TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
PENYESALAN HALIM



HALLOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO


JANGAN LUPA VOTE DAN SECAANGKIR KOPINYA DITUNGGU LHO


SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


Halim mengingat lagi perjalanan hidupnya ketika Anna mulai mendekatinya. Awalnya dia sengaja menghindar dengan main judi agar tak dikuntit oleh Anna. Halim teringat kala dia mulai tak mengurus Nindi putri tercinta yang biasa dia mandikan dan dia suapi. Sejak Anna mendekatinya memang semua menjadi kacau bagi dirinya.


Dan Halim pun teringat kebodohannya mengikuti saran Anna untuk menjajal apakah semua rumors itu benar atau tidak, kalau Namira biasa jual diri untuk biaya kuliah. Yang membuatnya terfikir saat ini adalah Namira hamil karena perbuatannya.


Dia baru tahu hal ini. Dia baru tahu kalau dirinya sudah mempunyai seorang anak selain Nindya Bestari Gumilar. Dia baru tahu saat tadi istrinya, eh Almira mantan istrinya mengatakan kalau Namira hamil akibat perbuatannya.


Halim bertekad akan bangkit. Dia akan pergi menjauh dari Anna. Dia akan mengambil barang-barang dan juga motornya di rumah pak RT. Walau malu, tapi dia harus lakukan agar tak terlalu minus. Karena dengan uang yang saat ini dia miliki, sayang bila harus beli baju untuk dirinya.


‘Beruntung selama ini walau sedikit aku menabung dari pendapatanku selama ‘kerja’ pada Anna. Setidaknya aku bisa bayar kontrakan bila untuk sendiri. Tak akan ada pemilik rumah yang menolak bila aku sewa sendirian. Kalau berdua Anna tentu akan ditolak,’ batin August. Dan dia juga tak ingin kembali dengan Anna. Perempuan yang telah merusak keluarganya. Juga membuatnya memiliki anak dari perempuan lain.


‘Nanti agak siang sedikit aku akan mengambil barang-barang dan motorku. Aku harus keluar dari sini dan mencari kerja,’ batin Halim. Dia lalu bersandar ditembok dan walau kedinginan dia berhasil tidur beberapa saat sampai adzan Subuh mengumandang.


***


Siang tadi Almi dan Misah berbaik hati. Mereka memasukkan barang-barang Anna dan Halim dalam kardus terpisah. Dan semua kardus diberi nama barang milik siapa agar bila kedua mahluk luar angkasa itu datang mereka tak mengacak-acak kardus yanga akan membuat keduanya menjadi lama dilingkungan RT mereka.


Dan Misah juga menitipkan kunci motor dan BPKB serta surat-surat ijazah Halim pada pak RT. Jadi kalau Halim datang akan mengambil barang, ijazah dan BPKB motor dia terima lebih dahulu. Sore mereka berdua kembali ke rumah Misah. Almi belum ingin tinggal di rumah miliknya karena yakin Halim masih akan mengambil barang-barang miliknya.


“Akhirnya kamu mau buka usaha apa?” tanya Misah saat mereka makan malam dirumahnya. Tadi Almira bilang dia akan kembali ke Bandung mengambil barangnya dan menyelesaikan persoalannya dengan Namira. Semoga saja dia bisa segera mendapatkan nomor telepon suami Namira di berkas kelurahan.


“Pengen ambil dua waralaba Bi. Aku mau ambil wara laba ayam goreng lokal dan roti bakar Gem-bong yang lagi hits. Aku akan sewa satu toko dan dibelah jadi dua karena kedua makanan itu hanya menerima pembeli untuk bawa pulang. Bukan makan ditempat. Hanya butuh sedikit space buat yang tunggu pesanannya dikerjakan saja,” sahut Almi dengan yakin.


“Kamu jadi enggak repot dengan pengadaan dan pengolahan ya. Kalau buka rumah makan atau toko roti biasa kan perlu lahan besar dan repot pengadaan bahannya.


“Iya, aku pilih dua usaha itu aja. Kalau sudah jalan, akan buka cabang lainnya” jawab Almi.


“Ada pandangan lokasi yang kamu pilih?” tanya Misah penasaran.


“Kemarin ada tiga toko yang aku sudah taksir. Besok kita lihat yok. Kalau memang cocok biar aku kasih uang panjar ( DP atau down payment atau tanda jadi ),” besok hari Minggu, jadi Almi masih bisa mengajak Misah menemaninya.


“Oke. Besok kita lihat lokasi itu,” sahut Misah.


***


Wulan bangun jam empat sore. Dia hanya minum susuu yang diberikan Nenden dan dilap badannya oleh perawat serta digantikan pakaiannya. Nenden menyuruhnya makan tapi Wulan tak mau. Akhirnya Prabu menyuruh menantunya makan martabak telur.


‘Tak makan nasi enggak apa-apa. Toh itu juga ada karbo dan protein tinggi,’ batin Nenden. Prabu memang disuruh August memberikan martabak telur kesukaan Wulan. Dia sengaja membeli martabak special tiga telur dua loyang. Satu untuk Wulan dan satu untuk Nenden serta Prabu.


“Sebentar, biar Papi minta mas Hendi membelikan ya,” Prabu langsung mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor.


“Iya Pi?”


“Hendi, kamu belikan martabak keju special juga martabak manis isi ketan hitam ya. Jangan sampai enggak dapat karena menantu saya kepengen,” Prabu bicara didepan Nenden dan Wulan.


“Iya Pi,” sahut August yang menerima pesan itu.


‘Hendi? Ha ha ha, Papi bersandiwara di depan Wulan,’ batin August. Dia duduk dikursi teras ruang rawat Wulan.


‘Tumben Dede minta sesuatu. Biasanya enggak minta apa pun. Ini malah minta ke oma opanya. Ke Ayah enggak,’ batin August sambil berjalan keluar rumah sakit untuk mencarikan pesanan Wulan.


“Mas Hendi, ayok ikut saya,” ajak August saat sudah mendapat semua pesanan Wulan. Dia biarkan Hendi masuk ruang rawat mengantar martabak yang diinginkan istrinya.


Hanya sepotong martabak isi ketan hitam yang Wulan makan, dia lalu kembali tidur.


Jam sembilan malam dokter Krisna datang. Walau sudah tampak lelah tapi dokter ini tetap menjalankan tugasnya dengan baik.


“Bu Wulan, kita ngobrol sebentar yok,” pelan dokter membangunkan Wulan. Wulan yang dibangunkan langsung terjaga. Dia melihat hanya ada Nenden dan seorang pria dengan baju dokter.


“Selamat malam Bu. Saya dokter Krisna,” sang dokter mengucap salam dan memperkenalkan diri pada Wulan.


Wulan tersenyum dan mengangguk pelan. “Selamat malam Dokter.”


Lalu dokter Krisna memulai hipnotherapi, dia membiarkan Wulan kembali berbaring dan memegang jemari Wulan. Setelah Wulan mulai tak sadar maka August pun diminta mendengarkan apa yang menjadi penyebab ketakutan Wulan saat ini.


“Bu Wulan, hari ini anda dua kali pingsan. Apa yang membuat anda sangat tertekan?” Tanya dokter Krisna lembut.


“Saya memang hanya perempuan bodoh yang mau percaya terhadap kehadiran malaikat dalam hidup kotor saya. Dia tak mempunyai cinta untuk saya. Tak ada cinta tulus. Dia hanya kasihan melihat anak yatim piatu harus bekerja keras dan sedang hamil. Hanya itu pandangan lelaki itu pada saya,” jawab Wulan pelan. Dia mulai terisak.


“Lalu?” pancing dokter Krisna.


“Saya sadar terlalu berharap lebih. Dia memang bukan untuk saya. Saya sadar diri. Saya akan menjauh. Kalau saya sudah sehat saya akan kembali ke desa orang tua saya. Saya akan kubur cita-cita saya kuliah. Saya akan menjadi buruh tani untuk sekedar bertahan hidup dengan anak saya,” Wulan menceritakan dia akan menjauh dari hidup August.


=================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta