
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
August baru saja lepas tugas. Dia langsung pulang ke rumah orang tuanya. Letih teramat sangat. Tapi kemarin maminya memberitahu sang oma kurang sehat, sehingga sepulang tugas 5 hari dia langsung menuju rumah. “Oma kenapa Mi?” tanya August saat baru masuk rumah.
“Kemarin dokter bilang oma sakit karena kecapean dan telat makan. Oma habis kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Saking asyik cerita, oma lupa makan. Sehingga tensi turun lalu oma pusing. Semoga aja sehabis minum obat dia segera pulih,” jawab sang bunda yang masih saja cantik
“Aamiiin. Semoga oma segera pulih ya Mi. Sepi rumah kalau oma sakit,” August menjawab sambil berlalu menuju kamar tidurnya. Dia keluarkan semua baju kotor dari kopernya. Dia bergegas mandi dan membawa semua baju kotor termasuk yang baru dia lepas sebelum mandi ke ruang cuci di belakang. Di rumah ini memang baju kotor harus ditaruh sendiri oleh si pemilik kamar. Asisten rumah tangga tidak boleh membereskan baju di kamar. Sesudah di cuci dan setrika pun, asisten akan menumpuk dan meletakkan di bak terpisah untuk setiap penghuni kamar. Jadi asisten dilarang membawakan baju bersih ke kamar.
“Mas,” Bagas menegur August yang baru saja menaruh baju kotor miliknya.
“Tumben kamu ada di rumah,” balas August.
“Bantuin aku ngomong ke pakde dong?” pinta Bagas sambil berbisik.
“Ngomong soal apa?” August penasaran.
“Aku ingin minta dilamarkan Yayu,” jawab Bagas.
“Ih, kalau soal itu kamu harus ngomong sendiri. Tapi saranku, kamu bicara dulu pada ibumu. Lalu biar ibumu yang matur ke papi dan mami,” August memberi saran terbaiknya. Kalau harus serius dia memang tak akan mengecewakan. ( matur \= mengatakan).
“Bukan aku langsung ke pakde?” Bagas masih penasaran.
“Dikandani ngeyel,” balas August sambil berjalan ke meja makan. Dia lapar dan ingin makan. ( Dikandani ngeyel \= diberitahu tidak percaya ).
“Baiklah. Matur nuwun,” balas Bagas. Memang dalam keluarga August masih sering menggunakan bahasa Jawa karena leluhurnya asli Solo. ( Matur nuwun \= terima kasih ).
***
“Aku pulang dulu ya?” Julia pamit pada Bastian, karena pak Achdiyat sudah datang dari kantor dan saat ini sedang menengok para cucunya.
“Kamu akan menepati janjimu ‘kan?” tanya Bastian lirih. Tadi walau sulit dia menghabiskan porsi bubur yang disediakan oleh rumah sakit.
“Selama ini yang selalu tak pernah menepati janjinya siapa?” tegur Julia.
“Honey, A’a kan sudah minta maaf. A’a janji enggak akan lagi, tidak menepati janji,” Bastian masih saja berkata manja pada Julia.
“Kamu terlalu mudah obral janji. Mulai sekarang jangan mudah berjanji dan bila berjanji kamu harus catat agar tidak lupa!” tegur Julia tegas namun dengan intonasi lembut.
“Iya Honey, A’a akan lakukan itu. A’a akan selalu mencatat apa yang A’a janjikan,” Bastian masih menggenggam jemari Julia yang barusan mengulurkan tangannya untuk bersalaman karena hendak pulang. Dikecupinya jemari perempuan terkasihnya itu. Lalu dia tarik tangan Julia sehingga tanpa bisa dicegah tubuh Julia terjatuh ke dadanya.
“Kiss dulu sebelum pulang,” pinta Bastian. Namun Julia menggelengkan kepalanya. Dikecupnya kedua pipi Bastian dengan lembut.
“Bobo ya, biar cepat sehat,” dengan lembut Julia membelai pipi Bastian yang sudah sangat tak terawat.
“Jangan nakal ya, tenangkan pikiran dan tidur tenang agar cepat sembuh,” bisik Julia. Memang sejak tadi belum ada kata sayang apalagi cinta dari mulut Julia. Tapi Bastian bisa merasakan, Julia sudah kembali membalas cintanya dan tidak membencinya lagi.
