TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
TERNYATA FEELINGKU TEPAT



HAIIIIIIIIIIIIIIII


Ketemu di update kedua hari ini, semoga enggak bosan kasih setangkai mawar dan secangkir kopi yaa


SELAMAT  MEMBACA



“Boleh aja,” jawab wak Ganis.


“Kalian boleh ikut Mommy hari Sabtu ke pernikahan om Ilyas,” Laura tentu akan membawa kedua anak Syahrul karena hari Sabtu sekolah mereka libur.


“Boleh ke rumah sakit?” tanya Fahri.


“Kalau kalian mau nunggu sampai jam lima sore enggak apa-apa. Karena diluar jam itu ‘kan kalian enggak bisa masuk kekamar rawat,” jawab Laura. Dia tahu kedua anak ini rindu pada sosok ayah mereka.


***


Pagi ini Laura sengaja mengantar anak-anak sekolah. Semalam dia sudah memberitahu sopir agar sopir tak perlu datang hari Jumat ini.


“Mommy akan ke butik sebentar. Kalau Mommy telat, tunggu sebentar ya,” Laura berpesan pad Fahri dan Nazwa saat mereka turun.


“Ya Mom,” jawab anak-anak. Mereka senang karena mommynya yang mengantar. Laura langsung menuju butiknya. Dia ingin mengambil gaun pilihannya untuk hadiah pernikahan bagi Namira esok.


‘Bik, kalau ada siapa pun, jangan boleh masuk melihat Bapak ya,’ Laura berpesan pada sang bibik. Dia koq punya feeling tak enak meninggalkan Syahrul.


‘Iya Non,’ balas bibik. Tadi Laura sudah menghubungi lewat telepon langsung ke ruang rawat Syahrul. Tak etis bila pesan seperti ini dia sampaikan by chat. Dia meminta jam kunjung siapa pun, dengan alasan apa pun dilarang masuk menengok Syahrul.


Laura juga memberitahu dia meninggalkan rumah sakit karena anak-anak Syahrul membutuhkannya. Semua perawat dan dokter tahu Syahrul punya dua anak yang saat ini tentu juga butuh pendampingan. Semua mengerti dan akan melarang siapa pun masuk tanpa seizin Laura.


Selain mengambil hadiah untuk Namira, tentu saja Laura memperhatikan kinerja para pegawainya. Dia juga menandatangani berkas untuk gajian semua pegawainya. Akhir bulan memang dia rutin melakukan itu baik di butik mau pun di panti asuhan.


Laura memarkir mobilnya di depan sekolah Fahri. Anak ini memang keluar lebih dulu dari Nazwa. ‘Itu bukannya Ida?’ Laura melihat sosok perempuan yang menunggu di gerbang sekolah.


‘Ternyata feelingku tepat. Untung aku sudah berpesan ke petugas rumah sakit.’ Laura meletakkan tasnya. Dia hanya membawa sebuah ponselnya dan segera turun dari mobil lalu menguncinya. Dia tak ingin Fahri terluka bila harus berhadapan dengan Ida.


Sengaja dia tak menemui Ida. Dia akan berteriak memanggil Fahri begitu anak itu terlihat. Bel tanda pelajaran hari ini berakhir. Anak-anak berebut keluar pintu gerbang yang sudah terbuka membuat Ida sedikit menyingkir agar tidak tertabrak anak yang berlarian.


“Adeeeeeeeeeee …,” teriak Laura saat melihat Fahri keluar dari sekolah. Gerbang mulai sepi. Ida tentu saja kaget ketika Fahri berlari melewatinya dan langsung memeluk Laura.


“Capek?” tanya Laura saat Fahri salim pada dirinya. Dia kecup puncak kepala jagoannya itu.


“Enggak lah Mom. Masa sekolah doang capek?” balas Fahri sambil berjalan beriringan menuju mobil Laura.


“Kamu ditungguin ibumu lho Dek. Adek mau temuin dia dulu?” tanya Laura saat mereka sudah duduk dalam mobil.


“Adek liat pas ngelewatin dia. Adek enggak mau ketemu dia,” jawab Fahri.


