TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
APA DIA BELUM PERNAH MELAKUKAN SEBELUMNYA?



Bertemu lagi dengan update bab ke dua untuk hari ini


Semoga tak membuat bosan


SELAMAT MEMBACA



“Ha ha ha, iya nanti gue cerita kalau gue masuk kerja. Gue cuti nikah resmi koq. Jadi gue baru bakal masuk kerja dua minggu lagi,” sahut August dengan bahagia. “Lu cek aja ke Paulus HRD. Gue beneran ajuin cuti menikah.”


“Selamat ya Gust. Dan entah harus berapa kali gue minta maaf ke elo karena kasus itu,” Anggraeni istri Bima berbisik pada August. Dia selalu merasa bersalah karena membuat pertunangan August dan Yulia berantakan karena ulah temannya.


“Udah, gue udah lupain. Dan kalau itu enggak terjadi, gue enggak akan ketemu bini gue sekarang,” jawab August bijaksana.


“Selamat yo Mas. Semoga langgeng dan bahagia,” Laura mengucapkan kata selamat untuk August.


“Lho koq kesini. Yang jaga Abang siapa?” tanya August kaget. Karena sepengetahuannya Laura tak pernah pulang. Selalu tidur di rumah sakit.


“Abang dijaga bibik. Habis ini aku langsung balik ke rumah sakit koq,” jawab Laura.


“Selamat ya Lan. Semoga kamu selalu bahagia,” Laura mengecup pipi pengantin perempuan yang terlihat sangat cantik dan manglingi ( membuat pangling ) karena polesan MUA profesional memang sangat merubah penampilannya.


“Terima kasih Bu. Terima kasih sudah mau menampung saya. Terima kasih memberi saya kesempatan kuliah dan terima kasih hadiah pernikahannya,” Wulan hampir tak bisa berkata-kata menjawab ucapan selamat dari dewi penolongnya ini.


“Tak perlu kamu ungkit. Itu semua jalan dari Allah,” sahut Laura bijak.


***


Para tamu dan team penghulu sudah pulang sejak tadi. Sekarang petugas cattering sedang membereskan barang mereka. Sisa makanan tentu tidak boleh mereka bawa pulang karena sudah dibayar oleh pemilik rumah. Petugas memindah sisa makanan ke wadah sterofoam besar dan plastik yang memang mereka bawa lalu diatur di meja makan milik Wulan. Meja milik mereka langsung mereka bongkar.


“Sweety, malam ini kita tidur di hotel ya. Barang-barangmu juga masih disana ’kan?” bisik August. Wulan juga sadar keluarga August masih di Bandung. Tak mungkin suaminya memisahkan diri sendiri disini.


“Iya Mas. Tapi kita beberes dulu sebentar baru berangkat ke hotel ya?” jawab Wulan lirih.


“Iya lah. Anak-anak team foto juga kan masih disini. Enggak mungkin kita tinggal mereka,” jawab August.


“Gust, kami pamit dulu ya,” Oma sebagai ketua rombongan pamit pada cucunya.


“Iya Oma. Nanti kalau anak-anak sudah pulang ke Jakarta kami nyusul ke hotel,” jawab August. Wulan sedang dikamar mandi.


“Wulan kemana?” tanya Nenden.


“Ke toilet Mi,” balas August. “Tunggu sebentar ya.”


Akhirnya rombongan keluarga termasuk paklek pulang ke hotel. Motor paklek memang ada dihotel.


“Paklek, nanti pulangnya tunggu aku sampe hotel ya,” pinta Wulan tadi sebelum pakleknya keluar rumah.


***


“Kamu ganti baju aja, rumah enggak usah kamu pikirin. Sebentar aja beres dan rapih koq,” August memerintah istrinya masuk kamar. Dia tahu Wulan tak mungkin dia melihat rumah kotor dan berantakan seperti sekarang.


“Ya wis, aku mandi dulu ya Mas,” sejak tadi Wulan memang ingin membasuh diri. Kulitnya serasa lengket dan dia belum salat dzuhur. Dia langsung masuk kamar dan mencari koper miliknya. Dia ambil baju santainya serta handuk lalu dia bawa ke kamar mandi.


Rombongan team fotography yang semua karyawan August lalu langsung membereskan dan membersihkan rumah dibawah komando Farhan. Tak mungkin August membersihkan sendirian karena Wulan sedang hamil.


August masuk kamarnya. Dia lihat Wulan sedang salat. Dia pun sadar dia lupa belum salat. Dia ambil baju ganti. Handuk miliknya sudah ada di kamar mandi.


“Kamu salat enggak nungguin Mas,” August protes karena Wulan salat sendirian.


“Aku pikir Mas masih diluar. Maaf,” balas Wulan sambil melipat mukenanya.


“Mas mau kopi sehabis salat nanti?” tanya Wulan. Dia bersiap keluar kamar.


“Enggak. Masih kenyang,” August lalu segera mendirikan salat yang waktunyaa hampir habis.


Wulan kaget. Rumah sudah rapi dan bersih saat dia keluar kamar. “Kang Yudha, ajak teman-temannya makan lagi,” Wulan hanya mengenal Yudha, jadi hanya nama itu yang dia sebut. Farhan memang pernah dia lihat ketika proses lamaran. Tapi dia tak mengenalnya.


“Sudah Bu, kami masih kenyang,” Yudha mewakili teman-temannya yang sedang menggulung kabel juga membereskan peralatan mereka.


Wulan melihat masih banyak makanan. Dia mengambil plastik yang memang entah mengapa dia beli beberapa ikat dan beberapa size saat belanja bahan dapur. Dia bungkus makanan dalam jumlah satu porsi lalu dia masukkan freezer. Sehingga bila dia butuh hanya mengeluarkan sesuai kebutuhan. ‘Aku harus membeli beberapa mika atau plastik penyimpan makanan untuk di freezer, sehingga terlihat rapi. Tapi untuk sejarang plastik ini lumayan membantu. Dari pada makanan sebanyak ini terbuang mubazir.


“Bos, kami sudah siap pamit,” Farhan melihat August yang baru keluar kamar langsung akan pamit karena tahu August ditunggu keluarganya di hotel.


“Oke. Makasih bangeeeet bantuannya,” balas August. Walau mereka semua dibayar olehnya seperti saat menerima order dari konsumen. Tetap saja dia menyampaikan terima kasih. August memang profesional. Untuk order ini dia tetap membayar semua sesuai dengan tarif normal.


“Bu, kami pamit dulu,” Farhan mewakili teamnya mohon pamit pada Wulan.


“Iya terima kasih banyak,” balas Wulan.


“Kami yang terima kasih Bu. Bos walau kami kerja diperusahaannya tetap membayar seperti kami ini bukan karyawannya aja,” sahut Farhan. Wulan langsung memandang suaminya bingung. Dan August hanya merengkuh pundak istrinya. Farhan tak tahu kalau Wulan belum mengenal August seutuhnya.


***


Sekarang tinggal mereka berdua. Wulan sudah membereskan semua makanan. Ada yang ditaruh di freezer, tapi ada yang hanya ditaruh dikulkas bagian bawah saja. Dia menyiapkan beberapa lauk untuk pakleknya. Juga nasi. Semoga paklek bisa menghangatkannya untuk makan esok hari. Karena dia yakin malam ini mereka masih akan makan malam dihotel.


Masih banyak botol besar minuman bersoda yang belum dibuka. Wulan menyiapkan Fantaa, Spritee dan Coca colaa masing-masih satu botol untuk dia berikan ke pakleknya juga.


“Kita mau berangkat kapan Mas?” tanya Wulan.


“Mas mau cium istri Mas dulu boleh?” jawab August. Sejak pagi dia sangat ingin melakukannya. Sejak kemarin dia kangen pada sosok perempuan yang sekarang sudah resmi jadi istrinya. Dia mendekati Wulan dan memeluk lembut tubuh yang terasa gemetaran itu.


“Bo … boleh,” jawab Wulan terbata. Dia memang hamil, tapi dia belum pernah pacaran. Sehingga dia belum pernah berciuman dengan kesadaran sendiri.


August mendaratkan bibirnya, dia ***** perlahan. Dan dia merasakan tak ada balasan apa pun. ‘Apa dia belum pernah melakukan sebelumnya?’


================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta