TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
SINGA BETINA TERLUKA



“Alhamdulillaaaaaaaaah,” Wulan mengucap beribu syukur. Semua berkas selesai dia dapatkan dari SMA nya. Sekarang dia tak perlu khawatir bila ketahuan hamil. Paling dia akan diejek karena hamil di luar nikah dan tak bersuami. Itu bukan masalah besar baginya. Yang terpenting dia punya ijasah SMA dan kehamilan ini bukan karena dia berbuat nakal. Satu persoalan besar baginya sudah terangkat. Dia sangat bersyukur.


Sekarang hari Kamis. Wulan berpikir tanggung kalau besok dia ke universitas. Dia akan ke universitas hari Senin saja. Sekarang dia refreshing dulu. Dia ingin jajan bakso panas pedes karena sudah tak terbebani masalah sekolah lagi. Dia segera menuju pasar. Disana ada bakso yang mangkal dan dia suka dengan rasa bakso itu.


“Wulan?” sapa seorang lelaki yang baru saja datang ke kios bakso itu.


“Eh kang Jali, beli bakso juga?” tanya Wulan pada teman kerja saat di mini market itu.


“Iya Lan, aku kena giliran belanja makan siang. Kamu tahu ‘kan kebiasan kita dulu,” pria itu menyerahkan secarik kertas pada penjual bakso. Kalau dia hanya berdasarkan ingatan kadang sering salah. Maka dia minta semua pemesan menulis pesanannya agar tak salah.


“Inget lah Kang,” jawab Wulan sambil menerima semangkok bakso yang dia pesan tadi.


“Saya ke warung makan padang dulu ya Lan, beli pesanan teman lainnya,” Jali bergegas meninggalkan kios bakso untuk membeli pesanan nasi, sementara pesanan baksonya dibuatkan oleh penjualnya.


“Kamu sudah lulus Lan?” tanya Jali ketika dia sudah kembali dari warung makan padang.


“Sudah Kang, ini baru saja ambil ijasah dan semua berkas yang sudah dilegalisir,” jawab Wulan sambil meminum teh hangatnya.


“Mau lanjut kuliah atau kerja lagi?” tanya Jali. Jali tahu sejak dulu Wulan sangat ingin terus kuliah.


“Alhamdulillah sudah dapat beasiswa di dua universitas Kang, insya Allah ingin lanjut kuliah,” Wulan membayar bakso yang dia makan bersamaan pesanan Jali juga sudah selesai dibuat.


“Main ke outlet yok Lan, teman-teman kangen padamu,” Jali mengajak Wulan untuk main ke mini market tempatnya dulu bekerja.


“Ayok Kang, sebentar aja yang penting bisa ngumpul. Kalau kelamaan enggak enak dengan karyawan panti lainnya,” Wulan pun menyetujui ajakan Jali untuk bertemu dengan teman-teman lamanya. Dia juga kangen dengan suasana ceria anak ABG, suasana itu tak ditemukannya di panti yang berbeda. Karena karyawan panti yang muda hanya dirinya.


***


Laura baru saja selesai makan siang ketika Syahrul datang ke butiknya. Dia tak mengira Syahrul datang cepat. “Sudah makan?”


“Belum, Abang pikir mau ajak kamu makan diluar,” Syahrul duduk di ruang kerja Laura yang tertata manis.


“Makan ini mau?” Laura membuka nasi ayam lada hitam yang dia beli. Dia memang membeli 3 porsi untuk dirinya, Syahrul dan Nazwa nanti. Dia juga membeli tambahan ayam geprek tanpa nasi.


“Enggak nolak,” Syahrul lalu mencuci tangannya di wastafel. Dan Laura keluar untuk meminta pegawainya membelikan es buah diseberang jalan.


“Ini kalau lauknya kurang,” Laura membuka ayam geprek untuk Syahrul. Dan lelaki gagah itu pun makan dengan lahap.


“Kakak mau apa?” Syahrul bertanya apa maksud Nazwa menghubungi Laura.


“Semalam dia chat, tapi aku bacanya sudah larut jadi baru aku respon pagi tadi. Dia ada tugas bikin makalah dan pengen share sebelum dia buat. Makanya aku minta dia kesini, karena kalau soal itu enggak bisa dibahas by phone,” Laura menjawab sambil membereskan kertas-kertas sketsanya.