Sebelum pulang Julia menempatkan diri untuk melongok dua pacar kecilnya di kamar sebelah. “Koq belum bobo,” tanya Julia pada Topan. Dilihatnya Guntur sudah terlelap. Bu Achdiyat sedang menyiapkan makan malam untuk suaminya dan pak Achdiyat sedang mandi.
“Belum ngantuk Aunty,” balas Topan. Julia mengambil buku cerita milik Topan dan dia berbaring di sebelah jagoan kecil itu. Dibacakan buku cerita secara pelan sehingga Topan tertidur.
“Saya pamit Bu, Pak,” dengan berbisik Julia pamit pada pasangan mantan bosnya.
“Terima kasih ya, kamu sangat membantu kami,” pak Achdiyat merengkuh bahu Julia saat perempuan muda itu sedang salim pada bu Achdiyat.
***
Hari ini Syahrul jadwal kunjungan sukarela ke panti asuhan milik Laura. Sayang ini adalah hari Laura ke butiknya sehingga mereka hanya saling kirim klakson. Karena mobil Syahrul masuk halaman panti saat mobil Laura keluar. Sejak kasus kaburnya Nazwa belum pernah sekali pun Syahrul bisa berbicara dengan Laura. Bahkan gadis itu hampir tak pernah membalas chatnya dengan hangat. Kalau telepon pasti tak diangkat. Laura memang tak ingin Syahrul terlalu berharap padanya.
“Hari ini jadwal imunisasi ya,” Syahrul membawa tas peralatannya yang hari ini membawa banyak obat imunisasi bagi para penghuni panti.
“Kamu bunda baru?” tanya dokter Syahrul saat melihat Wulan sedang memakaikan baju pada bayi yang baru dia mandikan.
“Muhun Dokter,” jawab Wulan sopan. Memang mereka baru pertama kali bertemu. ( Muhun \= benar atau iya ).
Nengsih memberikan catatan medik para bayi dan balita yang hari ini harus di vaksin kepada dokter Syahrul. “Ini kenapa masih imunisasi di sini? Bukankah dia sudah di adopsi?” tanya dokter Syahrul melihat data seorang batita yang dua bulan lalu sudah diadopsi tapi masih ikut program imunisasi di panti.
“Sudah izin Mommy Laura. Ibunya Kumala ingin Kumala tetap terus diimunisasi di sini saja, ibunya tak ingin pindah karena lebih sreg di sini Dok,” jawab Nengsih.
“Apa tidak merepotkan?” dokter Syahrul bertanya. Karena biasanya ibu asuh langsung memindahkan tempat imunisasi atau berobat anaknya ke lokasi dekat rumahnya.
“Ibunya Kumala bilang biar ikatan batin Kumala selalu terjalin dengan para bundanya di sini,” Nengsih menerangkan alasan ibu adopsi batita Kumala.
Wulan memperhatikan semua kegiatan imunisasi, dia mempelajari semuanya. ‘Andai aku punya uang, aku juga ingin jadi dokter. Tapi hal itu tak akan mungkin. Walau aku mendapat beasiswa sekali pun. Karena beasiswa hanya untuk uang SPP nya saja. Biaya praktik dan diktat kedokteran pasti sangat mahal. Aku harus realistis. Lebih baik aku menjadi bidan saja, tentu uang sehari-harinya tidak semahal kuliah kedokteran,’ pikir Wulan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa
judul cerita CEO DINGIN, KAU MILIKKU penulis AVEEIIII pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya
Cerita ringkasnya seperti ini :
“I Love You Alexander!” teriak Hanum pada pria tampan yang sedang menggiring bola basket saat pertandingan persahabatan di sekolahnya. Kejadian itu membuatnya jadi bahan tertawaan semua siswa di sekolah, karena ia yang kuno dan berpenampilan norak serta tidak menarik, berani menyatakan cinta pada Alexander, seorang pria tampan pewaris perusahaan property terbesar di daerahnya.
“Apa kelebihanmu selain produksi minyak di wajahmu dan tumpukan lemak yang berlebihan?”
“Alexander, aku pastikan semua bayi yang aku lahirkan nanti akan memanggilmu Papa,” tekad Hanum.
Bukan Hanum namanya, jika tidak bisa membuat Alexander Putra, CEO yang dingin bertekuk lutut di hadapannya.