TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
MAS NURUT NYONYA AJA



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


Dengan banyak paksaan, Wulan memilih sepatu, tas dan baju yang August tunjuk. Kalau mukena dan al quran dia tak perlu dipaksa. Giliran make up dia bingung karena tak pernah menggunakan banyak peralatan make up selain hand body, deodorant, minyak wangi, bedak dan lipstik. Dia tak menggunakan aneka peralatan lainnya.


“Cukup ya Mas. Aku enggak pakai yang lain. Bisa-bisa sampai expired benda itu enggak akan aku pakai. ‘Kan mubazir,” Wulan menolak semua yang ditawarkan.


“Ya sudah, kita beli peralatan rumah tangga ya. Rencananya mulai Senin Mas akan tidur di rumah kita. Jadi harus sudah lengkap semuanya,” August pun mengerti calon istrinya memang tak mau dia membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan.


 Yang pertama August beli di mall itu adalah barang elektronik. Dia membeli TV layar lebar, kulkas, mesin cuci, kompor, micro wave, blender, majic jar, setrika serta dispenser.


Sedang Wulan memilih isi dapur seperti panci, wajan, dandang, piring, gelas, lap, sapu, alat pel sampai ke piring saji dan mangkok sayur. Banyak barang yang dia tidak beli ketika belanja untuk pamannya beberapa waktu lalu.


“Saya tunggu semua besok pagi ya,” pinta August saat membawar semua itu. Besok Yudha akan dia suruh standby dirumahnya untuk menerima barang. Sementara dia mengantar dan menjemput Wulan kuliah sekalian mengurus surat ke KUA.


Sekarang tinggal tempat tidur, lemari pakaian dan sofa ruang tamu serta meja makan. Sebelum membeli bahan bahan isi rumah seperti beras hingga sabun.


“Mas. Apa Mas mau isi semua kamar sekalian? Bukan hanya kamar tidur kita aja?” tanya Wulan.


“Mau kamu bagaimana?” August ingin tahu apa kemauan Wulan. Dia sanggup mengisi semua kamar. Tapi takut salah kalau dia langsung membeli untuk semua kamar. Dia ingin selalu diskusi menentukan apa pun dalam rumah tangganya. Dia tak ingin egois. Rumah tangga itu mereka bangun bersama. Bukan dia sendirian.


“Isi kamar utama dulu aja ya Mas. Kamar lain nanti aja,” pinta Wulan.


“Mas nurut Nyonya aja,” sahut August sambil memeluk lembut bahu calon istrinya. Tak lupa dia kecup kening Wulan yang masih agak kaku menerima perlakuannya.


Karena ruang tamu dan kamar utama berwarna cream, maka Wulan dan August sepakat mereka memakai furniture warna asli jati saja. Baik tempat tidur, lemari pakaian, meja makan mau  pun kursi ruang tamu mereka.


Jadi Wulan dan August belum mengisi dua kamar selain kamar utama dan kamar pembantu. “Yank, kalau kamar pembantu segera kita isi ya. Mas enggak mau kamu sendirian saat Mas kerja,” August mengingatkan Wulan soal teman untuk calon istrinya selama dia terbang.


“Kalau Mas terbang, aku nginap di panti aja gimana?” tanya Wulan. Dia sangat nyaman tinggal di panti asuhan itu. Dalam lingkup keluarga besar yang hangat.


“Untuk awal pernikahan kita, kamu masih boleh menginap panti saat Mas kerja. Tapi kalau kandunganmu makin besar, harus dirumah ya?” August menawar permintaan Wulan.


“Justru kalau sudah hamil besar lebih enak dipanti Mas. Banyak orang. Ada mobil dan dekat dengan bidan yang biasa aku periksa dulu,” Wulan menerangkan mengapa dia tetap ingin dipanti.


***


“Mau beli yang lain enggak Honey?” tanya Ilyas. Sejak di arena bermain tadi sosok perempuan yang telah merebut hatinya itu diam seribu bahasa. Namira hanya bicara dan becanda dengan Nindi tanpa mau menjawab perkataannya sama sekali.


“Puas Teh?” tanya Namira pada keponakannya yang sekarang sudah dia anggap sebagai putri sulungnya itu.


“Iyaaaaahh, puas bangeeeet. Besok-besok kesituh lagi ya Bund,” Nindi menjawab dengan napas tersengal karena lelah bermain.


“Boleh. Nanti pas Teteh liburan, atau pas Bunda belanja kesini kita bisa main lagi,” sahut Namira lembut. Dia menggandeng putri kecilnya sambil menggendong Ilham yang tertidur. Tadi Ilyas minta Ilham dia gendong tapi Namira menganggap percuma karena sampai mobil juga harus dia yang pegang Ilham karena Ilyas hanrus nyetir mobil.


“Jangan ngambeg gitu dong,” Ilyas memeluk bahu Namira. Dia berbisik ditelinga perempuan itu. Dia curi mencium pelipis Namira sambil berjalan.


Tapi Namira masih saja diam. “Maafin Ayah dong Bund. Ayah kenapa koq Bunda ngambeg begini?” Ilyas belum sadar mengapa Namira tiba-tiba diam.


“Makan siang dulu ya? Di MCD, biar teteh senang.” Ilyas mencoba mengajak Namira untuk makan siang. Kalau hanya mereka berdua tentu tak akan pilih tempat makan ayam goreng berlogo badut itu.


“Teteh mau makan dirumah atau disini?” tanya Namira. Dia ingin Nindi yang memutuskan.


“Dirumah aja. Teteh mau nonton TV,” jawab Nindi. Hari libur memang Nindi lebih suka nonton aneka film kartun dari TV luar karena dirumah menggunakan parabola. Hanya hari libur dia diperkenankan menonton bebas oleh Namira sang bunda.


Ilyas tak bisa memaksa bila Nindi sudah mengambil keputusan seperti itu. Dengan berat hati dia pun mengikuti Namira menuju lantai parkir dimana mobilnya berada.


“Forgive me please,” kembali Ilyas berbisik saat membukakan Namira pintu mobil. Dia kembali mencuri ciuman dipipi peermpuan itu.


“Enggak usah dipikirin. Ayah enggak salah apa-apa koq,” jawab Namira sebelum dia menundukkan badannya untuk masuk kedalam mobil.


“Sudah Teh?” Ilyas bertanya pada Nindi. Gadis kecil itu sudah duduk manis dikursi belakang. Ilyas mengunci pintu mobil menggunakan central lock.


“Kalau Ayah enggak salah kenapa sejak tadi Bunda diam? Kenapa semua belanjaan Bunda yang bayar?” tanya Ilyas sambil menyetir mobilnya. Dia menyalakan musik anak-anak untuk Nindi.


Sampai rumah Namira tetap diam dan Ilyas tak bisa terus ngotot meminta jawaban karena dimobil ada Nindi. Namira langsung membaringkan Ilham ke box bayi dikamarnya agar ketika si gembul bangun dia tidak jatuh karena jagoannya sekarang mulai bisa maju mundur walau belum merangkak. Masih menarik badannya saja. Seperti ulet kata Nindi.


Tanpa membuang waktu Namira langsung membersihkan diri dan berganti baju rumah. Dia akan segera masak untuk makan siang.


“Lho, koq sudah rapi Bik?” ternyata bibik malah sudah mengatur makan siang dimeja. Ada bening katuk yang dicampur dengan jagung manis dan labu siam. Goreng tempe dan tahu serta tumis jagung muda dicampur rempela ayam dan cabe hijau.


“Hehe, tadi enggak ada orang. Bibik bingung mau apah. Ya sudah masak ajah,” jawab bibik dengan tambahan huruf H dibelakang kata. Kebanyakan suku Sunda memang seperti itu.