“Uwak ada teman yang mau ketemu, jadi dia mbolos teraphy. Dan aku sedang menggebu pengen bikin product baru berupa baju hamil. Jadi enggak sabaran pengen langsung eksekusi,” Laura tetap saja menjawab semua pertanyaan Syahrul. Dia tahu lelaki itu tak ingin bercerita soal mantannya sambil makan karena itu pasti persoalan serius.


“Kamu siap hamil?” goda Syahrul.


“Tentu saja siap bila nanti aku sudah punya suami,” tak terduga jawaban Laura malah mengiyakan. Siapa sih perempuan yang enggak ingin punya anak? Ada! Tapi pasti hanya beberapa gelintir orang saja.


“Kalau begitu kita nikah yok biar kamu segera hamil,” Syahrul langsung menyambar umpan yang Laura berikan tak sengaja itu.


“Yeeeeeee, aku ‘kan enggak bilang pengen segera nikah,” Laura berkelit. Dia sadar telah salah ucap.


Syahrul sedang mencuci tangan saat seorang pegawai mengetuk pintu ruang kerja Laura. Setelah disuruh masuk sang pegawai meletakkan dua gelas besar juice alpokat permintaan Laura. “Yang lain taruh kulkas dulu aja Na, nanti saat kak Nazwa datang baru kamau siapkan ya?” pinta Laura. Dia sudah menyiapkan makan dan juice untuk Nazwa sore nanti.


“Sekarang Abang cerita, semalam katanya mau bicara,” Laura duduk di sofa seberang Syahrul.


“Waktu Abang bertemu Rido di hotel Crown, dia cerita alasan kenapa Ida ngotot minta anak-anak ikut dia. Ida habis kena musibah. Anaknya meninggal dan suaminya cacat karena tak bisa membuahinya lagi. Itu sebabnya dia butuh Nazwa dan Fahri,” Syahrul hanya memberi garis besarnya saja. Dia yakin Laura tak ingin tahu alasan kejadian itu.


“Trus maksud Abang bilang bimbang ‘tu gimana? Abang kasihan ama mantan dan mau nyuruh anak-anak ikut dia gitu? Kalau itu yang Abang lakukan, aku enggak akan kenal Abang selamanya!” Laura langsung emosi.


Dia tak percaya Syahrul akan kasihan karena nasib buruk yang dialami mantannya. Sebagai sesama perempuan tentu Laura juga simpati terhadap nasib buruk Ida. Tapi sebagai orang tua dia tak akan memperbolehkan anak-anaknya sakit hati atau menderita karena harus hidup dengan tekanan batin bersama ibu kandungnya.


Syahrul terhenyak melihat reaksi Laura yang seakan terluka. Syahrul melihat Laura seperti singa betina yang marah karena anaknya terusik. Dia tahu Laura menyayangi nak-anaknya, tapi tak menyangka akan reaksi yang dibuat perempuan itu. Syahrul bangkit dari duduknya dan segera merengkuh bahu perempuan yang sedang sangat marah itu. “Please jangan marah. Abang hanya bimbang, belum memutuskan. Dan Abang enggak akan membolehkan anak-anak hidup dengan Ida. Hanya berpikir anak-anak sesekali menginap di rumah Ida. Itu saja!”


Laura masih bergeming. Dia tak mau mendengar apa pun alasan Syahrul. Bukan dia cemburu pada Ida atau takut anak-anak berpaling dari dirinya. Tapi dia tak ingin anak-anak tertekan karena mereka tak ingin bertemu dengan Ida lagi apalagi harus tinggal dengan Ida walau hanya menginap sementara.


Untuk Laura kondisi psikis anak-anak adalah nomor satu.”Honey please maafin Abang,” Syahrul merengek karena melihat Laura sangat marah padanya. Wajah marah dan terluka milik gadis yang dia kasihi belum pernah dia lihat sebelumnya.


Tanpa sadar Syahrul  memeluk Laura dalam dekapannya. Dia menciumi puncak kepala gadis itu. “Please maafin Abang ya. Abang enggak akan nyuruh anak-anak. Abang janji.”


\=============================================================================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Yanktie tunggu komen manisnya yaaa


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta