
“Saya memang kursus menyetir yang sekalian dengan pembuatan SIM. Dulu pacar saya orang kaya dan masih ningrat. Dia sering lelah sehabis kegiatan kampus atau organisasi dan meminta saya yang menyetir mobil miliknya,” Namira menjelaskan soal dia belajar menyetir.
“Kenapa putus dengan dia?” tanya Ilyas ingin tahu.
“Kami tidak putus. Saya menghindari dia sejak tahu saya hamil Ilham. Dia pasti mau menerima apa pun kondisi saya. Tapi keluarganya belum tentu. Saat kami pacaran saja mereka tidak suka karena saya yatim piatu dan orang miskin,” seperti biasa Namira selalu menjawab jujur semua pertanyaan yang dia dapat.
“Kalau sekarang kamu bertemu dia lagi bagaimana? Andai dia masih sendiri dan minta kamu balikan?” Ilyas malah jadi penasaran dengan kisah cinta Namira.
“Saya lelah kalau harus kembali berjuang. Saat saya masih sendiri saja orang tua dan keluarga besarnya menolak saya. Terlebih ada Ilham. Tak mungkin mereka menerima kami. Sedang hidup berumah tangga tidak hanya pasangan suami istri saja, tapi ada keluarga besar disekeliling kita. Jadi tak mungkin rasanya saya bisa bertahan. Kalau masih sendiri, dulu saya bertekad akan berjuang bersama Wisnu. Tapi sejak ada Ilham, saya sudah tak ingin memperjuangkan cintanya lagi. Sekarang saya hanya akan berjuang untuk Ilham saja,” Namira memperjelas tekad hidupnya saat ini.
Entah mengapa mendengar Namira tak akan mau berjuang untuk bersama dengan mantan kekasihnya membuat Ilyas tenang. ‘Apa aku mulai terbawa perasaan? Apa aku berniat membuat nyata “pertunangan” kami? Kalau pun itu dijadikan nyata, bukankah tak ada masalah? Dia dan aku sama-sama single!’
“Kalau kamu kuliah lagi bagaimana?” Ilyas menanyakan Namira untuk melanjutkan kuliah lagi.
“Tujuan saya berdagang memang untuk mengumpulkan uang buat lanjut kuliah selain menabung untuk masa depan Ilham nanti. Tapi kalau kuliah semester depan rasanya saya belum terkumpul dana,” rupanya Namira juga ingin meneruskan kuliahnya. Dia ingin punya pekerjaan mapan bagi kedua orang anaknya. Baginya setelah Almira -kakaknya- tak bisa dihubungi, Nindi adalah anak sulungnya.
“Saya punya libur tiga hari. Besok pagi kita ke Bogor ya, kamu urus surat-surat pindah dan nilai mata kuliah yang sudah kamu tempuh. Lalu kamu daftar kuliah pegawai yang hanya akhir minggu. Saya tidak mau kamu kuliah malam. Soal biaya nanti biar saya yang tanggung.” Ilyas tegas menyuruh Namira bersiap besok untuk mengurus berkas kuliahnya di Bogor.
“Saya belum siap. Dan jangan tambah membebani saya dengan hutang budi,” Namira menolak perintah Ilyas.
“Kamu enggak bisa nolak. Saya tunangan kamu!” jawab Ilyas tanpa ragu.
“Itu ‘kan hanya pura-pura,” Namira tentu menampik pernyataan Ilyas barusan.
“Kalau saya mau itu beneran gimana? Saya mau kita nyata bertunangan, bukan sandiwara.” Ilyas menatap Namira yang sedang fokus mengendarai mobil. Dia melihat pipi Namira bersemu merah.
“Kenapa enggak jawab Honey?” goda Ilyas. Namira tetap terdiam. Untung mobil sudah memasuki perumahan.
Bil Iyah membuka pagar, saat bersamaan Namira sudah membuka pintu mobil untuk membuka pagar. Sehingga perempuan itu kembali masuk ke mobil, dan memasukkan mobil ke teras lalu langsung keluar mobil tanpa menunggu Ilyas turun.
“Hallo cantik,” Namira menyapa Nindi yang sedang makan donat sambil mengerjakan pekerjaan rumahnya.
“Bibi …, apa paman sudah pulang?” Nindi tahu tadi bibinya akan menjemput paman kesayangannya.
“Sudah sayang, Bibi mandi dulu ya,” Namira langsung masuk kamarnya. Dilihatnya jagoannya masih terlelap.
“Pamaaaaaaaaaaaaaan,” Nindi berlari menghampiri Ilyas.
“Haloo cantiknya Papa,” Ilyas mengangkat Nindi tinggi-tinggi kemudian menciumi pipinya. Dia merindu gadis kecil ini. “Lagi bikin PR apa?” Ilyas suka aneh. Kadang dia menyebut dirinya Ayah, kadang Papa. Mungkin karena belum resmi. Jadi masih semaunya dia aja.
“Bahasa Inggris,” jawab Nindi setelah diturunkan Ilyas. Ilyas melihat berkas dari rumah sakit sudah ada dimeja ruang tamu. Rupanya Namira meletakkan disana, bukan diserahkan pada dirinya langsung. Ilyas masuk ke kamarnya dan segera berbaring. Dia ingin tidur siang.
“Mau bikin baru Neng?” tanya bik Iyah melihat Namira mulai menyiapkan semua bahan untuk membuat isi risol.
“Iya Bik, sebentar lagi saya izin antar risol pesanan bu Palupi ya, dia pesan 20 box. Jadi saya harus bikin baru minimal 20 box juga sebagai pengganti. Jadi kalau ada pesanan mendadak seperti tadi bisa saya cover!” Namira pun mengeluarkan risol beku yang dikemas dalam box mika dari freezer. Dia masukan dalam keranjang dan sebentar lagi akan dia antar.
“Kalau Ilham bangun, jangan dikasih ASIP ya Bik, saya ‘kan enggak lama,” Namira mau dia langsung memberi ASI nya karena payu_daranya mulai bengkak. Sejak menjemput Nindi pulang sekolah hingga saat ini ASI belum keluar.
“Iya Neng, nanti Bibik gendong dulu aja,” bik Iyah mengerti, tentu ASI Namira sudah penuh.
***
Bastian bersiap untuk berangkat meeting bersama Harun dan Julia. Dia meminta Harun yang menyetir mobilnya dam dia duduk disebelah Harun. Dia sedang malas menyetir. Bastian mengingat kembali kisah manisnya dengan Julia. Kisah tentang first kiss mereka.
Bastian POV
“Maafin A’a. A’a enggak mau berjanji, tapi akan selalu berupaya merubah semua sifat buruk A’a. A’a minta kamu sabar dan selalu mau menegur bila A’a salah. Hanya kamu yang A’a mau dan A’a yakin hanya kamu yang bisa mendampingi A’a. Maafin ya?” pintaku tulus.
Aku melihatnya tersenyum dan tanpa aku duga dia mengecup kedua mataku! Sejak aku sadar dari pingsanku ketika itu memang Julia sangat berubah. Dia berani mencium pipiku, membelai pipiku, merapikan rambutku bahkan memelukku. Dulu saat hal itu aku lakukan padanya, dia hanya pasif saja.
“I love you honey,” bisikku. Aku memang sangat mencintai perempuan luar biasa yang sedang aku dekap ini.
“Love U more,” balasnya tanpa terduga. Baru kali ini Julia berani menyatakan cinta padaku walau berupa jawaban dari pernyataan cinta yang aku sampaikan.
Pagi ini twins dibolehkan pulang. Mamah dan Apa tentu akan repot. Sejak Pagi apa’ ada jadwal meeting yang memang sudah ada di jadwal kerjaku sejak minggu lalu. Dan mamah harus mengurus kepulangan kedua keponakanku sendirian. Aku mencoba menghubungi Julia, tapi ponselnya sibuk bicara.
“Iya, assalamu’alaykum,” Julia langsung memberi salam saat kami bisa terhubung.
“Wa’alaykum salam honey. Kamu di mana?” tanyaku. Aku teramat merindukannya.
“Masih di rumah,” jawabnya lalu dia memindah panggilan ke video call. Tentu aku tak menduga Julia melakukan hal itu. Aku lihat dia dengan setelan baby dollnya sedang berada di tumpukkan barang-barang dagangannya.“Kenapa?”
\============================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta