
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\======================================================================
“Enggak. Aku malah bersyukur teteh memikirkan diriku. Jawab aja ke teteh. Kita akan menikah minggu ini, di Bandung. Resmi secara agama dan negara. Asal teteh dan akang bisa hadir,” jawab Namira tanpa ragu. Dia memberi senyum manis untuk Ilyas.
Ilyas tak menyangka, tak ada penolakan apalagi pakai acara drama dari pihak Namira.
Selanjutnya mereka sepakat membicarakan hal detil tentang pernikahan mereka dirumah saja. Tak ingin orang lain mendengar.
ILyas dan Namira keluar dari kantin saat Adinda dan genks juga bersiap keluar. Bukan kesengajaan, karena Ilyas sudah berdiri dan menggandeng Namira terlebih dahulu. “Kami duluan ya,” pamit Ilyas.
“Iya Dok, silakan,” dengan manis seorang dokter dalam genks itu mempersilakan Ilyas.
***
Aura mendapat info persidangan dari Adnan yang sengaja datang ke rumah sakit untuk menceritakan jalannya persidangan sekalian mengantar tas kerja, buku dan barang lain di mobil Syahrul. Adnan juga membawakan surat-surat untuk Laura tanda tangani guna klaim asuransi jasa raharja dan asuransi mobil milik Syahrul.
“Makasih ya Kang, udah bantuin aku,” ucap Laura sambil menerima tas, baju ganti dan barang lain milik Syahrul yang oleh Adnan dimasukkan dalam tas kresek besar.
“Assalamu’alaykum,” sapa Ilyas dan Namira ketika mereka sudah dekat dengan perempuan itu diruang tunggu ICU rumah sakit Kemala.
“Wa’alaykum salam. Apa khabar Yas?” tanya Laura.
“Alhamdulillah. Aku dengar dokter Syahrul kemarin …,” Ilyas tak tega meneruskan kalimatnya.
“Iya, denyut jantungnya sempat terhenti. Tapi sekarang stabil. Semoga membaik,” jawab Laura lirih.
“Eh kenalkan, ini kang Adnan. Dia yang membantu urusan lakalantas bang Syahrul,” Laura menerangkan sosok Adnan.
“Dan ini dokter Ilyas, dia dokter dirumah sakit Persada yang membantu perpindahan bang Syahrul kesini,” jelas Laura.
“Bukannya waktu itu kita bertemu di rumah sakit Persada?” tanya Adnan.
“Ah aku lupaaaaa. Waktu itu rasanya aku hilang ingatan,” jawab Laura jujur.
“Ra, aku masuk kedalam sebentar ya. Honey, kamu disini sama Laura ya,” pinta Ilyas pada Namira.
“Teteh, ini buat yang jaga. Tadi A’ ilyas bilang jangan lupa diminum biar enggak drop,” Namira memberikan aneka suplemen buat Laura juga buah yang dia bawa.
“Oh, makasih banget lho. Kalian enggak usah repot kayak gini. Kalian datang aja aku udah seneng banget,” Laura menerima bawaan Namira.
“Akang balik kantor ya,” Adnan pamit pada Laura.
“Iya Kang. Makasih banyak bantuannya,” Laura pun menerima uluran tangan yang Adnan berikan.
***
Ilyas tahu, hubungan Syahrul dan Laura sudah tak seperti dulu lagi. Sangat jelas mereka dekat. Tak mungkin Laura akan full menunggui Syahrul 24 jam penuh bila mereka tak ada hubungan istimewa. Terlebih barusan Laura menyebut Syahrul dengan kata ganti Abang.
“Belum ada perkembangan berarti. Yang pasti dia stabil. Kamu beri dia motivasi terus aja. Dia mendengar apa yang kita katakan koq. Kalau dia selalu mendapat afirmasi yang bagus, dia akan bahagia dan semoga cepat sadar,” jawab Ilyas.
“Eh Ra, maaf kalau ini enggak tepat waktunya. Kami hanya mau kasih tahu. Hari Sabtu siang ini kami akan menikah. Hanya akad saja karena memang kami belum siap resepsi. Kami tahu kamu enggak akan datang. Kami minta doa restunya saja,” Ilyas memberitahu Laura. Mereka tadi sudah menghubungi Novia dan perempuan itu berjanji bisa menikahkan adiknya hari Sabtu siang.
Flash back on
Didalam mobil Ilyas langsung menghubungi Novia. Dia berpikir dimobil tak akan ada orang luar mendengar.
“Iya, Assalamu’alaykum Yas,” sapa Novia. Dia baru akan pulang selesai kerja sebagai kepala sekolah.
“Teh, soal nikah yang Teteh suruh tadi malam. Kami setuju aja nikah minggu ini. Tapi apa Teteh dan Akang bisa datang ke Bandung? Kalau Teteh dan Akang enggak datang, kami enggak akan nikah. Karena keluarga kami hanya Teteh dan Akang,” tanpa basa basi Ilyas langsung mengatakan niatnya menghubungi sang kakak perempuannya.
“Kapan kalian akan menikah?” tanya Novia.
“Terserah Teteh dan Akang. Kapan saja kami siap,” jawab Ilyas.
‘Ya sudah. Hari Sabtu ya. Teteh dan Akang berangkat habis salat subuh. Kami akan menginap rumahmu,” Novia segera memutuskan. Dia tak ingin adiknya salah langkah.
“Ya sudah, kami akan urus pendaftaran ke KUA dan kasih tahu bibik juga,” lalu Ilyas segera memberi salam dan menutup sambungan telepon dengan kakak perempuannya.
Flash back off
“Wah selamat ya Yas, semoga kalian selalu bahagia,” Laura senang, akhirnya Ilyas menemukan tambatan hatinya. Dia berharap kehidupan rumah tangga Ilyas tak ada batu sandungan.
“Terima kasih Ra,” jawab Ilyas tulus.
“Terima kasih Teteh. Kami juga berharap dokter Syahrul segera sembuh,” Namira menjawab doa yang Laura berikan untuk dirinya dan Ilyas.
Setelah cukup bertukar cerita Ilyas pun pamit pada Laura. Hari ini dia harus membeli cincin nikah juga kebaya untuk Namira gunakan saat akad nikah nanti.
***
‘Sejak awal aku bukan jatuh cinta pada wajah dan body nya. Aku jatuh cinta karena kepribadiannya yang tegar menghadapi semua cobaan. Tidak putus asa juga selalu bisa menebar cinta pada siapa pun yang dekat dengannya. Tapi sekarang melihat dia seperti ini, ya aku bersyukur karena mendapat bonus wajah cantik dan bodynya yang aduhai walau pernah melahirkan,’ Ilyas memandang kagum sosok Namira yang sedang mencoba kebaya yang ingin dibeli untuk akad nikah mereka.
Selesai membeli kebaya, selop serta kain batik untuk akad nikah, maka sekarang Ilyas dan Namira segera menuju toko perhiasan untuk membeli cincin nikah mereka. Seperti biasa, Namira bukan wanita yang ribet. Cukup satu toko dan selesai sudah urusan membeli cincin nikah mereka.
“Seserahannya apa Yank?” tanya Ilyas.
“Enggak usah. Ayah mikir mahar aja, enggak perlu ribet dengan seserahan,” jawab Namira. Toh yang menikah adalah dirinya. Yang datang hanya Novia. Buat apa dengan seserahan. Mahar saja cukup. Begitu pikiran sederhana Namira.
Ilyas hanya diam. Dia akan minta Novia membuat paket seserahan bagi Namira. Dia sedang memikirkan mahar. Apa yang hendak dia jadikan mahar?
“Pulang yok. ASI ku sudah penuh. Sakit rasanya,” Namira memberitahu kalau payu-daranya sudah bengkak karena terlalu lama pergi. Memang beli kebaya dan cincin diluar planning. Niat awal mereka hanya keluar untuk makan siang dan menengok dokter Syahrul saja.
“Ayok. Bunda udah enggak ada yang mau dibeli lagi?” tanya Ilyas. Dia tahu Namira orang yang selalu cermat. Kalau keluar rumah sekalian semua dikerjakan.
“Rasanya enggak ada. Kan kita baru kemarin belanja,” jawab Namira.