TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KE KEBUN



“Ini sketsa dari Ariano, mungkin Teteh mau tambah atau kurangi. Dan ini perhitungan material serta rincian upah tenaga kerja yang saya ajukan,” Alina memberi dua lebar kertas pada Laura.


“Ini fix tidak bisa kurang?” tanya Laura melihat rincian biaya renovasi yang diajukan pihak Alina. “Kalau bisa saya ingin diskon sebesar 25%.”


“Teteh bisa sediakan semua bahan sendiri bila Ibu tak percaya pada kami. Soal jasa kami tak bisa kurangi sebab dalam data perusahaan panti asuhan ini sudah termasuk pelang_gan lama kami. Sehingga harga jasa yang kami berikan sangat jauh dibawah harga yang biasa kami berikan pada pelang_gan baru.” Alina dengan cermat menjawab penawaran yang Laura ajukan.


Merasa tak berhasil mengajukan penawaran harga, Laura pasrah dan memperhatikan sketsa yang diberikan Alina. Yang disebut dibuat oleh Ariano. “Ini sepertinya terlalu tinggi, kasihan para pekerja bila meja mandi bayi setinggi ini. Ini agak ke kiri agar ruang ini bisa untuk meletakkan lemari pakaian yang baru dicuci sebelum di setrika. Untuk yang lain saya pikir cukup pas. Tapi nanti malam akan saya periksa dengan teliti dan kemana saya harus beritahu apa yang ingin saya minta ubah?”


“Langsung ke nomor saya saja,” jawab Ariano.


“Baik, nanti saya akan gunakan nomor panti untuk menghubungi anda. Soal harga karena tak bisa ditawar dengan berat hati terpaksa saya setujui,” Laura tersenyum pada Alina.


“Baik Teh. Kalau begitu kami mohon pamit. Besok akan saya siapkan draft MOU nya untuk Teteh tanda tangani sekalian pembayaran DP lalu maksimal dua hari sejak uang kami terima, pengerjaan bisa dimulai,” Alina memohon pamit.


“Baik, sejak hari ini saya akan kondisikan area yang akan dibangun serta kamar anak-anak agar tidak terlalu banyak debu masuk yang akan mengganggu mereka,” Laura menjabat erat tangan Alina.


***


“Abang suka ama Laura,” di mobil Ariano langsung menceritakan isi hatinya pada Alina.


“Ngimpi apa Bang? Biasanya disodorin artis pun Abang nolak. Ini baru liat Laura langsung bilang suka. Abang mabok atau keracunan?” tanya Alina. Alna tahu, sejak Ariano dikhianati Shanum, hati Ariano tertutup untuk siapa pun. Sampai orang tua Ariano menyerah karena selalu gagal menjodohkan satu-satunya anak lelaki mereka itu.


“Abang tadi sempat tanya-tanya ke pegawai panti dan satpamnya. Dia masih single. Sudah hampir dua tahun patah hati karena saat akan menikah, tunangannya meninggal di arena balap mobil,” jelas Ariano lagi.


“Gilaaaaaaaaaaaa … Abang cari info?” tentu saja Alina benar-benar tak percaya atas apa yang didengarnya.


“Ya pastilah. Karena Abang serius naksir dia.”


Sementara yang jadi sosok utama pembicaraan sedang sibuk menghitung dana yang harus dikeluarkan panti asuhan. Laura bukan tak ada uang pribadi untuk digunakan dulu oleh panti. Tapi dia juga ingin memajukan butiknya. Dan dia juga berniat memindahkan lokasi butik menjadi di sekitaran Cimahi saja agar tak terlalu membuang waktu bila harus ke Bandung.


***


Laura berjalan di pematang kebun sayur milik panti. Dia melihat para pekerja sedang menanami aneka sayuran. Ada juga yang sedang memberi pupuk dan insektisida. Segarnya udara kebun membuat Laura merasa sangat sehat. “Apa yang akan siap panen?” tanya Laura. Dia menggunakan sepatu boot.


“Kemarin dan hari ini kita panen bayam merah dan selada Bu. Lusa kita panen pakcoy dan sawi hijau. Minggu depan bisa panen kol dan sawi putih. Kalau kembang kol baru tahap pindah dari pembibitan,” seorang pekerja kebun menjawab apa yang Laura tanya.


“Jangan lupa, setiap panen, antar sedikit ke panti ya, biar diolah untuk semua pegawai panti dan anak-anak,” Laura mengingatkan pekerja kebun. Tentu lumayan dia bisa menghemat uang belanja sayuran setiap hari.


‘Kapan-kapan, aku akan bawa Fahri dan Nazwa keliling kebun. Mereka pasti suka bila bisa ikut panen sayuran,’ Laura berpikir untuk mengajak kedua anak Syahrul ke kebunnya. Laura membawa aneka sayuran saat pulang dari kebun.


“Sukma, ini hasil kebun belakang, kamu bawa ke dapur ya. Dan tolong kamu dan Nengsih ke ruangan saya sehabis dari dapur. Bawakan saya lemon tea ya.” Laura langsung menuju ruangannya.


Laura menyesap lemon tea dengan sedikit es yang dibawakan Sukma. “Kalau menurut kalian, apa kita mampu memberi makan siang untuk para tukang bangunan yang akan mulai bekerja tiga atau empat hari lagi?” Laura membuka diskusi dengan kedua pegawai yang dia anggap bisa mewakili semua pegawainya.


“Kalau masak itu, banyak dan sedikit, perbedaan waktu nya tidak jauh. Capenya malah tidak ada bedanya. Jadi kalau menurut saya sih kita sanggup Mom,” sahut Nengsih.


“Setuju dengan pendapat teh Nengsih. Hampir tidak ada perbedaan masak dengan tambahan delapan sampai sepuluh porsi,” Sukma menyetujui pendapat rekan kerjanya.


“Oke. Kalau begitu kita akan memberi makan siang untuk para tukang ya. Walau sebenarnya itu bukan tanggung jawab panti karena dalam kesepakatan kita tidak menanggung makan para tukang. Dan Sukma ingatkan agar minum para tukang nanti tidak kekurangan. Dan sore sebelum pulang berikan kopi atau teh panas.”


“Dan mulai besok, tolong kalian kondisikan anak-anak yang dikamar dekat area yang akan dibangun, sementara pindah semua ke kamar depan. Saya tak ingin mereka terganggu suara dan debu bila tetap di lokasi dekat dengan area yang akan di bangun. Dan untuk dapur, kalian atur agar selama di renovasi, kalian punya lokasi masak yang bersih,” Laura memberi arahan untuk memulai bergerak.


“Saya rasa itu aja deh. Kalian atur dengan semua -pekerja- ya, biar tidak grasa grusu saat pengerjaan akan dimulai,” lanjut Laura.


“Mom, apa boleh sementara kita pindah juga beberapa box ke kamar depan agar tiga kamar di belakang bisa dikosongkan semua. Kalau hanya babies saja yang pindah, tentu kamar depan tidak cukup,” Sukma meminta izin pada Laura.


“Sementara pindah semua aja. Kamu jadikan mereka sesuai usia. Nanti yang jaga malam mungkin satu ruangan berdua bila memang isinya banyak babies,” Laura tentu menyetujui langkah yang akan Sukma ambil.


“Baik Mom, kalau begitu kami pamit,” Nengsih langsung pamit dan akan berkoordinasi dengan semua pegawai untuk mulai bergerak. Tahap awal dia akan meminta para pegawai lelaki merapatkan box dikamar depan agar bisa menampung box pindahan dari kamar belakang.


“Jelas ya?” tanya Nengsih pada semua rekan kerjanya yang tak bisa langsung berkumpul semuanya. Harus beberapa kali dia mengumpulkan mereka.


“Kita mulai kerja habis makan siang saja. Tapi tetap tugas utama yang didahulukan,” Sukma memberi masukan.


Tentu saja semua mengerti dan akan dengan senang hati bekerja sesuai keinginan Laura.


================================================================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.  Jangan lupa tinggalin komen manisnya  


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta