
Dia ingin buka usaha yang tak perlu mengharuskan dia full terjun dilapangan.
‘Apa aku ikut waralaba aja ya? Lebih aman rasanya walau hanya kios ayam goreng lokal. Setidaknya enggak repot promo dari awal buka usaha,’ pikir Almi.
Begitu terus hingga dia mendapat beberapa kios yang dia rasa cukup baik untuk dia sewa nantinya. Sekarang waktunya dia menuju kelurahan untuk makan siang di kantin dekat kelurahan sambil menunggu Misah pulang.
Saat makan siang, Almi melihat sosok yang dulu pernah menyukai dan dia sukai juga. Sayang lelaki ini terlalu lambat, sehingga Almi memilih Halim yang jelas-jelas menyatakan cinta padanya.
Saat itu Almi hanya berpikir, bila dia menunggu Mifta ternyata Mifta tak menyukainya, kan sama juga bo’ong? Lebih baik dia menerima cinta yang Halim sodorkan.
Tentu saja Mifta tak mengenali Almi yang saat ini masih bersembunyi dibalik baju tertutupnya.
***
“Menurut Papa bagaimana?” tanya Claudia pada suaminya. Walau Laura jauh, tetap saja kedua orang tuanya memikirkan semua hal tentang putrinya itu.
“Ya seperti yang tadi Papa bilang. Sepulang dari rumah sakit, mereka nikah siri dulu saja. Karena baik abang pulang ke rumah teh Ganis, mau pun dia pulang ke rumahnya dan kakak yang rawat disana, kita sebagai orang tua tentu kepikiran bila mereka melakukan hal yang dilarang agama ‘kan?
“Biarlah prosesi lamaran resmi Abang kita hilangkan, karena kondisi seperti ini. Nanti kalau mereka sudah siap, mereka langsung aja nikah secara resmi agama dan negara di Jakarta juga resepsi disini.” sahut Anjas.
“Iya sih. Kalau kita mau keukeuh pakai adat lamaran dulu. Lha sehabis mereka pulang dari rumah sakit bagaimana? Toh Abang dan Kakak sama-sama mantap mereka akan menikah. Enggak baik kita membiarkan kemungkinan buruk terjadi,” sahut Claudia.
“Ade setuju Pa. Biar saja mereka legal secara agama agar kita tidak kena dampak dari perbuatan melanggar norma agama. Karena apa yang kakak lakukan itu akan berimbas ke Papa dan Aku,” Gerry yang baru selesai mandi ikut buka suara. Mereka bersiap hendak makan malam.
“Kamu panggil Opa dulu buat makan,” Anjas memerintah putranya untuk memanggil ayah mertuanya.
Sementara pasangan yang jadi tokoh utama pembicaraan Claudia dan Anjas juga sedang sedikit berdebat. Karena Laura tak mau semua uang yang dia keluarkan untuk membayar sekolah, bayar pegawai serta obat akan dikembalikan oleh Syahrul.
“Baik. Aku berikan nomor rekeningku. Dan sehabis itu kita break,” tanpa kompromi Laura mengirim nomor rekening pribadinya ke nomor ponsel Syahrul. Dia lalu duduk di sofa menjauh dari brankar.
‘Love, kamu tahu aku belum bisa bicara lancar dan keras. Kamu duduk menjauh aku tidak bisa menghampiri. Aku minta maaf. Jangan seperti ini. Kalau kamu tidak juga menghampiriku. Aku akan turun dan mendatangimu disana!’ Syahrul langsung mengirim pesan pada nomor pribadi Laura.
Laura mendengar bunyi notifikasi special untuk Syahrul. Dia tak segera melihat karena berpikir itu adalah notifikasi bukti transfer dari Syahrul.
Cukup lama hening, hanya ada suara berita yang sedang tayang ditelevisi ruang itu. Lalu lamat Laura mendengar ada suara tiang infus bergeser. Secara otomatis Laura langsung berpaling menuju arah suara.
“Abaaaaaaaaaaaaaaaang!” pekik Laura keras.
=======================================================
HAI HAAAAAAAAAAAAAAI
,MAMPIR KE CERITA BARU YANKTIE YANG BERJUDUL I MARRIED MY DAUGHTER YAAAA
PASTINYA HANYA ADA DI NOVELTOON
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta