TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
GANTIAN DONG DEK?



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Selama Abang belum pulih, Abang tinggal di rumah uwak. Tadi aku sudah minta disiapkan kamar. Tapi kalau Abang mau pulang ke rumah Abang. Aku yang akan menginap disana. Jangan suka berburuk sangka,” Laura memeluk Syahrul. Laura sadar lelaki ini masih rapuh dan takut ditinggal.


“Serius?” tanya Syahrul tak percaya.


“Apa istrimu ini tukang bohong?” goda Laura. Dia ingin Syahrul selalu dalam kehangatan cinta dan bisa percaya diri lagi seperti sebelum kecelakaan.


Syahrul mengecup kening Laura dengan lembut. Dia sangat bersyukur Laura tak berpaling darinya saat dia terpuruk seperti sekarang. Entah apa jadinya anak-anak selama dia koma bila dia tak memiliki cinta gadis ini.


“Terima kasih cintaku,” ucap Syahrul dengan kesungguhan hati.


“Mulai hari ini Abang harus ubah semua pikiran buruk tentang aku. Semua kita diskusiin ya. Kalau nanti kita sudah resmi, aku enggak mau kita salah paham pada sesuatu hal yang enggak jelas,” pinta Laura. Dia berkaca pada mama dan papanya yang selalu menyelesaikan semua hal dengan komunikasi yang baik.


“Iya. Abang janji akan selalu berpikir baik. Dan juga akan selalu mendiskusikan semua hal denganmu,” sahut Syahrul. Dia ingat kegagalan rumah tangganya memang selain perselingkuhan Ida, mereka sejak awal tidak terbiasa saling terbuka satu sama lain.


“Inget Bang. Kita punya anak-anak. Mereka makin besar akan melihat contoh yang kita lakukan. Dan nanti dari sikap mereka kita akan banyak pertentangan karena kita akan mengambil keputusan yang berbeda. Itu memicu keributan bila kita tidak saling terbuka untuk mencari penyelesaian,” Laura memberitahu pandangannya.


“Kamu tu belum pernah berumah tangga. Tapi koq sok tahu gitu sih,” Syahrul malah bingung diajari oleh anak gadis yang dia sukai ini.


“Aku belajar dari mama, papa, mami dan papinya Tommy juga uwak Ganis. Mereka selalu bisa memberi contoh saat ada persoalan,” sahut Laura.


“Salat Ashar yok,” ajak Syahrul. Dia sekarang salat sambil duduk di kursi roda. Tidak dikasur lagi dan sudah bisa wudhu di kamar mandi tidak tayamum lagi.


***


“De, Mommy bilang tiga hari lagi Daddy sudah boleh pulang dari rumah sakit,” Nazwa memberitahu Fajri tentang rencana kepulangan ayah mereka.


“Kita pulang ke rumah kita atau daddy tinggal dulu dirumah enin Kak?” tanya Fajri. Dia sungguh sangat suka tinggal di lingkungan rumah Laura. Dan dia suka memperhatikan bati-bayi di panti asuhan juga.


“Mommy belum cerita. Dan Kakak enggak berani tanya lewat chat. Nanti dirumah enin kita lihat aja bagaimana situasinya,” sahut Nazwa sambil bersiap menjawab chat Laura.


***


Pagi ini Namira akan mengantar Nindi sekolah lalu mengantar Syahrul. Dan sehabis itu dia akan mengantar Almira dan Misah mengambil semua barang milik kakaknya. Nanti keduanya pulang ke Bogor dari rumahnya. Jadi sekarang Misah dan Almi ikut mobil. Mereka juga membawa Ilham agar nanti bibik bisa menjemput Nindi dengan motor.


Itu hasil pembicaraan mereka semalam. Niatnya Misah dan Almi akan menginap dua malam lagi di rumah Namira.


“Ayah serius enggak apa-apa nanti pulang naik taksi? Atau nanti Bunda jemput aja gimana?” Namira tak enak saat sehabis salat Subuh tadi Ilyas bilang Namira gunakan saja mobil. Karena semalam niatnya mereka akan naik taksi bertiga dan membawa Ilham ke rumah Ningrum.


“Everything for you Honey. Jangan suka seperti itu. Tidak setiap hari kan kamu pakai mobil. Ayah enggak mau dede kepanasan nunggu taksi. Pakai aja mobil kita. Ayah gampang pulang dengan ojol atau taksi,” jawab Ilyas sambil mengecup bibir istrinya selintas. Karena Namira sedang memberi ASI pada Ilham.


“Gantian dong De,” goda Ilyas yang meilhat Ilham sangat lahap menyedot ASI.


“Ih … Ayah tuh suka ambil jatah ade ya De?” Namira malah menjawab permintaan Ilyas barusan.


“Ha ha ha. Kalau begitu Dede stop ASI biar enggak gantian,” Ilyas malah lebih nakal dan mau menang sendiri.


“Ni sudah Yah. Bunda mau bikin sarapan,” Namira memberikan Ilham yang sudah selesai minum ASI pada suaminya.


“Oke, kita ke taman menghirup udara pagi ya. Biar Bunda siapin sarapan Ayah dan Teteh dulu,” Ilyas tak keberatan. Karena memang itu tugasnya setiap pagi bila putranya bangun.


Misah sudah ada di dapur. Dia sedang menggoreng emping. Dan bik Iyah sedang membuat bubur ayam.


“Sambal kacang untuk bubur sudah Bik?” tanya Namira. Ilyas paling suka sambal khas bubur ayam itu.


“Sudah kemaren Non. Tinggal dicairin aja sesuai kebutuhan,” sahut bik Iyah.


“Nanti kitaa bikin lumpia pakai sambal itu enak ya Bi. Ingatkan aku beli kulit lumpia depan sekolah Nindi ya.” Namira bicara pada Misah.


“Atuh kulit lumpia saya aja yang beli pas ngejemput Neng Nindi. Saya bikin juga aja lumpianya. Mau yang isi apa Non?” tanya bik Iyah.


“Yang kaya di tukang gorengan keliling aja Bik. Cuma isi bihun. Kayak jajanan di gorengan pasar aja,” sahut Namira.


“Beli kulitnya agak banyakan Bik. Pengen bikin martabak telor juga. Nanti saya kasih catatannya biar malam kita pesta martabak telor rumahan aja,” Namira malah terpikir menu lain saat ingat kulit lumpia.


Akhirnya semua selesai sarapan dan siap berangkat. Almi kembali memperhatikan bagaimana Ilyas memperhatikan putri kandungnya.


“Semua buku enggak salah jadwal kan Teh? Buku PR sudah dibawa? Air minum dan bekal?” tanya Ilyas.


“Udah semua Yah. Yang belum buku menabung. Kemarin habis ada apa gitu ama ibu guru. Jadi belum dibalikin ke Teteh. Jadi hari ini enggak usah dikasih uang tabungan,” sahut Nindi.


“Oh iya kan akhir bulan. Biasa bu Guru ngerekap buku tabungan satu kelas Yah,” Namira memberitahu Ilyas.


“Hari ini bekalnya apa?” tanya Ilyas detil.


“Biasa aja bento sama snack nya dia minta puding,” jawab Namira. Setiap pagi memang Namira akan membuat berbagai bentuk lucu untuk bekal Nindi ke sekolah. Di sekolah itu tak boleh jajan. Tak ada kantin di sekolah dan gerbang dikunci sehingga siswa yang tak bawa bekal akan kelaparan. Atau mereka bisa jajan sepulang sekolah diluar pagar sekolah.


Itu sebabnya donat dan risol Namira laris karena para ibu tinggal memasukkan risol, puding  atau donut ke kotak bekal anak-anak sebelum mereka masuk sekolah.


“Ya sudah, ayo kita berangkat,” ajak Ilyas. Sementara hingga rumah sakit dia yang akan mengendarai mobil. Nanti baru Namira yang bawa setelah dia turun.


“Pamit ya Bik. Jangan telat ngejemput Nindi dan jangan lupa belanjaannya,” Namira pamit pada bik Iyah.


\=========================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta