
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta ***
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Ma, Pa, ini dokter Ilyas. Teman Abang. Dia yang akan bantu Kakak urus Abang pindah ke rumah sakit Kemala. Mama dan Papa urus anak-anak aja,” Laura mengenalkan Ilyas pada kedua orang tuanya.
“Khabari Papa bila ada perkembangan apa pun tentang Abang ya,” pesan Anjas.
“Ya sudah Mama urus cucu-cucu dulu,” jawab Claudia. Dia pun segera bersiap menuju rumah Syahrul. Dia sudah menghubungi ponsel Nazwa dan tahu kalau cucumya sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah.
Ilyas membaca rekam medis Syahrul. Dia juga bicara banyak dengan dokter yang memeriksa Syahrul. Dia langsung menghubungi rumah sakit Kemala menerangkan kondisi Syahrul dan meminta pihak rumah sakit Kemala bersiap menerima kedatangan Syahrul.
“Honey maaf. Lama ya?” dengan lembut Ilyas memeluk Namira yang setia menunggunya di depan ruang IGD.
“Sudah selesai?” tanya Namira sambil mengelus lengan Ilyas dengan penuh kasih.
“Sudah. Sebentar lagi dokter Syahrul dibawa ambulans ke rumah sakit Kemala. Kita langsung pulang aja. Tadi Ayah sudah bilang ke Laura kalau Ayah enggak ikut antar karena cape baru pulang dari Jakarta.” sahut Ilyas.
“Ya sudah, sekarang kita pulang dan biarin aku yang nyetir ya,” pinta Namira.
“Iya sayaaaaaaaaaaank,” jawab Ilyas.
“Tapi kita makan siang dulu ya. Tadi ‘kan niatnya mau makan dirumah. Kalau sekarang ya udah kelaperan. Lagi kamu harus beli ice cream buat teteh lho. Dia bisa ngamuk kalau kamu enggak bawa karena sudah janji,” jawab Namira kembali ceria. Dia lupa akan pertemuannya dengan Wisnu.
“Astagfirullaaah. Iya Ayah janji ama teteh,” jawab Ilyas sambil terkekeh. Sepanjang jalan beberapa kali Ilyas membalas sapaan rekan atau suster yang berpapasan dan memberi salam padanya.
***
Claudia sampai ke rumah Syahrul saat Nazwa baru menutup pintu mobil. Anjas langsung bicara dengan driver dan Claudia masuk menemani dua cucunya.
“Apa Oma akan pulang ke Jakarta sore ini?” tanya Fahri.
“Ditunda sayang. Mungkin dua atau tiga hari lagi baru Oma pulang,” Claudia sedang bingung. Bagaimana dia mengabari keadaan Syahrul pada kedua putra putrinya ini? Bagaimana dia meminta mereka tabah?
Claudia menunggu Anjas masuk. Dia ingin ada teman untuk berbagi berita duka ini.
“Sayang panggilkan bibik, Oma dan Opa mau bicara pada kalian,” akhirnya Claudia memulai bagian tersulit.
Anjas mengambil posisi disebelah Fahri, dia memeluk bahu bujang kecil itu. “Opa dan Oma minta Kakak dan Ade kuat. Kami mencintai kalian apa pun kondisinya dan anak siapa pun kalian,” Claudia menjeda kalimat. Dia harus memilih kata yang tepat agar anak-anak tidak terlalu terguncang.
‘Apa Oma dan Opa akan membatalkan restu untuk Daddy dan Mommy?’ pikir Nazwa cemas. Dia bingung melihat sikap opa dan oma yang seperti ragu untuk berkata-kata.
Nazwa langsung menangis memeluk Claudia yang memang duduk disebelahnya. “Gimana kondisi Daddy?”
“Oma belum tahu lagi. Yang Oma tahu Mommy kalian sedang berupaya urus Daddy pindah ke rumah sakit yang dekat dengan rumah Enin biar kita gampang bolak balik kalau mau nengok. Rumah sakit yang sekarang sangat jauh dan bukan tempat Daddy kalian bekerja,” sahut Claudia.
Setelah cukup lama bertangisan, maka semua sibuk packing. Mereka tak tahu berapa lama harus menginap. Sehingga semua buku dan seragam dibawa. Juga baju rumah dan kebutuhan lainnya. Anjas memberikan uang belanja pada bibik untuk persediaan selama menunggu rumah.
Wak Ganis yang mendapat khabar dari Claudia juga sudah menyiapkan dua kamar dirumahnya untuk tidur Nazwa dan Fahri. Sedang bik Sanah sedang menyiapkan semua kebutuhan Laura. Baju, alat mandi, sandal, make up dan lain-lain yang diminta Laura dan akan diantar oleh suaminya ke rumah sakit.
***
‘Dokter Syahrul kecelakaan dan kondisinya kritis,’ August membaca chat yang Wulan kirim. Dia tak menyangka Laura akan mengalami tragedi seperti ini, setelah dulu calon suaminya meninggal menjelang pernikahannya. August yakin Laura akan drop hingga bisa depresi.
‘Semoga dia bisa segera pulih. Mas enggak bisa bayangkan bila Laura kembali kehilangan calon suami,’ balas August cepat.
‘Ya, bantu doa agar bu Laura tidak kembali terpuruk,’ Wulan mengakhiri chat malam ini karena Auguste sejak tadi menyuruhnya tidur.
***
Pagi-pagi sekali Nadia dan Bayu sudah berangkat dari Bogor ke Bandung. Kebetulan hari Jumat ini Bayu off sehingga dia bisa menjalankan perintah ayahnya yang memintanya untuk menengok sepupu sang ayah yang sedang dirawat di rumah sakit Persada Bandung.
“Nanti kamu tunggu di ruang rawat aja selama aku salat Jumat ya,” Bayu memberitahu Nadia.
“Iya, tapi kan kamu nemuin bibi dulu. Enggak mungkin aku disitu kalau belum kamu kenalin,” jawab Nadia. Dia tak peduli harus menunggu di ruang rawat. Karena sehabis menengok keluarga Bayu, mereka akan ke rumah Namira. Dia dan sahabatnya sudah janjian. Dia tak sabar ingin bertemu dengan Ilham.
Bayu dan Nadia mencari ruang rawat kerabat Bayu. Kerabatnya itu dirawat diruang ICU sehingga hanya anaknya saja yang bisa masuk. Pengunjung hanya bisa bertemu penunggu saja. Bayu bingung karena penunggu kerabatnya tidak dia kenal. Dia bertanya pada perawat. Lalu perawat memberitahu Wiwin sebagai menantu pasien.
“Wiwin?” tanya Nadia, dia ingat Wiwin adalah temannya saat SMP dulu tapi tak pernah akrab dan tak pernah satu kelas. Beda dengan Namira yang memang akrab sejak SMP.
“Iya, kamu Nadia ‘kan?” sahut Wiwin. Dia juga ingat teman satu SMP nya itu. Dan Wiwin tahu Nadia adalah sahabat Namira mantan pacar Wisnu suaminya. Sejak dia tunangan dengan Wisnu dia selalu memantau Wisnu. Dia merasakan sakit melihat Wisnu selalu saja pacaran padahal sudah tunangan dengannya.
“Aku salat Jumat dulu ya Yank,” pamit Bayu. Dia merasa beruntung karena Nadia malah bertemu dengan teman SMP nya jadi tak akan jenuh menunggunya.
“Kamu sudah menikah? Karena pasien katanya mertuamu,” tanya Nadia. Mereka duduk diruang tunggu ICU.
“Aku sudah menikah tiga bulan lalu. Dan sebelumnya kami sudah tunangan selama dua tahun. Aku yakin kamu enggak akan percaya kalau aku katakan siapa suamiku. Anak dari pasien yang Bayu ingin tengok,” balas Wiwin.
“Apa aku kenal suamimu? Siapa?” tanya Nadia penasaran.
“Suamiku itu pacar sahabatmu Namira,” jawab Wiwin sendu.
“Wisnu?” tanya Nadia memastikan.
Wiwin hanya mengangguk.
“Bagaimana bisa? Kamu sudah tunangan sejak dua tahun lebih sebelum kamu menikah. Itu artinya selama ini Wisnu membohongi Namira,” Nadia tak percaya.