TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
BAHKAN KAMU TIDAK MEMPERKENALKAN CALONMU!



Di ruang tamu ada dua gelas sirop dan tas wanita. Laura jadi tidak enak hati karena datang di saat yang tidak tepat. “Fahri, ini di taruh di mana?” tanya Laura sambil menunjukkan bahan puding dan bahan salad yang dia beli.


“Taruh sini aja Mom,” Fahri mengajak Laura yang memang baru 1 kali itu datang ke rumah Syahrul. “Ayok kita ke kamar Kakak,” ajak Fahri sambil menggenggam jemari Laura dan menariknya ke lantai 2 rumah itu.


“Mommy …,” Nazwa langsung berteriak saat melihat Laura di depan pintu kamarnya ditarik Fahri.


“Assalamu’alaykum,” sapa Laura. Dia melihat ada perempuan cantik di ruangan itu selain Syahrul dan Nazwa.


“Wa’alaykum salam,” Syahrul dan perempuan cantik itu menjawab hampir bersamaan. Laura menghampiri untuk berjabat tangan baru dia menghampiri Nazwa.


“Thank’s for coming. I really miss you Mom,” Nazwa langsung mengambangkan tangannya minta dipeluk. Laura duduk di ranjang dan memeluk erat putri kecilnya.


“Princess Mommy sakit apa?” tanya Laura lembut sambil membelai pipi Nazwa.


“Cuma demam aja Mom, kemarin siang aku kepeleset dan jatuh di kolam ikan sekolah,” sahut Nazwa lirih.


“Tell me the truth,” bisik Laura. Tak mungkin Nazwa bisa jatuh terpeleset. Nazwa yang mengetahui tak bisa berbohong pada Laura langsung menangis terisak dipelukan perempuan yang dia harap bisa menjadi ibu sambungnya itu. Hanya Laura yang bisa langsung tahu kalau cerita yang dikatakannya adalah kebohongan.


Syahrul yang kaget akan kedatangan Laura di rumahnya menjadi serba salah karena saat itu dia sedang bersama perempuan lain. Ditambah lagi sekarang dia melihat Nazwa menangis dipelukan Laura. Syahrul semakin merasa bersalah terhadap putrinya. Dia mengajak Fahri dan teman perempuannya keluar dari kamar Nazwa. Dia ingin memberi kesempatan pada putrinya untuk bercerita dengan Laura.


“Mommy bisa kunci pintu kamar?” pinta Nazwa pada Laura. Tanpa membantah Laura mengerjakan apa yang Nazwa minta.


“Sekarang ceritakan, mengapa kamu sakit,” pinta Laura.


“Aku sedih Mom,” Nazwa memulai ceritanya. “Seminggu lalu Nenek dari Padang menghubungi Daddy. Meminta agar Daddy segera menikah lagi dan Nenek menjodohkan Daddy dengan tante tadi. Aku enggak suka,” Nazwa kembali terisak.


Laura kaget mendengar alasan Nazwa sakit. Dia tak menyangka gadis kecilnya mengalami tekanan batin hingga membuatnya demam. “Kita tak boleh mencampuri urusan Daddy dan Nenek. Mereka sudah dewasa dan tentu sudah berpikir yang terbaik untuk mereka. Sejak dulu Mommy sudah bilang ‘kan? Mommy akan tetap ada untuk kalian walau Mommy tidak menikah dengan Daddy. Kalian tak akan pernah Mommy tinggalkan. Jadi kamu tenang saja. Biarkan Daddy menentukan keputusannya. Jangan kamu membuat Daddy menjadi anak yang membantah orang tuanya,” dengan lembut Laura menasihati gadis kecilnya.


“Tapi Mom …,” bantah Nazwa. Ia tidak rela perempuan yang dikirim neneknya menjadi istri daddynya. Karena sejak bertemu pertama Nazwa mempunyai kesan tak baik pada perempuan itu. Dia langsung tak suka saat pertemuan pertama dengan dirinya dan daddynya,  perempuan itu langsung bergayut manja pada lengan daddynya. ‘Baru kenalan saja sudah begitu kelakuannya.’ Walau masih remaja, tapi Nazwa bukan anak kecil yang tidak bisa membedakan perempuan nakal dengan perempuan baik-baik.


“Enggak ada tapi! Kamu sudah makan?” tanya Laura cepat.


“Belum.”


“Kita turun yok, kita makan lalu kamu minum obat. Bisa jalan ‘kan?” tanya Laura.