“Jangan sampai Mommy dengar kalau Mommy yang larang kamu temui dia ya. Mommy enggak pernah nyuruh kalian berbuat seperti itu,” Laura sengaja mengucap kata itu. Orang luar tahunya kan hanya menyalahkan. Tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Mobil dilajukan Laura ke sekolah Nazwa. Barusan gadis kecil itu mengirim chat dia sudah keluar kelas. “Kalian mau makan dimana?” tanya Laura.


“Dirumah makan Padang aja ya Mom. Kangen masakan Padang,” jawab Fahri. Darah Sumatera Baratnya sangat kental. Dibanding Nazwa memang lelaki kecil ini lebih suka makanan khas sukunya.


Laura tak banyak cakap. Dia langsung mencari rumah makan Padang yang besar agar masakannya lengkap. Dirumah makan besar ada dua jenis perlakuan. Yang pertama konsumen memilih apa yang ingin dia makan. Yang kedua rumah makan menyajikan semua jenis yang ada di meja. Kali ini Laura minta opsion kedua. Semua jenis makanan dihidangkan di meja untuk mereka pilih.


“Kak, tadi ada ibu kalian di sekolah Adek,” Laura memberitahu Nazwa perihal kedatangan Ida.


“Adek ketemu?” tanya Nazwa penasaran.


Fahri hanya menjawab dengan gelengan saja. Dia sibuk mengambil lauk gule tunjang. Sedang Laura mengambil gule kepala ikan mas kesukaannya.


“Apa Oma enggak bisa bikin pelaporan kalau dia mengganggu kami?” tanya Nazwa. Dia kesal kalau menghadapi sosok perempuan tak tahu malu itu. Walau dia sadar perempuan itu ibu kandungnya.


“Pasalnya apa ya Kak? Nanti malam Kakak tanya oma aja ya?” Laura sengaja menghindari hal ini. Dia tak ingin Nazwa makin membenci Ida. Tapi Laura juga sadar. Ida terlalu tebal muka. Padahal jelas-jelas anaknya tidak suka karena anak-anak tahu keburukannya, tetap saja perempuan itu ingin anak-anak tinggal dengan dirinya.


“By the way, mengapa kalian enggak mencoba tinggal dengan ibu? Untuk dua tau tiga hari misalnya? Pas week end?” pancing Laura.


“Kalau dia tidak mentelantarkan kami dan sebelum berpisah dengan daddy dia urus kami dengan benar, mungkin Kakak mau ikutin saran Mommy barusan. Tapi Kakak tahu sendiri, sejak Adek ada aja dia enggak peduli pada anak yang masih butuh dekapannya,” Nazwa menhjeda kalimatnya. Gadis kecil itu sedikit meneguk lemon tea miliknya.


“Kalau sekarang kami sudah enggak butuh. Bahkan kalau lapar sekarang kami bisa ceplok telor sendiri. Bukan seperti batita yang buat nyuap makanan aja masih harus dibantu,” jawab Nazwa ketus.


Laura setuju dengan pendapat Nazwa. Ibu yang tega meninggalkan batita yang masih butuh bantuannya, lalu sekarang ketika dia tak bisa punya anak dari suaminya akan mengambil batita yang dia campakkan dulu, tentu saja wajar batita itu tak mau. Apalagi kakak si batita yang melihat ‘kekejaman’ ibu itu.


“Nambah Dek?” tanya Laura.


“Cukup Mom, ini kan tadi sudah nambah,” Fahri nyerah bila harus nambah.


“Kalian ada yang mau dibungkus?” tanya Laura.


“Pengen gule tunjang, sambal ijo, peyek udang dan gule ikan mas bagian kepala Mom,” sahut Fahri.


“Kakak?” tanya Laura.


“Paru dan peyek udang juga deh Mom,” jawab Nazwa.


“Mumpung kita belum pulang, kalian ada yang mau diambil dirumah kalian?” tanya Laura. Kemarin dia meminta satpam lingkungan untuk menyiram pohon dihalaman rumah Syahrul setiap sore.


“Kakak sih enggak,” jawab Nazwa.


“Adek juga enggak Mom,” balas Fahri. Anak ini sudah kekenyangan. Inginnya segera tidur.


“Jadi fix yaa, kita pulang?” tanya Laura.


“Iya Mom,” sahut keduanya. Fahri menerima bungkusan dari server rumah makan saat Laura selesai membayar semua yang mereka habiskan.


“Kak, lihat ini,” Laura memperlihatkan chat yang bibik kirim ke ponselnya.


\==================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta