TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KENAPA ENGGAK LANGSUNG DIHALALIN?



***YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.  Jangan lupa tinggalin komen manisnya  ***


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Kamu sehat?” tanya Novia pada Namira.


“Alhamdulillah sehat Bu,” jawab Namira pelan.


“Kita langsung makan aja yok, sudah waktunya makan. Tadi Teteh sengaja tunda makan malam biar bisa makan bareng kalian,” Novia mengajak semua langsung makan. Bik Iyah dan kakaknya sudah mengatur meja, dengan lauk tambahan yang Ilyas beli.


“Sini kasep sama Enin. Biar Ayah dan Bunda makan dulu,” bik Iyah mengajak Ilham. Tapi rupanya Ilham sedang ngambeg karena ditinggal Ilham turun beli lauk tanpa pamit tadi. Dia tak mau dengan bik Iyah.


“Sini sayang, sama ibu yok?” ajak Namira dengan lembut.


“Bunda Honey, Bunda bukan Ibu,” bisik Ilyas pada Namira.


“Ayah makan duluan aja, biar Ilham aku beri ASI lagi,” Namira sengaja menghindar makan malam bersama dengan Novia.


“Kita makan bareng, beri Ilham teether ( mainan bayi untuk perangsang gigi ), biar Ayah pangku dia. Jangan lupa Bunda ambil gendongan punggung miliknya,” Ilyas menolak memberikan Ilham pada Namira. Terpaksa perempuan itu masuk ke kamar mengambil dua barang yang diminta Ilyas barusan.


 “Maaf, aku makan sambil mangku Ilham. Tadi dia marah karena aku turun mobil tidak pamit,” Ilyas mengggendong Ilham didadanya menghadap kedepan dan ditangan bayi itu ada teether.


Namira jadi serba salah. Tapi itu memang diluar kendalinya. “Bagaimana bila malam? Apa dia rewel?” tanya Novia.


“Kalau aku libur, Ilham sering aku bawa tidur denganku,” jawab Ilyas.


“Kenapa enggak langsung dihalalin. Biar kalian bisa tidur bersama?” Kusdi langsung pada pokok persoalan.


Namira tercekat, dia sampai tersedak mendengar kata-kata Kusdi barusan. Dan dengan manis Ilyas memberi gelas berisi air putih untuk Namira.


“Abdi hoyong kitu A’. Geura kawin. Manehna karek narima cinta kuring he kakara tadi sore,” jawab Ilyas, membuat Namira makin serba salah. ( Abdi hoyong sapertos kitu \= maunya saya seperti itu…. geura kawin \= segera menikah…. manehna karek narima cinta kuring he kakara tadi sore \= dia baru menerima cintaku saja tadi sore ).


“Sudah, jangan bikin Namira serba salah,” Novia meminta suami dan adiknya berhenti. Dia tahu Namira serba salah.


“A’a mau nambah?” Namira menyodorkan lauk pada Gilang. Dia berupaya membuang kekakuan.


“Cekap Bibi,” sahut Gilang sopan. ( cekap \= cukup ).


“Kamu seriusan nginap ‘kan?” tanya Novia.


“Muhun. Besok Ira mau ke kampus buat urus surat pindah dan nilai-nilainya. Biar dia bisa lanjut kuliah khusus pegawai di Bandung,” Ilyas menjawab pertanyaan Novia.


“Kenapa enggak kuliah reguler saja? Kan Ilham bisa dijaga bik Iyah?” tanya Novia.


“Tidak Bu, saya tidak mau merepotkan,” jawab Namira sambil menunduk.


“Tuh dengar Teh, dia bahkan tidak mau aku yang bayar kuliahnya karena dia bilang tabungannya belum cukup. Dan Teteh tahu, dia cari uang sendiri untuk tabungan sekolah Ilham nanti,” jelas Ilyas. Dia memegang kepala Ilham yang mulai terjatuh karena ngantuk.


“Kamu kerja Ra?” tanya Novia kagum.


“Enggak Bu, saya jualan kue frozen,” jawab Namira.


“Wah kamu hebat banget, Teteh salut sama kamu. Punya tekad maju dan berpikir jauh kedepan,” Novia tidak marah malah kagum pada Namira. Dia baru mendengar soal Namira yang cari uang sendiri. Perempuan lain pasti banyak yang tinggal enak-enak diberi tumpangan hidup gratis seperti Namira saat ini.


‘Ilyas tidak salah pilih,’ Novia dan Kusdi berpikiran sama tentang Namira.


***


“Ada destinasi yang mau kamu usulkan?” tanya August saat dia dan Laura keluar dari panti asuhan.


“Mas August lapar banget enggak?” tanya Laura.


“Kenapa?” balas August bingung.


“Kalau lapar banget, kita cari makan daerah sini. Kalau masih bisa ditahan, kita kearah Bandung aja. Tapi enggak perlu sampai Bandung juga. Kejauhan!” jawab Laura.


“Ya sudah, kearah Bandung aja ya,” sahut August sambil melajukan mobilnya sesuai yang mereka sepakati. Lalu mereka bercerita banyak hal sepanjang perjalanan. Laura bercerita selintas tentang kasus pencurian yang persidangannya akan dimulai esok hari. Dan August bercerita tentang proses kerjanya yang banyak orang awam tak tahu. Mereka klop dalam bertukar cerita.


“Enggak lah. Ada ketentuannya. Kalau tak ada jalur, ya bisa aja tiap menit ada tabrakan di udara,” jawab August.


“Nah disitu aja,” Laura memandu August untuk berhenti di sebuah rumah makan keluarga yang cukup besar. Apik, bersih dan sangat asri. Laura tahu makanan disini sedikit lebih mahal dari resto sejenis, tapi soal rasa memang tak ada banding. Sehingga biar terhitung lebih mahal, tetap saja resto ini ramai.


Laura dan August memesan aneka lauk serta juice. Nasi tak perlu dipesan karena nasi sudah free dalam satu ceting kecil ( ceting \= tempat nasi dari bambu ). “Cukup?” tanya Laura. Dia hanya memesan lauk satu porsi setiap jenis yang disebut August.


“Lho …, kamu enggak pesan lauk?” tanya August.


“Mas udah pesan beberapa jenis lauk. Aku nanti ambil dari situ aja, kalau aku pesan sendiri nanti kebanyakan,” jawab Laura.


“Mas harus sedikit sabar ya, lauk disini beberapa dibuat ngedadak. Jadi butuh waktu buat prosesnya,” Laura memberitahu August saat dua gelas juice pesanan mereka tiba.


***


Syahrul mengajak kedua anaknya untuk makan siang disebuah rumah makan sehabis mereka hunting sepatu boot permintaan Fahri. Sepatu boot yang akan mereka gunakan ke kebun Laura hari Sabtu depan.


“Mommy …, Fahri langsung berlari kesudut rumah makan saat melihat Laura ada di rumah makan yang sama.


“Hallo sayangnya Mommy,” Laura langsung menerima tubuh Fahri yang menghampiri  dirinya untuk memeluk. Dia mencium puncak kepala Fahri.


“Kamu sama siapa?” tanya Laura. Padahal dia tahu pasti Fahri keluar dengan kakak dan ayahnya karena ini hari Minggu.


“Sama Kakak dan Daddy,” sahut Fahri.


“Sudah pesan belum, pindah ke meja sini aja,” Laura bertanya pada Fahri.


“Daddy sedang pesan,” sahut Fahri cepat.


“Mas, kita gabung aja gimana?” tanya Laura pada August. Dia tak enak karena yang ngajak keluar makan adalah August.


“Ya enggak apa-apalah. Aku atau kamu yang ngajak mereka pindah kesini?” tanya August dengan santainya.


“Aku aja ya. Aku kesana dulu,” Laura menuntun Fahri menghampiri meja Syahrul.


“Itu saja Pak?” tanya server yang baru saja mengulang pesanan Syahrul dan Nazwa.


“Iya, itu dulu,” sahut Syahrul.


“Teh, tolong makanan ini gabung ke meja 27 aja ya,” pinta Laura.


“Mommy,” Nazwa langsung memeluk Laura dengan erat.


“Kita gabung aja ya Bang,” pinta Laura pada Syahrul sambil memegang bahu lelaki itu dengan lembut.


“Kamu sudah bilang ke server, baru kamu ngajak aku?” jawab Syahrul dengan ketus.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ini sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita keren milik teman baik yanktie ini ya.


Napennya : LIANA KIEZIA


Judul cerita : TAMU RANJANG TUAN MUDA IMPOTEN


cerita singkatnya seperti ini


Trea Desmond seorang wanita 23 tahun kembali ke tanah airnya dengan misi mencari ayah biologis kedua anak kembar nya.


Dalam pencarian itu dia menemukan fakta bahwa gigolo yang dulu ia sewa ternyata adalah bolsnya sendiri yang memiliki sifat kejam kepada musuh, lebih-lebih kepada wanita yang mengaku mengandung benihnya.


Tree terpaksa dan harus bisa membuat pria kejam itu untuk menghamili dirinya, demi sebuah plasenta bayi yang bisa menyelamatkan Xelano salah satu anak kembarnya yang sakit.


Apakah misi Tree mendapatkan anak lagi dari ayah biologis kedua buah hatinya akan tercapai?


Atau sebaliknya?


atau sebaliknya, Tree memilih mundur dan memilih opsi lain untuk menyelamatkan nyawa anaknya....