“Bisa Mom,” Nazwa menjawab lalu mengenakan sandal rumahnya, dan bergandengan tangan menuju ruang makan. Laura kaget saat asmpai di ruang makan. Di sana dilihatnya Syahrul sedang diambilkan nasi oleh perempuan itu.


‘Bagaimana bisa dia makan tidak mengajak anak-anaknya!’ Laura jadi bingung melihat Syahrul yang sepertinya bukan seorang ayah yang dikenalnya selama ini.


“Kamu duduk dulu, Mommy siapkan makanmu ya,” tanpa menyapa kedua orang yang ada di meja makan Laura menyuruh Nazwa duduk dan menyiapkan piring, tapi dia lalu ingat Fahri.


“Bik, bisa minta tolong panggilkan Fahri?” pinta Laura sopan.


“Baik Non,” sang bibik segera memanggil Fahri di kamarnya.


“Kamu sudah makan?” tanya Laura manis.


“Makan bareng Kakak ya, sini Mommy ambilkan,” Laura langsung mengambilkaan Fahri nasi dan sayur serta ayam goreng.


“Mommy enggak makan?” tanya Fahri.


“Mommy cukup kenyang melihat kalian makan,” jawab Laura sambil tersenyum manis. Dilihatnya selintas perempuan itu makan tanpa peduli sedang Syahrul hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya tanpa menyuap sama sekali.


Selesai anak-anak makan Laura langsung menuju dapur. Cepat-cepat dia membuat puding coklat dan fla nya.  Lalu dia minta bibik menyimpannya di kulkas. Tadi dia meminta bibik juga membantunya memotong aneka buah untuk salad. Sekarang dia mengaduk buah dengan bumbu salad lalu ditaburi parutan keju. Salad itu sengaja dia letakkan dalam mangkok kecil-kecil lalu dia minta bibik simpan di kulkas. Dia akan segera pamit karena tak enak mengganggu Syahrul.


“Mommy sudah membuatkanmu salad buah dan puding coklat. Sekarang Mommy kembali ke hotel ya. Mommy masih banyak kerjaan karena sedang seminar,” pamit Laura pada Nazwa dan Fahri yang sedang di kamar Nazwa.


“Kenapa Mommy tidak menginap?” tanya Nazwa. Dia berharap Laura bisa tinggal lebih lama.


“Mommy sedang seminar sayang, kamu selalu kabari Mommy ya. Dan jangan membantah. Turuti semua yang Daddy perintahkan. Promise?” Laura  memeluk Nazwa lalu diciumi pipi dan kening gadis kecilnya itu.


“Yes Mom,” jawab Nazwa lemah.


“Salad dan pudingnya dimakan ya?” Laura mengingatkan keduanya. “Ayok Fahri temani Mommy turun,” Laura tentu agak sungkan pamit pada Syahrul yang sedang berdua dengan calon istrinya.


“Maaf, saya pamit. Assalamu’alaykum,” Laura menyodorkan tangannya untuk pamit. Dia rasakan Syahrul agak mengeratkan jabat tangannya, tapi dia tak menggubrisnya. Dia langsung keluar rumah itu ditemani Fahri. ‘Bahkan kamu tidak memperkenalkan calonmu padaku Bang.’


‘Tapi aku memang tak bisa marah, bukankah aku belum menerima cintanya, walau dia berjanji akan menunggu jawabanku sampai kapan pun. Dia masih pria lajang. Sehingga tidak salah kalau dia memilih bosan menunggu dan berpaling pada perempuan pilihan ibunya. Aku tidak boleh marah dan bersedih!’ Laura langsung memberi motivasi untuk dirinya sendiri agar tidak lemah dan melupakan Syahrul. Dia melajukan mobilnya menuju Dago. Dia ingin menenangkan hatinya sendiri.


***


“Sendirian?”


“Eh pak August? Lagi di Bandung juga?” tanya Laura saat ada yang menyapanya.


“Yaaah, koq masih manggil Pak sih,” protes August. Dia membawa snack dan kopinya pindah ke meja Laura. “Kamu sedang menunggu teman?”


“Enggak. Saya sedang seminar di Bandung sampai besok. Barusan habis ngejenguk teman lalu iseng ngopi dulu di sini sebelum balik ke hotel,” jawab Laura. “Mas sendiri, koq sendirian di Bandung?”


“Tadi iseng, gabut. Lalu ke panti mu. Sampai sore di sana, muter-muter Bandung cari inspirasi. Akhirnya ngendon di sini deh. Enggak sengaja saya lihat kamu sejak pesan hingga barusan sendirian. Jadi ya saya samperin,” jawab August.


“Wah malah tadi ke panti?” tanya Laura.


***===================================== ***


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta