
“Iya, pengen aja liat anak-anak di sana,” August menjawab sambil menyesap cappucino panasnya. “Ikut seminar tentang apa?” tanya August.
“Pengembangan bisnis mode,” jawab Laura.
“Lho, kirain tentang anak atau apa yang berkaitan dengan panti,” August tidak tahu kalau profesi asli Laura adalah designer.
“Hehe, bisnisku butik dan aku suka ngegambar pola,” sahut Laura. Dia merasa nyaman ngobrol dengan August.
“Wooow, aku baru tahu,” tanpa sadar mereka sudah ber aku kamu.
“Ada butik kecil di Bandung. Lumayan hasilnya bisa buat beli su5u anak-anak secara rutin. Karena kalau hanya mengandalkan uang dari donatur, anak-anak bisa kesulitan su5u,” Laura menjelaskan kalau pantinya tidak berjalan hanya dari hasil sumbangan semata.
‘Gilaaaa, perempuan lajang seusia dia malah menjadi ibu asuh puluhan bayi dengan hasil keringatnya sendiri. Sedang aku malah membuang uang untuk para perempuan yang tidak mengenal kasih pada sesama sama sekali. Perempuan yang dekat denganku selain Julia hanya berpikir belanja kosmetik dan barang branded saja.’ August tentu langsung menilai betapa mulianya gadis di depannya. Sangat berbeda dengan semua mantannya kecuali Julia. August berjanji akan sering mengirim uang pada yayasan Laura. Dia merasa tertampar dengan kata-kata Laura barusan.
Sampai hampir tengah malam mereka di sana. Sebelum pulang mereka saling membuatkan foto untuk dimasukkan di media sosial mereka. Jadi Laura membuat foto August dengan ponsel lelaki itu. Dan August membuat foto Laura dengan ponsel milik Laura sendiri. Pemandangan malam dari bukit Dago memang sangat indah.
***
Syahrul pov
’Dia ke Dago dengan siapa sampai tengah malam seperti ini?’ aku melihat postingan Laura di media sosial gadis itu. Foto dirinya dari belakang dengan latar belakang kota Bandung dari atas, lalu dia juga mengunggah foto dua cup coffee dan nama sebuah cafe di Dago. Sejak Faiza pulang, aku coba hubungi ponsel Laura. Tapi ternyata nomorku sudah diblokirnya. Tak ada pesanku yang masuk apalagi telepon. Aku yakin dia kecewa padaku melihat ada perempuan sampah itu berada di rumahku saat Laura datang.
‘Perempuan sampah’? Kenapa aku bisa mengatakan seperti itu? Perempuan itu adalah perempuan yang direkomendasikan oleh ibu tiriku 2 minggu lalu. Namanya Faiza Umiyati. Perempuan yang sekampung dengan orang tuaku di Sumatera Barat sana.
Aku sudah menolak usulan ibuku, tapi dia memaksa berkenalan terlebih dulu. ‘Kalau tak berjodoh tidak apa-apa,’ demikian pesan ibuku. Lalu minggu lalu aku pun setuju bertemu. Kubawa Nazwa dan Fahri dipertemuan pertama itu. Di situ aku langsung tak suka pada Faiza. Dia yang tahu aku duda beranak dua hanya fokus pada diriku tanpa menggubris anak-anakku. Mereka tidak disapa apalagi diambil hatinya agar senang pada calon ibu sambung. Jelas saja Nazwa langsung cemberut terlebih dengan beraninya Faiza bergelayut manja di lenganku saat kami menuju cafe tempat makan siang. Faiza membiarkan kedua anakku berjalan dibelakang mengikuti kami. Sangat berbeda jauh dengan Laura yang lebih mementingkan anak-anakku bila kami sedang bertemu ber 4.
Sesudah perkenalan itu maka hidupku bagai di neraka. Setiap hari Faiza datang ke rumah sakit tempat aku bekerja, mengganggu waktu kerjaku. Tadi aku tidak praktek, dari rumah sakit aku langsung pulang karena sejak semalam Nazwa demam. Saat aku di rumah, Faiza langsung datang ke rumah. Entah dia dapat alamat rumahku dari siapa.
“Kenapa enggak datang praktik Da?” tanyanya saat bertemu di ruang tamuku. Dia memanggilku UDA, panggilan untuk lelaki yang lebih tua di kampungku. Tak ada salam yang dia ucap layaknya sesama muslim. Apalagi kami dari Sumatera Barat sangat kuat agamanya.
“Anakku sakit,” balasku malas. Silakan diminum,” aku menawarkan sirop yang disediakan maid ku untuknya. Lalu aku berjalan kembali ke kamar Nazwa. Gadisku sedang tak mau bicara denganku sejak 2 hari lalu. Terlebih barusan dia mendengar ada Faiza di rumah ini. Nazwa makin kesal saja. Ternyata Faiza menyusulku ke kamar Nazwa. Namun hanya bergelayut di lenganku tanpa menyapa Nazwa! Entah apa yang ada dipikiran perempuan bebal ini.
“Assalamu’alaykum,” suara merdu yang selalu aku rindu terdengar di pintu kamar anakku.
Kulihat putriku sangat bahagia melihat kedatangannya. “Thank’s for coming. I really miss you Mom,” perempuan yang kukasihi langsung duduk di ranjang dan memeluk Nazwa dengan cinta kasihnya. Sedang sejak tadi Faiza datang menyusulku ke kamar Nazwa tanpa menyapa anak gadisku. Faiza hanya menghampiriku.
“Princess Mommy sakit apa?” kudengar Laura bertanya lembut lembut sambil membelai pipi Nazwa.
“Cuma demam aja Mom, kemarin siang aku kepeleset dan jatuh di kolam ikan sekolah,” sahut Nazwa lirih. Aku tak tahu apa yang dibisikkan Laura pada gadis kecilku. Tak berapa lama kulihat Nazwa terisak dalam pelukan Laura. Aku mengajak Fahri dan Faiza keluar dari kamar Nazwa. Aku tahu kedua perempuan yang aku kasihi itu ingin bertukar cerita tanpa ada yang mengganggu.
Di bawah, Faiza langsung memerintah maid untuk mengatur makan malam bagi dirinya. Perempuan ini sudah keterlaluan. Baru pertama kali datang ke rumah sudah berani memerintah orang yang tidak bekerja padanya. Aku sangat kecewa terhadap pilihan ibu tiriku. Aku tidak tahu ada maksud apa ibuku mengirim makhluk ini. Aku akan mencari cara untuk menendangnya dari sisiku.
Dan kembali Faiza bertindak hal yang sangat aku benci. Dia mengajakku makan tanpa mengajak anak-anakku. Tapi saat ini aku juga malas memanggil anak-anak. Aku tak mau mereka terluka. Aku akan membiarkan dulu semua tingkah Faiza sampai aku punya peluru yang siap untuk memusnahkannya dari hidupku. Aku tercekat ketika melihat Laura turun bergandengan dengan Nazwa saat kami hendak makan. Aku yakin Laura terluka melihat aku tak peduli akan anak-anakku. Pasti dia mengira aku sudah berubah tak waras sehingga meninggalkan anak-anakku.
‘“Kamu duduk dulu, Mommy siapkan makanmu ya,” tanpa menyapa padaku atau Faiza, Laura menyiapkan makanan untuk putri kecilku. Ku dengar Laura bicara dengan sopan pada maidku untuk memanggil putra bungsuku.
“Kamu sudah makan?” tanya Laura manis saat Fahri datang menghampirinya.
“Belum Mom,” jawab Fahri sambil menggeleng. Melihat itu Laura membuang tatapan tajam padaku. Aku tahu dia sangat marah aku mengabaikan anak-anakku.
“Makan bareng Kakak ya, sini Mommy ambilkan,” Laura langsung mengambilkan Fahri nasi dan sayur serta ayam goreng.
“Mommy enggak makan?” tanya Fahri.
“Mommy cukup kenyang melihat kalian makan,” jawab Laura sambil tersenyum manis. Sesudah selesai makan, Faiza langsung ke ruang depan, tak peduli padaku yang tidak makan apa pun melihat tingkahnya. Ku lihat Laura bergegas ke dapur, entah apa yang dibuatnya. Tadi dia meminta Nazwa segera ke kamar selesai makan.
“Maaf, saya pamit. Assalamu’alaykum,” Laura menyodorkan tangannya untuk pamit. Ku genggam agak erat jemarinya, tapi dia tak peduli dan langsung keluar rumah ditemani Fahri. Masih kulihat dekap erat mereka dan Laura mengecup pipi Fahri dengan lembut. Dan hebatnya Faiza tak peduli akan siapa sosok yang dekat dengan anak-anakku. Tak ada rasa ingin tahu atau cemburu. Kalau dia memang menginginkan aku menjadi suaminya, walau tak peduli dengan anak-anakku. Seharusnya kan dia cemburu ada perempuan lain yang datang ke rumahku. Aku tak tahu apa motivasi Faiza mendekatiku dan juga apa maksud ibu tiriku menjodohkan dengan perempuan jadi-jadian ini.
=========================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta