TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
MEMBELI PERABOTAN UNTUK RUMAH PAKLEK



“Baiklah nyonya,” goda Kemuning.


“Eh kita makan dulu ya?” Kemuning ingat ini waktu makan siang.


“Bisa enggak kita makan fried chicken. Biar adikku bisa merasakan sekali-kali makan ditempat seperti itu,” pinta Wulan.


“Boleh aja, aku enggak masalah,” sahut Kemuning dan mengarahkan mobilnya ke gerai ayam goreng dengan patung badut berlogo M besar. Wulan melihat binar bahagia dimata Riesty ketika gadis kecil itu melihat ayam goreng dan nasi terhidang didepannya.


“Nanti sesudah makan, kamu akan dapat es cream. Tadi mbak Wulan sudah membelikan untukmu,” Wulan memberitahu Riesty soal ice cream yang sudah dipesannya.


Sehabis makan, Wulan membelikan Riesty dua pasang seragam sekolah, sepatu sekolah dan beberapa pasang kaos kaki, tas sekolah serta buku dan alat tulis. Dia juga membelikan beberapa baju harian Riesty dan sebuah gaun untuk lamaran minggu depan.


“Terima kasih Mbak,” Riesty terharu Wulan memberi banyak barang hari ini.


“Iya, belajar yang rajin ya,” jawab Wulan sambil mengelus puncak kepala Riesty.


Selanjutnya mereka memasuki toko alat rumah tangga. “Nci, barang bisa dikirim enggak?” tanya Wulan pada Enci pemilik toko sebelum berbelanja. Dia tak ingin repot membawa baran belanjaan.


“Bisa Neng kalau belanja lebih dari satu juta setengah. Dan dikirim dua jam setelah dibayar karena biar sekalian ama yang lain. Kadang kalau dekat diantar motor bak. Biaya antar lima puluh ribu,” sahut Enci ramah.


“Minta pakai motor bak aja Nci, karena masuk gang,” sahut Wulan.


“Baik, mau beli apa aja?” tanya Enci sambil memegang buku bon.


Wulan membeli kompor gas, selang gas serta tabungnya. Dia juga membeli wajan kecil, 2 buah panci kecil, ceret kecil, setengah lusin piring, setengah lusin gelas dan tutupnya, setengah lusin sendok dan garpu, dispenser dan galonnya, majic jar kecil dan banyak alat dapur lainnya. Wulan membayar serta memberikan alamat kirim.


“Ning, kamu enggak apa-apa nemani kami terus?” tanya Wulan. Dia selalu saja merasa tak enak.


“Ya ampun Lan, kalau enggak suka aku temani bilang aja,” balas Kemuning cepat.


“Hehe, jangan ngambeg gitu dong,” Wulan menggandeng Kemuning dengan tangan kirinya karena tangan kanannya menggandeng Riesty.


“Minta yang size 90 dan 120 ya, yang jenis ini,” Wulan memilih kasur yang cukup bagus. Dia tak membeli tempat tidur. Hanya kasur saja. Nanti biar digelar di lantai saja.


“Tambahannya dua sprey untuk ukuran 90 dan dua sprey untuk ukuran 120,” lanjut Wulan.


“Silakan pilih corak spreynya Teh,” pramuniaga meminta Wulan memilih corak sprey yang diinginkan.


“Riesty mau yang gambar apa?” tanya Wulan pada Riesty sambil memperlihatkan album berisi gambar sprey. Riesty pun memilih gambar elsa dan dora emon. Sedang untuk paklek di kasur ukuran 90, Wulan memilih motif kotak-kotak hanya beda warna saja.


“Teh, enggak sekalian bantal dan gulingnya? ‘Kan sprey termasuk sarung bantal dan guling. Kalau kasur belinya sendiri-sendiri. Enggak termasuk bantal atau guling,” sang pramuniaga menyarankan Wulan menambah bantal dan guling.


“Ya ampun saya enggak tahu. Oke tambah dua guling dan tiga bantal ya,” Wulan memang tidak tahu sehingga dia belum membeli bantal dan guling. Wulan membayar semuanya dan memberikan alamat pengantaran


“Selesaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaai,” Wulan mengambil napas panjang dan tersenyum manis.


“Baiklah. Sekarang aku yang bayar ice creamnya ya. Tadi makan kamu yang bayar,” sahut Nuning atau Kemuning. Dia senang bisa membuang waktu dengan Wulan. Sebenarnya dia ingin tanya apa selanjutnya Wulan akan tinggal bersama pamannya setelah sang paman berpisah dengan bibinya yang jahat itu. Tapi rasanya timingnya dia rasa belum tepat.


***


Wulan dan Riesty naik taxi menuju rumah kontrakan baru. Dia takut saat barang datang dia belum tiba bila dia naik angkot. Riesty terlihat lelah dan mengantuk. “Jangan bobo, sebentar lagi sampai rumah ya. Mbak enggak kuat ngegendong kamu.”


Wulan membuka rumah mungil itu. Dia baru ingat belum membeli sapu dan lap pel serta ember. Dia juga belum membeli sabun. Biarlah. Dia masuk dan duduk di sebuah tikar kecil yang baru dia gelar. Tikar ini rencananya akan digunakan Parman tidur malam ini bila dia tak diijinkan tidur dibengkel. Untung tadi Wulan membeli dua botol air mineral, sehingga dia bisa mengobati lelahnya. Dan Riesty langsung tidur disebelahnya.


“Lho, koq cepet Paklek?” Wulan melihat pamannya memasukkan motornya dan disandarkan diteras bawah jendela. Rumah ini memang tak punya halaman. Hanya ada teras sedikit pas motor.


“Iya, bos mengizinkan pulang satu jam lebih awal,” sahut pamannya sambil meletakkan tiga kardus buku sekolah dan sedikit baju Riesty.


Mereka duduk di lantai. “Paklek, dalem bade matur. Seminggu maleh wong tuwone mas August bade kepanggih kalih Paklek. Bade ngelamar kulo,” Wulan langsung memberitahu Suparman. Dia tak bisa terlalu lama disini. [ Paklek, dalem bade matur = paman saya mau bilang... Seminggu maleh wong tuwone mas August bade kepanggih kalih Paklek = seminggu lagi orang tua mas August mau bertemu dengan paman... Bade ngelamar kulo = mau melamar saya].


“Bagaimana Nduk, Paklek tidak punya tempat yang layak,” sahut Suparman.


“Nanti kita bertemu di rumah makan Paklek. Mas August yang akan atur tempatnya. Tadi saya sudah belikan baju untuk Riesty. Jangan rendah diri walau mereka orang kaya. Mereka tak memandang orang dari hartanya. Bahkan saya yang kotor begini saja mereka terima dengan baik,” Wulan memberi semangat pada pamannya.


“Permisiiiiiiiiiiii …, rumah pak Suparman?” tanya seseorang di luar.


“Iya Pak, masukkan saja,” Wulan langsung menjawab. Yang datang pertama ternyata kasur. Wulan memberi tips untuk para pengantar.


“Nduk, kamu apa-apaan membelikan barang mahal seperti ini?” tanya Suparman bingung. Kasur yang dibeli Wulan memang kualitas bagus walau belum yang terbaik. Tapi garansi kasur saja lima tahun.


“Enggak apa-apa Paklek. Ini semalam aku cerita ke mas August dan dia minta aku membelikan untuk Riesty. Jadi jangan pekewuh. Santai aja,” jawab Wulan. Baru saja dia selesai bicara sebuah motor bak berhenti didepan rumah dan menurunkan belanjaan Wulan.


Seperti tadi Wulan memberikan tips pada sipengantar barang. “Paklek saya pamit ya. Enggak enak sama teman panti. Walau tadi sudah izin pada bu Laura juga,” Wulan langsung bersiap pamit. Riesty masih tertidur ditikar karena kelelahan.


Suparman hanya bisa meneteskan air mata haru melihat barang yang dimasukkan pengantar tadi. ‘Kamu persis seperti ayah dan ibumu Nduk. Selalu inginnya menolong orang.’


“Paklek, aku lupa beli karpet plastik untuk alas kasurnya biar enggak lembab. Aku juga belum beli ember dan sapu serta lap pel,” lanjut Wulan.


\======================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta